Marriage Struggle

Marriage Struggle
Perasaan Bersalah Yang Tidak Perlu


__ADS_3

Theo memutuskan untuk menyudahi pembicaraan mereka berdua karena semakin banyak Ibunya berbicara, Theo seperti merasa dadanya penuh, sesak dan sakit. Dia tentu saja belum bisa menerima kenyataan bahwa Ibunya benar segila itu dalam membalas dendam, tapi mau mengelak sejuta kali pun tidak akan mengubah kebenaran yang terjadi bukan?


Sekarang entah harus bagaimana menghadapi Gail, dia malu juga ikut merasa bersalah, tapi kalau dia menghindar bukankah itu hal yah tidak benar? Memang dia sama sekali tidak terlibat dalam kejahatan Ibunya, tapi dia juga tidak bisa berpura-pura tidak mengenal Ibunya kan?


Begitu sampai di teras rumah, Theo terdiam karena teringat benar bagaimana rumah itu dulu memberikan begitu banyak kebahagiaan. Dia bermain bersama Gail, Ayah dan Ibunya, mereka menghabiskan waktu bersama dengan kebahagiaan yang begitu di rasa olehnya. Tapi siapa sangka kalau kebahagiaan di wajah Ibunya adalah palsu? Padahal selama ini dia sudah berusaha keras untuk mengerti dan memahami keadaan kenapa Ibunya lebih menyayangi Gail hingga pada masanya dia merelakan kasih Ibunya yang berat sebelah, dan menjadi kesayangan Ayahnya. Dia sudah terbiasa, dia sudah tidak merasa iri lagi, dia sudah bisa menyayangi Gail tanpa batasan apapun. Tapi kenapa sekarang batasan itu kembali ada dengan masalah baru?


Sejenak Theo menghela nafas, ragu-ragu apakah dia berhak masuk lagi ke rumah itu atau tidak. Dia ingin masuk melihat keadaan Ayahnya, juga Gail, tapi dia juga ragu dan takut tidak bisa mengahadapi mereka semua.


Theo mengepalkan tangannya, berbalik badan berniat meninggalkan rumah itu, sementara waktu sembari berpikir apa yang harus dia lakukan kedepannya. Tapi niatnya tak bisa langsung dia lakukan karena saat berbalik dia melihat Gail berdiri tepat di hadapannya.


" Apa yang sedang kau pikirkan, dan apa yang akan kau lakukan? " Gail bertanya seolah dia dapat memahami benar apa yang sedang di pikirkan Theo saat itu.


Theo terdiam sebentar karena dia bingung dia harus mengatakan apa, di lain sisi dia ingin menghindari Gail dulu, tapi di sisi lain dia juga tidak sanggup menjalankan langkah kakinya.


" Kak, aku butuh waktu untuk- "


" Untuk apa? Kau ingin kabur? "

__ADS_1


Theo menatap Gail dengan matanya yang mukai memerah. Dia tahu benar kalau dia terlalu pengecut, dia akan selalu menghindar seperti ini, bahkan saat anaknya meninggal dia juga terus menghindar, dan sekarang dia ingin melakukannya lagi. Tapi mau bagaimana lagi? Semua ini begitu sulit untuk dia terima dan dia cerna meski perlahan. Anaknya, Ibunya, bukankah ini adalah pukulan yang sangat menyakitkan? Sekuat apapun manusia apakah dia tidak akan goyah jika merasakan itu?


Pak!


Gail menampar pipi Theo untuk membuatnya sadar, dan Theo sama sekali tak melawan. Dia kini menunduk menahan tangisnya yang ingin pecah. Hancur, segalanya benar-benar menghancurkan hatinya.


Melihat Theo yang semakin menunduk menyalahkan dirinya sendiri, menyalahkan keadaan, mengalahkan apa yang terjadi membuat Gail kembali memukul pipi Theo. Theo terus terdiam, dia terus menahan tangisnya hingga pukulan ke empat dia sudah menyerah. Dia memeluk Gail dan menangis memohon maaf atas apa yang di lakukan Ibunya meski tanpa dia mengatakan apapun selain suara tangis.


Gail menepuk punggung Theo untuk membuatnya kuat juga sadar bahwa ini terjadi juga bukan karena keinginan Theo. Dia tahu Theo juga sama menderitanya seperti dirinya, dia tahu selama ini Theo hidup dengan usaha untuk mengalahkan rasa iri dan egois. Bagaimanapun mereka adalah saudara, tidak ada yang akan bisa mengelak itu, ikatan darah yang mengikat mereka tentu saja tidak akan bisa di putus dengan cara apapun apalagi semua ini terjadi juga bukan karena keinginan mereka.


" Jika kau ingin menebus perbuatan Ibu mu, bukankah akan lebih baik jika kau merawat Ayah kita dengan baik? Dia pasti akan sangat sedih kalau kau pergi, bagiamanapun kau adalah anak kesayangan Ayah jadi akan berat untuknya kehilangan mu. Kita sama-sama tahu bagiamana Ayah bukan? Dia tidak akan membenci mu hanya karena kau di lahirkan oleh Ibu mu, dia akan tetap menyayangi mu apapun yang terjadi, percayalah padaku. "


" Ayah di mana kak? " Tanya Theo setelah cukup tenang, dan kini mereka juga sudah berhenti berpelukan.


" Sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit, tenang saja di sana aman dan tidak akan seperti di sinetron yang akan ada banyak orang menyelundup untuk berbuat jahat. "


Theo tersenyum dan mengangguk paham.

__ADS_1


" Dimana Jenette? " Tanya Gail yang tidak melihat Jenette sama sekali semenjak masalah Ibu mertua.


Theo membuang nafasnya.


" Dia pergi dari rumah, menyerahkan cincin pernikahan padaku. "


Gail mengeryit bingung, padahal semua orang tahu bagiamana Jenette mencintai Theo selama ini hingga membuat Rien selalu menjadi sasaran kecurigaan Jenette karena sangking takutnya kehilangan Theo. Bisa meninggalkan Theo, tentu saja ada masalah yang cukup besar terjadi di antara mereka bukan? Karena sebelumnya Gail merasa mustahil untuk Jenette meninggalkan Theo.


" Apa ada masalah di antara kalian? " Tanya Gail.


Theo kembali menghela nafasnya.


" Masalah kami hanyalah, kami tidak cocok satu sama lain. " Ucap Theo yang enggan menceritakan detailnya tentang Jenette. Sebenarnya saat menceritakan tentang Jenette dia teringat benar bagaimana Jenette menangis dan semua yang di katakan Jenette juga masih jelas dia ingat, tapi sekarang dia sedang tidak ingin memikirkan hal itu, masalah di rumah itu sekarang sedang menggunung jadi dia pikir lebih baik memikirkan hal lain terutama tengah Ayahnya.


" Lalu, di mana istrimu? " Tanya Theo.


Gail memaksakan senyumnya. Pertanyaan Theo barusan benar-benar membuat dada Gail terasa begitu nyeri. Dia berpikir bahwa, Jenette yang begitu mencintai Theo sampai seperti orang tidak waras saja bisa meninggalkan Theo, lalu bagiamana Rien? Sejak beberapa waktu terakhir ini dia selalu ingin menyerah dengan pernikahan mereka. Dia bisa melihat dengan jelas betapa lelahnya Rien dengan semua yang dia rasakan, dia bisa melihat dan menyadari benar setelah Rien mengatakan ingin tinggal di rumah orang tuanya dan meminta mereka memikirkan kembali langkah masa depan untuk pernikahan mereka. Jika saja boleh jujur, Gail merasakan adanya keputusan yang pahit akan dia dapatkan dari Rien. Tapi dia akan tetap berusaha meyakinkan, membuktikan bahwa dia akan berubah jauh lebih baik, jauh lebih tegas, jauh lebih jujur, jauh dari ketidakberdayaan yang sering Gail rasakan sebelumnya.

__ADS_1


" Dia sedang ingin tenang, beberapa waktu ini dia sudah sangat lelah dan tertekan, jadi dia memutuskan untuk sementara tinggal di rumah orang tuanya. "


Bersambung.


__ADS_2