
Malam itu Rien benar-benar memilih untuk tidur bersama dengan putrinya, sedangkan Gail tinggal sendiri di kamar. Sedih, dia benar-benar terguncang dengan ucapan Rien yang meminta untuk bercerai. Sebagai anak dia pikir dia ingin mengabdikan, memberikan perhatian, cinta kasih sayang kepada wanita yang telah merawatnya sedari dia balita. Dia juga ingin menjadi suami yang baik dan mampu membahagiakan istri dan anaknya. Tapi situasi yang terjadi sekarang ini benar-benar sangat tidak memungkinkan, bukan tidak bisa pindah rumah, tapi dari awal pernikahan sudah di setujui bersama bahwa mereka akan tetap tinggal di satu atap mengingat Ayahnya sedang sakit, di tambah hanya Theo dan dia saja anaknya.
Sudah larut malam, tapi Gail benar-benar tidak bisa memejamkan matanya. Sekarang harus bagaimana? Kalau situasi semakin rumit bagiamana dia akan mencegah keinginan Rien untuk bercerai? Gail membuang nafasnya, menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan yang begitu menjelaskan betapa lelahnya dia. Sebenarnya dia juga tahu kalau Rien benar-benar lelah, lalu bagiamana dengan dirinya? Pekerjaan yang begitu banyak memiliki masalah, di tambah keluarga yang tidak pernah akur, apakah perasaan lelahnya juga tidak berarti sama sekali? Apakah dia boleh mengatakan lelah dan melampiaskannya?
Gail mengangkat jarinya, melihat cincin nikahnya yang tak pernah lepas dari jari manisnya. Dia ingat benar betapa bahagianya saat mereka menikah, saling mengikat janji untuk bahagia, selalu bersama dalam suka dan duka, tapi kenapa baru sebentar sudah ada kata pisah dari Rien?
Sementara di dalam kamar Cherel, Rien juga sama sekali tak bisa tidur karena mengingat terus bagaimana dia mengajak Gail untuk berpisah tadi. Entah perasaan yang mana yang lebih terasa, dia menyesal, tapi dia juga seperti terdorong untuk mengatakan itu oleh luka yang dia dapatkan.
Ibu mertua, adik ipar yang sangat menyebalkan, sekarang di tambah sepupu yang mencintai suaminya, kenapa semua ini seperti sengaja di arahkan padanya?
Rien tiba-tiba tersentak saat sedang melamun, obat! Obat Ayahnya yang dia pungut, dia lupa akan itu. Tapi sekarang dia juga sedang tidak ingin melihat Gail, jadi dia putuskan untuk besok saja mengambil obat yang dia simpan di dalam laci kamarnya.
Besok paginya.
Rien mengeryit melihat pembantu rumahnya memasak sembari menangis. Walaupun di bilang sok tahu, tapi Rien membatin pasti Ibu mertuanya melakukan sesuatu yang menyakiti hati pembatu rumah mereka bukan? Rien berjalan mendekati pembantu itu dan bertanya dengan pelan.
" Ada apa, kenapa kau menangis? "
__ADS_1
Pembantu itu tersentak, dia segera menyeka air matanya, lalu menggelengkan kepala karena tidak ingin atau tidak berani untuk bicara. Memang baru beberapa hari dia di sana, tapi dia paham benar kalau Rien juga sama menderitanya jadi pembantu itu memilih untuk tidak mengatakan apapun agar tidak membuat Rien merasa terbebani.
Rien menghela nafas, dia benar-benar jadi penasaran dan menuduh Ibu mertuanya semakin gencar.
" Jangan begitu, tidak apa-apa, katakan saja padaku ada apa? Walaupun aku memang bukan pemilik rumah ini, tapi siapa tahu aku bisa bantu kan? Jangan tidak enakan, bicara saja. " Rien mengakhiri ucapannya dengan senyum di bibirnya membuat pembantu rumah merasa sedikit tenang.
" Itu, semalam saya lapar sekali, Nyonya Rien. Saya mau makan nasi tidak ada, makanya saya makan roti dengan selai, Nyonya besar melihat saya makan itu, dia marah dan memaki saja. "
Rien membuang nafas kasarnya. Gila, wanita itu benar-benar seperti manusia tanpa otak. Padahal dia juga berasal dari desa, hidupnya juga tidak mewah, dia seharusnya tahu bagaimana sulit dan sakitnya menahan lapar kan? Bisa-bisanya dia marah sedangkan yang membeli roti dengan selai juga adalah Rien, yah meskipun uangnya dari Gail. Bukan hanya roti saja, tapi semua yang di beli untuk bahan pangan mereka juga menggunakan uang Gail, lalu apa haknya memaki pembantu? Ah, apakah dia masih saja berpikir uang Gail adalah uang dia juga? Tuhan, entah kapan hati manusia jahanam itu akan sedikit meilki kebaikan.
" Ya sudah, aku mewakili Ibu mertuaku untuk minta maaf ya? Mulai besok aku akan membelikan makanan yang bisa tahan dua atau tiga hari, juga snak untukmu. Nanti kalau malam kau lapar bisa makan makanan itu ya? "
" Maaf, Nyunya Rien. Sepertinya hari ini adalah hari terakhir saja bekerja, saya sudah menghubungi yayasan, mereka akan segera menyelesaikan ini. "
Rien memaksakan senyumnya, ternyata memang tidak akan ada yang bisa tahan dengan sikap Ibu mertuanya. Tapi kalau pembantu rumah resign, bagaimana dengan Rien? Dia benar-benar akan menjadi robot lagi nantinya bukan? Rien menatap pembantu itu dengan tatapan memohon.
" Tolong pikirkan lagi ya? Aku tahu Ibu mertuaku memang sangat tidak menghargai mu, tapi aku janji akan membantumu dalam mengurus rumah. "
__ADS_1
Pembantu itu menggelengkan kepalanya lagi.
" Maaf, Nyonya Rien. Bukan hanya Nyonya besar saja, tapi juga Nyonya Jenette. Saya sebelumnya juga sudah bekerja seperti ini, tapi saya tidak pernah di rendahkan sejauh ini. Saya sudah menahan ini selama satu Minggu, dan saya benar-benar tidak sanggup, Nyonya Rien. Saya tahu pekerjaan pembantu tentu untuk di suruh ini itu urusan rumah, tapi saya juga manusia seperti mereka, saya akan merasa sakit saat di bentak dan di caci maki. Maaf sekali lagi, Nyonya Rien. "
Rien terdiam, sekarang dia benar-benar tidak bisa mengatakan apapun lagi, dia tidak mungkin terus membujuk dan memohon orang lain untuk tinggal di tempat yang sama sekali tak mengahargai dirinya. Sayang sekali Rien tidak bisa pergi begitu saja karena hatinya begitu terpatri oleh Gail, di tambah Cherel yang begitu dekat dengan Ayahnya.
Rien memaksakan senyumnya, dia mengangguk dan mengusap punggung pembantu itu dengan lembut.
" Tidak perlu meminta maaf, itu bukan salahmu. Kau memilih untuk berhenti tentu saja karena kau yakin pilihan itu adalah yang tebaik untukmu, aku doakan nanti kau mendapatkan Tuan rumah yang baik. "
Pembantu itu tersenyum lalu mengangguk.
Beberapa saat kemudian.
" Kakak ipar, aku minta maaf ya tidak bisa membantu memasak? Aku hari ini akan melamar kerja di perusahaan kak Gail, jadi bangun pagi untuk bersiap. " Ucap Kanya seraya berjalan mendekati meja makan di mana semua orang sudah berkumpul. Rien tak menanggapi, dia masih banyak diam dan fokus dengan makanannya. Dia sudah lama meninggalkan Cherel di kamarnya, jadi dia tidak ingin membuang waktu.
Gail menatap Rien terus menerus, tapi sayangnya Rien sama sekali enggan menatap ke arahnya, bahkan Kanya berbicara lumayan panjang dia juga ogah menanggapinya.
__ADS_1
" Rien, jangan acuh begitu, kau tidak tuli kan? " Ujar Jenette yang langsung mendapati tatapan mata tajam dari Theo.
Bersambung.