
" Tidak, aku tidak akan berhenti sekeras apapun kau menolak ku. Entah kau akan menuduh ambisi, obsesi, atau apapun maka lakukan saja dan anggap saja seperti itu. Aku boleh kehilangan yang lain, tapi tidak boleh kehilangan mu. Kalau kau meninggalkan ku, artinya kau mendorongku untuk kembali ke rumah itu, kembali menjadi manusia tanpa keinginan. " Ucap Jefrey dengan tatapan memohon kepada Jenette.
Melihat Jefrey yang seperti itu, Jenette benar-benar di buat tidak bisa berkata-kata lagi. Ini adalah kali pertama bagi Jenette di anggap begitu penting oleh pria, dia merasa Jefrey seperti tidak bisa hidup tanpa dirinya, matanya yang seolah terus mengatakan untuk jangan meninggalkannya, tangannya yang hangat selalu menggenggam tangan Jenette, rasanya Jenette seperti melihat dirinya saat masih menjadi istrinya Theo.
Saat itu Theo Benar-benar sangat dingin, selama pernikahan juga harus Jenette yang memulia untuk melakukan hubungan suami istri, itu pun sering kali Jenette di tolak dengan alasan yang berbeda-beda. Mungkin Theo merasa muak saat mendapatkan cinta yang begitu berlebihan darinya, tapi dia justru merasa begitu di hargai dan merasa begitu penting bagi Jefrey.
Jenette tersenyum saat Jefrey mengeratkan genggaman tangan di antara mereka.
" Jef, apa kau tahu kalau orang tuamu datang padaku untuk mengancam ku? Mereka bilang akan menyakiti keluargaku dengan menghancurkan bisnis mereka, apakah kau bisa menjamin itu tidak akan terjadi? " Tanya Jenette.
Jefrey mengangguk dengan sungguh-sungguh.
" Aku sudah mencoba melemahkan sistem relasi keluarga ku. Aku tahu sebenarnya ini adalah hal yang di haramkan oleh keluargaku, bisa juga di sebut Pengkhianatan. Tapi aku sudah melakukan hal itu secara perlahan selama beberapa tahun terakhir ini. Aku ingin mereka sedikit melemah dan berhenti menekan orang yang tidak sepatutnya mereka perlakukan seperti itu. Jika memang kau masih tidak percaya, cukup lihat saja, aku akan menunjukkan padamu bahwa aku layak untuk menjadi pria mu. "
Jenette mengeratkan genggaman tangannya. Tidak, dia sudah harus berhenti dari kebimbangannya, dia sudah harus memberikan keputusan kepada pria yang begitu terlihat mencintainya.
" Jadi, langkah apa yang akan kau ambil untuk hubungan kita? "
__ADS_1
Jeffrey terlihat semangat, dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan wajah bahagia melalui senyum indah yang terbit di bibirnya.
" Langkah apa tentu saja aku ingin menikah dengan mu, bahagia bersama dengan mu meski aku juga tahu apapun hubungannya, perselisihan, pertengkaran pasti akan terjadi. Tapi aku yakin kepada diriku sendiri aku akan memegang janjiku, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku di setiap harinya, dan tidak memikirkan perpisahan sebesar apapun masalah yang kita hadapi. "
Jenette menghela nafas dan tersenyum sembari mengangguk.
Benar, tidak ada perjalanan cinta yang begitu mulus, ada perjuangan dan pengorbanan tersendiri dalam cinta. Pria di hadapannya sudah memperjuangkan banyak hal, mencintai dengan begitu banyak bahkan tidak menuntut untuk mendapatkan balasan perasaan yang sama. Dia selalu mengatakan akan berusaha membuat Jenette jatuh cinta, sederhana tapi benar-benar terasa begitu manis.
Kali ini dia harus berjuang bersama Jefrey untuk mengalahkan ego orang tua Jefrey, dia hanya perlu mengeratkan genggaman setiap kali dia merasa goyah karena dia yakin benar Jeffrey tidak akan melepaskan tangannya, akan bersama dengannya, akan membuat dirinya merasa tidak seorang diri di manapun mereka berada.
Jefrey tersenyum lalu mengangguk dengan semangat.
Beberapa Minggu kemudian.
Jenette dan juga Jefrey kini sudah berada di negara asal Jenette, dan mereka tengah berada di makan Khai.
" Lama tidak berjumpa, sayang. Maaf karena di hari ulang tahun mu Ibu tidak datang untuk melihat mu. Saat itu Ibu benar-benar sedang sangat hancur karena terus teringat masa sedih, menyakitkan karena kehilangan mu, karena kenyataan yang begitu membuat Ibu begitu membenci diri sendiri. Maafkan Ibu yang egois sehingga kau harus berakhir di tempat ini, tidak bisa memeluk Ibu dan menghabiskan waktu bersama Ibu. Tapi percayalah sayang, suatu hari nanti Ibu akan datang untuk menemui mu, kita bisa menghabiskan waktu bersama. " Jenette menyeka air matanya yang jatuh tak bisa dia tahan. Jefrey yang berada di sana mencoba menenangkan dengan mengusap punggung Jenette. Dia sudah tahu cerita tentang anak kandung Jenette yang lahir meninggal karena saat itu Jenette benar-benar sangat egois. Jefrey juga sudah tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Jenette yang sangat tidak baik. Jenette tentu saja salah di matanya, tapi yang lebih salah lagi adalah, mantan suami Jenette yang terus menyalahkan dan bersiap dingin padahal perasaan sedih yang dia rasakan sama sekali tidak sebanding dengan kesedihan yang di rasakan oleh Jenette.
__ADS_1
Merasa bersalah hingga membenci dirinya sendiri, kehilangan putranya, perasaan tertekan karena suaminya, di tambah lagi kenyataan hidup yang begitu pahit untuknya.
" Semua akan baik-baik saja, Khai pasti tidak suka melihat mu sedih, aku tahu dia pasti anak yang baik karena dia adalah anak mu. " Ucap Jefrey lalu mengusap kepala Jenette dengan lembut.
Jenette menyeka air matanya, mengecup nisan putranya dan mengusapnya perlahan.
" Sayang, Ayahmu pasti sering datang kesini kan? Kau pasti bahagia karena Ayahmu memang sangat menyayangimu kan? Tapi sayang, maaf karena Ibu tidak bisa terus bersama Ayah, ada banyak hal yang membuat kita lebih baik berpisah. Tapi kau jangan marah, kami tetap menyayangimu bagaimanapun kondisi kami. Paman ini adalah teman Ibu, kami memilki janji untu hidup bersama, kaki akan menikah suatu hari nanti. Ibu harap kau merestui hubungan kami, dan tolong doakan Ibu untuk bisa melanjutkan hidup dengan baik ya? "
Jefrey tersenyum lembut kepada Jenette lalu menatap pusara Khai.
Hai Khai? Ini adalah pertama kalinya paman datang menemuimu, sejujurnya paman sangat gugup karena takut kau tidak akan menyukai paman. Tapi, bisakah kau doakan kami berdua untuk bisa segera menikah? Tolong lihat dan jadilah pengawas saat paman membahagiakan Ibumu.
" Jef, apakah kau tidak takut aku akan melakukan kesalahan yang sama saat kita menikah? Sejujurnya yang membuatku trauma adalah, aku takut aku akan mencelakai bayiku lagi, aku takut itu akan terjadi lagi, aku takut aku menjadi pembunuh untuk yang kedua kalinya. " Jenette tersenyum Kelu, matanya yang terlihat lelah dan takut membuat Jefrey merasa tak tega.
" Ada aku, aku tentu saja tidak akan membiarkan kau melakukan hal itu. Aku tidak akan memaksa untuk kau hamil, entah mau hamil atau tidak aku juga tidak terlalu memikirkannya. Aku menginginkan rumah tangga yang bahagia untukmu, jadi lakukan saja apa yang membuatmu bahagia. "
Bersambung.
__ADS_1