
Beberapa detik lalu, Rien tak sengaja melihat tangan wanita itu, dan satu jarinya ternyata tidak ada. Dia teringat ucapan Ibu mertuanya yang telah mengirimkan jari kepada Ayah mertua untuk mengancamnya selama ini dan membuat Ayah mertua dengan rela meminum obat pelumpuh saraf, bahkan rela di anggap gila untuk keselamatan wanita, si pemilik jari itu.
Dengan segenap kekuatan dan keberanian Rien meraih ponselnya, menghubungi Marco lagi, tujuannya adalah menceritakan perihal jari yang hilang satu dari wanita itu. Marco juga cepat menangapi, dan dia sengaja tidak begitu memfokuskan kepada wajah wanita itu karena dia ingin Rien melihat sendiri satu petunjuk yang begitu jelas untuk Rien lihat.
Setelah tenang, Rien benar-benar memutuskan untuk tetap maju sebanyak apa rintangan yang akan dia hadapi. Marco yang juga sudah mengatakan kesiapannya untuk membantu membuat Rien merasa tenang.
Hari mulai gelap, tentu saja Rien harus segera kembali ke rumah karena sebentar lagi Gail juga pasti sudah akan pulang ke rumah.
Begitu sampai di rumah, Rien lagi-lagi hanya bisa tersenyum dengan tatapan heran karena ternyata Ibu mertuanya kembali membawa Greta ke rumah, dan mereka benar-benar mengobrol dengan sangat seru. Jenette juga berada di sana, dia tak banyak bicara seperti beberapa hari belakangan setelah meninggalnya calon anaknya. Tapi tatapan matanya yang begitu membenci Rien sama sekali tak bisa Rien elak. Entah apa salahnya, tapi sepertinya Rien memang selalu salah di mata Jenette, tapi ya mau bagaimana lagi? Rien sama sekali tidak ada hubungannya dengan kematian anak dari Jenette bukan?
" Hai, Cherel? " Sapa Greta segera bangkit untuk menghampiri Cherel yang berada di gendongan Rien, berniat untuk mengusap pipinya. Rien mencegah tangan Greta sebelum sampai ke kulit putrinya, menatap dingin dan menjauhkan tangan Greta dari putrinya. Sebentar tatapan mereka berdua bertemu, dan hal itu membuat Greta tersenyum dengan tatapan tidak percaya. Padahal niatnya hanya ingin menyapa Cherel dengan ramah karena bagaimanapun dia cukup menyukai Cherel yang memiliki wajah lucu.
" Tidak masalah jika kau hanya ingin menyapa, tapi jangan sembarangan menyentuh karena aku tidak yakin apakah tanganmu bersih atau tidak. " Ujar Rien membuat Greta hanya bisa membuang nafasnya dengan pasrah. Walaupun begitu, Greta juga bukan orang yang akan menyerah begitu saja.
Greta memundurkan langkahnya, menjauh dari Cherel dan juga Rien dengan tatapan penuh maksud yang entah apa Rien sama sekali tidak bisa mengartikannya. Greta tersenyum, dia terlihat ingin bicara hingga keluarlah satu kalimat yang membuat Rien sedikit terganggu.
" Dua kali aku berada di rumah ini, kenapa kau selalu pulang malam, Rien? Aku penasaran apa yang kau lakukan seharian di luar. "
Rien menghela nafasnya, tersenyum dengan tatapan mengejek yang dia arahkan kepada Greta.
__ADS_1
" Apapun yang aku lakukan, bukankah lebih baik dari pada apa yang kau lakukan? " Ucap Rien.
" Kau pasti sibuk bermain dengan selingkuhan mu, bukan? Wanita sepertimu benar-benar hebat membuat orang tercengang. " Ucap Jenette dengan tatapan dingin yang begitu jelas Rien bisa rasakan. Ah, sekarang Rien benar-benar menyadari jika kekesalan Jenette bukanlah karena baginya meninggal, tapi karena dia masih beranggapan bahwa Rien memiliki hubungan tidak biasa dengan Theo. Sangat tidak masuk akal, tapi Rien begitu malas menanggapi nya.
Greta terlihat terkejut, dan jelas dia hanya berpura-pura saja terkejut di hadapan Rien.
" Rien, kau tidak benar-benar melakukan itu bukan? " Tanya Greta.
Rien tadinya ingin menjawab dengan sinis karena merasa urusan itu tentu saja bukan urusan Greta, tapi Rien tak jadi mengatakannya karena merasakan tangan Gail merangkul pundaknya.
" Ayo masuk ke kamar. " Ajak Gail membuat Rien tak ada pilihan lain jadi dia mengikuti Gail untuk masuk ke dalam kamar.
" Tidak. "
Gail membuang nafasnya, lalu kembali menatap Rien dengan tegas.
" Apakah kau masih akan menemuinya lain hari? " Tanya Gail.
Rien mengiyakan pertanyaan itu, dan Gail jadi semakin terlihat tidak senang. Iya, tentu saja tidak akan senang karena bagiamana pun Gail memang adalah suaminya, seorang suami tentu akan merasa cemburu juga keberatan jika istrinya menemui pria lain tidak cukup sekali dua kali saja.
__ADS_1
" Berhentilah menemui dia, kau juga harus menjaga nama baik mu, walaupun kau memang tidak memperdulikan pendapat orang lain. "
Rien menggigit bibir bawahnya, dia merebahkan tubuh Cherel yang belum lama tertidur di kasur lalu kembali menatap Gail dengan tatapan yang gak kalah dingin.
" Tidak akan. "
Gail mengangguk dengan mimik kecewa, sepertinya dia sudah tidak ingin mengatakan apapun lagi, Rien juga terlihat tidak senang saat membahas itu jadi Gail memilih untuk mandi saja di banding akan berujung bertengkar dengan Rien.
Setelah selesai mandi, Gail langsung berpakaian dengan pakaian yang sudah di siapkan oleh Rien, lalu di susul Rien mandi. Melihat ponsel Rien mendapatkan notifikasi pesan, Gail langsung mengambil ponsel Rien karena penasaran siapa yang mengirimkan pesan kepada Rien, dan rupanya dia adalah Marco, dia mengirimkan pesan yaitu jam mereka akan bertemu besok karena Marco juga akan memiliki banyak kesibukan.
Rasanya Gail tidak ingin berpikir macam-macam, tapi kenapa dia terus tidak tenang? Gail menahan dirinya untuk tidak bertanya sampai Rien sendiri yang memberitahu akan hal itu, dan sampailah mereka di meja makan. Hari ini Rien tidak masak, jadi Theo memesan makanan dari restauran langganan mereka.
" Gail, udangnya pedas, kau makan ikan bakar ini saja bagiamana? " Tanya Greta yang langsung mendapatkan tatapan tidak suka dari Rien, begitu juga dengan Theo yang sudah kembali ke rumah setelah dua hari pergi ke rumah mendiang neneknya.
" Gail tidak menyukai udang, tapi dia juga tidak akan menyukai ikan. " Ucap Rien lalu mengambilkan ayam bakar tanpa nasi kepada Gail. Iya, seperti biasanya, Gail memang tidak akan makan nasi saat malam hari. Gail sebenarnya masih kesal dengan Rien, dia seolah ingin menolak ayam yang di ambilkan Rien dan mengatakan dia suka ikan untuk membalas Rien, tapi dia juga tidak mampu menyakiti istrinya sehingga dia memilih untuk diam saja tanpa banyak bicara.
" Kemarin Kanya, sekarang ada lagi? Benar-benar kreatif. Hentikan itu, Ibu. '' Ujar Theo membuat Jenette lagi-lagi merasa marah, ternyata Theo benar-benar tidak memperdulikan dirinya dan terus membela Rien. Semenjak bayi mereka meninggal, Theo sama sekali tak pernah bicara apalagi menyentuhnya, membuat Jenette seolah terbuang begitu saja dari hati Theo.
Bersambung.
__ADS_1