Marriage Struggle

Marriage Struggle
Perdebatan Lagi


__ADS_3

Gail kembali ke rumah bersama juga dengan Theo. Mereka benar-benar sedang pusing karena pekerjaan mereka memiliki masalah yang cukup besar. Tapi seperti yang sudah mereka sepakati untuk tidak membawa permasalahan ini sampai di rumah, mereka akan bersikap sebaik mungkin dengan orang rumah dan jangan membuat mereka ikut merasakan pusing.


Tidak seperti Jenette yang menyambut suaminya, Rien memilih untuk tetap di dalam kamar bermain bersama dengan Cherel.


" Istrimu benar-benar luar biasa ya, Gail? Seharian sama sekali tidak keluar kamar, Ibu dan Jenette sampai harus makan makanan dari luar. " Ujar Ibu mertua begitu Gail masuk ke dalam rumah.


Gail tak mengatakan apapun, dia terlalu lelah kalau harus menjawab ucapan Ibunya, dan dia juga sedang tidak ingin memusingkan hal lain sekarang.


" Jangan di biarkan begitu saja, Gail. Seorang suami itu adalah pemimpin, mana ada pemimpin yang kalah dari istrinya sendiri? "


Theo membuang nafasnya.


" Ibu, berhentilah untuk terus menghasut. Rumah tangga kak Gail biarkan menjadi urusan kak Gail. Kalau suami harus di agungkan bak raja, istri juga berarti ratu yang harus di perlakukan seperti itu kan? Suami dan istri itu sama saja, Bu. Tidak ada bedanya jadi jangan memojokkan wanita, Ibu juga tidak ingin di perlakukan seperti itu kan? "


Ibu mertua terdiam kesal karena ucapan anak kandungnya sendiri. Bagaimana bisa anak yang dia besarkan justru menghakimi Ibunya sendiri dengan kata-kata yang menyakitkan seperti itu? Padahal Gail yang hanya anak tiri sama sekali tidak pernah membantahnya, apalagi mengatakan kalimat panjang lebar yang menyakitkan seperti itu.


" Kak, aku masuk duluan ya? "


Gail mengangguk.


" Ibu, aku masuk ke kamar dulu. "


Ibu mertua hanya menghela nafas tak menjawab dengan mimiknya yang masih terlihat kesal.

__ADS_1


Gail terdiam tak bicara melihat ponsel Rien yang tergelatak di lantai dengan keadaan yang retak. Gail membuang nafasnya, mengambil ponsel itu dan meletakkan di meja lampu tidur. Sudah jelas tidak bisa di pakai lagi, jadi taruh saja dulu, besok baru keluarkan SIM card untuk di pindahkan ke ponsel yang baru.


" Sayang, sudah maka malam? " Tanya Gail perlahan mendekati Rien. Melihat istrinya menutup mata, tertidur, maka Gail ya lagi bicara apapun lagi. Dia hanya menunduk untuk mencium kening Rien, juga Cherel lalu bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Tidak usah dan tidak perlu membahas ponsel Rien yang rusak tadi, tentu saja Gail tahu benar Rien sengaja melemparkan untuk melampiaskan perasaan kesalnya. Jika di tanya menyesal, maka tentulah Gail menyesal membentak istrinya. Tapi situasinya saat itu benar-benar tidak bisa dia kendalikan dengan mudah. Dia terbawa suasana hingga tanpa sadar melampiaskan kekesalan dari masalah pekerjaan kepada istrinya.


Begitu Gail masuk ke dalam kamar mandi, Rien membuka matanya dan duduk di sebelah putrinya yang kini sedang tertidur. Hari ini, dia benar-benar ingin menyampaikan semua uneg-uneg yang begitu memenuhi dadanya, juga otaknya. Entah akan seperti apa respon Gail nanti, tapi Rien merasa penting untuk membicarakan semua masalah ini agar nantinya selesai dan tidak perlu di menjadi berlarut-larut menjadi sumber keributan di antara mereka.


" Kau sudah bangun? " Tanya Gail begitu dia keluar dari kamar mandi dan mendapati Rien yang duduk di tempat tidur.


" Iya. " Jawab Rien singkat.


Setelah itu Rien dengan hati-hati memindahkan Cherel ke kamarnya sendiri yang bersebelahan dengannya. Sebenarnya masih tidak tega membiarkan Cherel tidur sendiri saat sedang tidak baik keadaanya, tapi dia juga tidak ingin mengganggu putrinya saat dia dan Gail bicara nanti jadi ya tidak ada pilihan lain. Selesai menidurkan Cherel di boks bayinya, Rien segera keluar dari kamar Cherel menuju ke kamarnya.


" Kau mau makan malam dulu tidak? "


Gail berbalik dan menunjukkan sepotong roti di tangannya.


Rien menggelengkan kepalanya.


" Tidak, aku tidak mau. "


" Seharian kau hanya makan roti ini saja? Tapi rotinya juga masih sisa banyak, kau jangan mengabaikan kesehatanmu. "


Rien menghela nafas.

__ADS_1


" Tubuhku cukup sehat, Gail. Tapi otakku sudah akan gila, jadi bantu aku mengurangi gejalanya. Bisakah? "


Gail menelan roti yang sedang ia kunyah, meletakkan yang ada di tangannya lalu meminum sedikit air untuk mendorongnya. Iya, dia tahu sepertinya Rien sudah bersiap untuk berbicara panjang lebar jadi akan lebih baik kalau dia biarkan dulu makana di mulutnya tertekan dengan baik.


" Yang tadi aku minta maaf ya sayang? Aku tahu tidak seharunya membentak mu, tapi aku juga sedang dalam keadaan yang kurang baik, jadi tanpa sadar melampiaskan padamu. "


" Tidak, bukan itu, masalahnya adalah setiap kali tentang Ibumu, kita memang akan bersitegang, iya kan? "


Gail terdiam, sebenarnya apakah sehari saja dia tidak bisa di biarkan tenang. Semenjak Rien berada di ruang dia puluh empat jam setiap hari Gail jadi seperti orang yang berdiri di ambang jurang. Satu jurang kawah, satu lagi jurang terjal dengan bebatuan tajam. Harus kemana, harus berjalan membawa dia hanya bisa pusing sendiri memikirkan itu.


" Kenapa kau diam saja? Jangan bilang kau juga memojokkan ku di dalam hati. "


" Aku sama sekali tidak sedang melakukan itu. " Jawab Gail dengan jujur.


" Gail, bisakah kau memberitahu Ibumu untuk jangan terlalu menekankan dan menyuruhku ini dan itu? Aku lelah sekali, aku juga memiliki bayi, aku benar-benar sangat kelelahan dan hampir tidak bisa tenang menjalani hidup. "


" Rien, sudahlah. Aku janji akan carikan pembantu untuk membantu, tapi tolonglah bersabar sedikit, kalau kau mengeluh seperti ini terus aku juga bisa kehabisan akal nantinya. "


" Kau bukan kehabisan akal, Gail. Kau, tidak punya akal saat menghadapi Ibumu. Kau selalu mengutamakan Ibumu, aku seperti tidak ada tempat kecuali setelah Ibumu. Keinginanku, keinginan Ibumu selalu bertolak belakang, tapi siapa yang akan kau dahulukan? Ibumu kan? Aku ini istrimu, Gail. Kalau kau sakit, cuma aku yang akan merawatmu, sedangkan Ibumu? Dimana dia saat kau sakit? " Ucap Rien menahan tangisnya.


" Rien, "


" Jangan bicara apapun, yang akan aku dengar pasti hanyalah kalimat yang menjurus untuk memintaku lebih bersabar kan? Benar-benar mengecewakan sekali, padahal dulu aku pikir aku akan bahagia dengan menikahi pria yang menyayangi Ibunya, karena dengan begitu juga akan menyayangi istrinya lebih dari itu. Ternyata, dugaan ku benar-benar salah. Kalau kau begitu menyayangi Ibumu, mencintai Ibumu sampai seperti itu, kenapa tidak jadikan saja Ibumu itu sebagai istrimu? "

__ADS_1


" Rien! " Gail melotot marah menatap Rien yang kini juga menatapnya dengan wajah menantang.


Bersambung.


__ADS_2