Marriage Struggle

Marriage Struggle
Keputusan Dan Kerelaan


__ADS_3

Theo membuang nafasnya, lalu tersenyum seolah tak tahu harus bagiamana menghadapi Greta yang seperti terus menekan untuk memiliki kesempatan bersama dengan Kakaknya. Lewat kerja sama yang cukup menguntungkan, dan memulai pendekatan dengan membocorkan niat buruk Ibu mertua sehingga bisa mengambil hati Gail.


" Tenangkan dirimu, Greta. Kau semakin memperlihatkan seperti apa tujuan mu. Aku hanya mengingatkan satu hal padamu bahwa, kakak ku tidak pernah memikirkan untuk mencintai wanita lain, aku juga yakin benar bahwa dia tidak akan berpikir dua kali untuk mengakhiri hubungan kerja sama kita jika tujuan mu adalah untuk itu. Meskipun kakak ku bukan orang yang sangat tegas, tapi dalam hal mencintai, aku pastikan kalau bahkan tidak akan ada wanita lain di hati kakak ku selain istrinya sendiri.


Greta tak menanggapi ucapan Theo barusan dengan kata-kata, dia cukup sadar bahwa dia hanya bisa bersabar dan berdoa siapa tahu keberuntungan itu benar-benar akan ada. Dia tahu kalau Gail memang tipe setia meski hubungan mereka tidak mudah, tapi tetap saja Greta masih berharap lebih agar bisa memiliki keberuntungan itu. Gail bukan hanya sekedar cinta pertama, tapi Gail adalah pria yang paling baik yang pernah dia kenal. Andai saja dulu dia tidak memutuskan untuk pergi ke luar negeri demi melanjutkan karirnya, tentu saja dia sudah menjadi istrinya Gail.


Beberapa tahun lalu Greta juga sudah menikah, hanya saja rumah tangganya sangat jauh dari kata harmonis karena cara berpikir mereka yang selalu saja bertolak belakang, di tambah lagi semenjak Greta mengalami keguguran, mereka jadi sama sekali tak memiliki minat untuk bersama dan berpisah setelah memikirkan matang-matang.


Setelah kehidupan rumah tangga yang begitu tak harmonis, Greta jadi sadar benar bahwa tidak akan mungkin rumah tangganya hancur kalau dia menikah dengan Gail yang sangat baik, dan selalu memberikan kasih sayang tulus sepanjang waktu. Apalagi saat Greta tahu bahwa Gail sangat mencintai istrinya, bahkan saat sedang bekerja dan survei tempat, di mana pun Gail berada, dia akan terus mengungkit nama istrinya. Greta iri, Greta merasa jika dia sudah kehilangan orang yang paling tulus dan paling pantas untuk hatinya sehingga melakukan segala cara untuk mendapatkan sedikit saja perhatian dari Gail.


Beberapa saat kemudian.


Gail kembali ke tempat di mana Greta dan Theo berada, dan saat Theo menyapa, Greta benar-benar terlihat senang. Tapi setelah dia menoleh dia hanya bisa terdiam menahan kekecewaan karena yang dia lihat bukan hanya Gail saja, tapi Rien juga bersama dengannya. Cherel ada di gendongan Gail, dan satu tangan Gail dia gunakan untuk menggenggam tangan Rien. Wajah Gail yang terlihat sangat bahagia jelas bisa membuat Greta, dan juga Theo tahu kalau hubungan mereka berdua sudah membaik, dan kedepannya mereka akan kembali untuk bersama.


Theo tersenyum bahagia, dia benar-benar ingin kakaknya bahagia, dan rumah tangganya dalam keadaan baik-baik saja setelah badai yang cukup besar menghancurkan hati mereka. Berbeda dari Theo, Greta benar-benar terlihat kecewa sekali, dia bahkan kehilangan senyum bahagia yang beberapa detik lalu terlihat di wajahnya.


" Theo, Greta, dan Silvia, maaf aku tidak bisa menemani makan siang kali ini. Ada hal yang perlu aku lakukan dengan istri dan anakku, jadi maaf aku akan pergi sekarang juga. " Ucap Gail yang dengan cepat mendapatkan anggukan setuju dari Theo, dan Greta juga memilih untuk diam tak mengatakan apapun.


Setelah mendapatkan persetujuan, dengan segera Gak membawa istri dan anaknya untuk pergi ke tempat yang mereka ingin tuju.

__ADS_1


Theo memaksakan senyumnya, sejujurnya dia ingin bertanya di mana Jenette sekarang? Tapi sepertinya itu tidak perlu karena dia juga tidak ingin banyak bicara sebelum dia bertemu langsung dengan Jenette dan mmebuacrakan apa yang seharusnya mereka bicarakan mengenai keputusan Jenette yang tadi sempat dia katakan.


" Kak Theo, bagiamana kalau setelah ini kita menghadiri acara amal? " Ajak Silvia.


Theo membuang nafasnya, menggelengkan kepala dengan sopan dan tersenyum.


" Maaf, aku ada acara lain setelah ini. "


Begitu makan siang bersama Greta dan Silvia selesai, Theo sebenarnya ingin segera menuju kantor dan menyelesaikan pekerjaan yang memang belum selesai. Tapi begitu mendapatkan taksi dia jadi sebentar berpikir bagaimana kalau dia menemui Jenette dulu untuk bicara? Dia mencoba menghubungi Jenette sebelum taksi jauh dari tempat dia makan siang bersama Greta dan Silvia tadi. Tapi sayang sekali karena nomor telepon Jenette sudah tidak bisa di hubungi lagi. Ingat kalau Rien baru saja bertemu dengan jenette, dengan segera Theo menghubungi Rien dan untunglah Rien menerima panggilan telepon dari Theo.


Tanpa bosa basi Theo langsung meminta nomor telepon Jenette, dan Rien juga langsung mengirimkannya karena Rien paham benar akan ada banyak hal yang mesti mereka bicarakan.


Setelah mendapatkan nomor telepon Jenette yang baru, Theo langsung menghubungi Jenette. Panggilan pertama memang tidak mendapatkan jawaban. Yah, mungkin karena Jenette hafal benar nomor telepon Theo sehingga tidak ingin menerima panggilan suara dari Theo. Tapi untunglah saat panggilan ke tiga Jenette menjawab telepon darinya. Jangan hanya kenapa Theo bisa dengan mudahnya memutuskan untuk bicara dengan Jenette, itu karena ucapan Jenette di restauran tadi cukup membuatnya tak fokus dan terus memikirkan ucapan Jenette itu.


" Jenette, bisa kita bertemu? Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan secara langsung dengan mu. " Ucap Theo.


Jika masih bisa kita bicarakan di telepon, bagaimana kalau bicara saja sekarang di telepon?


Theo membuang nafasnya pelan, sepertinya Jenette mulai berubah, dia seperti telah kehilangan setelah cintanya kepada Theo. Rasanya aneh karena ini baru pertama kali Jenette bersikap dingin, dan anehnya perasaan tidak nyaman itu benar-benar membuatnya tidak tenang.

__ADS_1


" Akan lebih mudah jika bertemu dan bicara secara langsung. "


Jenette terdiam sebentar, terdengar suara helaan nafas dan tak lama dari itu Jenette menyetujui untuk mereka bertemu.


Beberapa saat kemudian.


Jenette dan juga Theo bertemu di sebuah restauran yang tak jauh dari tempat mereka bertemu sebelumnya saat bersama dengan Gail dan juga Rien.


" Jadi kau sudah mengajukan permohonan cerainya? " Tanya Theo.


Jenette mengangguk tanpa ekspresi.


" Iya, aku sudah menandatangani juga jadi hanya tinggal tanda tangan mu saja. " Jawab Jenette.


Theo terdiam sebentar.


" Kau benar-benar yakin dengan keputusan ini? Maksud ku adalah, aku tidak akan bisa menerima mu lagi apapun yang kau katakan dan kau lakukan, jadi pastikan kau sudah benar-benar serius akan melakukannya. " Ujar Theo yang begitu berbalik dengan apa yang benar dia rasakan.


Jenette tersenyum lalu mengangguk.

__ADS_1


" Keputusan ini memang berat, tapi ini adalah yang terbaik jadi aku akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. " Ujar Jenette.


Bersambung.


__ADS_2