
Rien terdiam memandangi Cherel yang kini tengah meminum Asi di pangkuannya. Begitu dilema, begitu tertekan setelah mengetahui kebenaran yang amat mengejutkan, menakutkan, juga membuatnya gelisah. Sekarang harus bagiamana? Padahal beberapa saat lalu dia berharap mengetahui lebih banyak informasi untuk mengenali situasi yang sebenarnya agar dia bisa bertindak tepat. Betapa naifnya dia saat itu, karena pada kenyataannya setelah mengetahui kenyataan yang mungkin baru beberapa persen saja dia sudah merasa seperti kehilangan nyawa.
Rien menggigit bibir bawahnya, dia benar-benar ingin menangis ketakutan, bahkan tubuhnya juga masih terus gemetar hingga saat ini. Ingin lari saja untuk menyelamatkan diri sendiri, juga putrinya, masa bodoh saja apa yang akan terjadi asalkan mereka berdua selamat. Tapi, bagaimana dengan Ayah mertuanya? Bagaimana dengan Gail yang pasti sudah banyak di bohongi selama ini? Dia juga takut kalau Gail akan celaka seperti Ibunya, karena mengingat bagiamana suara Ibu mertua seperti begitu membenci Ibunya Gail, bukan tidak mungkin kalau selama ini dia juga membenci Gail secara diam-diam.
Suara ketukan pintu terdengar, dan akhirnya Rien bisa berhenti memikirkan hal itu sebentar meksipun tidak dapat di bohongi kalau untuk membuka pintu saja dia merasa was-was. Perlahan Rien meletakkan tubuh Cherel di tempat tidurnya, lalu dia beranjak untuk membukakan pintu sembari memegangi dadanya yang begitu berdegup kencang.
" Kakak ipar, Bibi memintaku untuk mengambil kunci mobil. " Ucap Kanya begitu Rien membuka pintu kamarnya, sial! Dia benar-benar menjadi mudah takut dan berdebar karena memikirkan Ibu mertua.
Rien tak menjawab, tapi dia juga langsung berjalan menuju laci meja yang biasa Gail meletakkan barang-barangnya, lalu menyerahkan kunci mobil itu kepada Kanya.
" Oh iya kak, nanti kalau kak Gail pulang, tolong katakan padanya aku akan belikan makan malam di tempat biasa, jadi tidak usah makan di rumah. "
Rien tersenyum miring, betapa tidak tahu malunya wanita itu, batin Rien.
" Kenapa aku harus memberitahu suamiku? "
Kanya terdiam sebentar lalu tersenyum.
" Kemarin malam kita menonton pertandingan sepak bola, bahkan sampai larut. Karena tim yang aku dukung kalah, jadi aku akan belikan makan malam sesuai perjanjian. Malam nanti juga ada pertandingan bola, kalau kakak Ipar mau ikut bergabung tentu saja boleh. "
__ADS_1
Rien terdiam, bukan marah, tapi dia merasa jijik dengan wanita yang ada di hadapannya itu. Kenapa dia selalu sengaja mempermainkan emosi Rien? Bukankah dia terlalu jelas menunjukan bagaimana perasaannya kepada Gail? Rien membeku, sekarang dia benar-benar mencurigai Kanya, dia curiga kalau Kanya juga berada di pihak Ibu mertua, dan segala tingkah polahnya adalah bagian dari rencananya. Gila, Rien benar-benar kacau dan tidak bisa berpikir dengan tenang sekarang.
" Oh begitu ya? Kalau begitu terimakasih karena sudah menemani suamiku menonton bola. Tapi karena sekarang ada aku di rumah, aku yakin suamiku tidak akan memiliki niat untuk menonton bola. Toh, di bandingkan hanya menonton bola, bersama istri adalah hal lebih menarik bukan? "
Ibu mertua berjalan mendekat karena Kanya di rasa lama sekali hanya mengambil kunci mobil saja. Tapi dia benar-benar cukup tertarik dengan perdebatan atau obrolan yang begitu sengit.
" Siapa yang bilang kalau bersamamu adalah hal yang menyenangkan? Gail hanya belum terbuka saja jadi kau menganggap dia sudah sangat puas denganmu. Tapi, kau tidak akan tahu bagaimana sebenarnya hati dan otak suamimu bekerja. Kau hanya bisa menebak, degan percaya dirinya menganggap suamimu akan lebih nyaman dan betah bersamamu? Kau konyol. " Ujar Ibu mertua membuat Rien menahan segala bantahannya di ujung bibirnya. Sialan! Dia benar-benar ingin membalas ucapan Ibu mertuanya, tapi mengingat betapa mengerikannya orang di hadapannya itu dia sama sekali tak berani untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Rien mengepalkan tangannya, berharap dia tidak salah bicara di saat hatinya merasakan kemarahan dan ketakutan yang begitu jelas.
" Jangan lupa, kalau aku tidak mengatakan Iya saat Gail meminta restu untuk menikahimu, maka kau juga tidak akan menjadi istrinya Gail. Jadi, apakah kau percaya jika aku meminta Gail untuk menceraikan mu maka Gail akan melakukan itu? Apa kau ingin mencobanya? " Ibu mertua tersenyum miring dengan tatapan yang begitu dingin membuat jantung Rien benar-benar seperti ingin lepas dari tempatnya. Tidak, ini benar-benar salah! seharunya dia tidak perlu merasa takut bukan? Selama dia berada di jalan benar, selama dia kuat, selama dia tenang maka dia akan bisa menangani sekacau apapun kondisi yang sedang dia alami. Rien membuang nafasnya perlahan, menatap Ibu mertua sebisa mungkin untuk tidak terlihat takut.
Ibu mertua terdiam, menatap Rien dengan tatapan aneh yang membuat Rien merasakan takut lagi di hatinya. Dia seperti sedang menyelidiki Rien, mengancam, juga memperingati untuk tidak membuatnya kesal. Setelah itu Ibu mertua tak mengatakan apapun lagi, dan dia segera meninggalkan tempat itu di susul oleh Kanya. Mereka berdua akan pergi bersama tapi entah kemana Rien benar-benar tidak tahu apapun.
" Sepertinya, hidupku tidak akan mudah setelah ini. " Ujar Rien mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan mata serius.
Di dalam mobil.
" Bibi, istri kak Gail itu benar-benar sangat pintar bicara ya? " Ujar Kanya seraya mengenakan sabuk pengaman.
__ADS_1
Ibu mertua terdiam, bukan tidak bisa mengatakan apapun, tapi dia sedang memikirkan bagaimana akan menghadapi yang semakin hari semakin merepotkan itu. Setelah beberapa saat, Ibu mertua tersenyum tipis dengan segala pemikirannya.
Baiklah, Rien. Mari kita lihat seberapa hebatnya kau, dan seberapa hebatnya aku dalam membuat skenario.
" Kanya, seberapa menarik Gail di mataku? "
Kanya yang sudah akan menekan tombol starter terdiam dengan pipi merona malu.
" Kenapa Bibi bertanya seperti itu? "
" Karena kala kau sendiri tidak yakin, tentu saja aku akan mengembalikan mu ke desa, karena sama saja kau tidak ada artinya untuk ku. "
Kanya langsung menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin kembali tinggal di desa yang sangat jauh dari indahnya kota.
" Aku sangat suka kak Gail, aku suka sekali hingga aku siap melakukan apapun. "
Ibu mertua membuang nafasnya, tatapan matanya masih begitu datar, tapi percayalah di dalam otaknya sedang bekerja keras membuat sebuah skenario yang akan dia gunakan untuk membuat Gail juga Rien sebagai bonekanya, dia juga sudah mulai merencanakan alibi yang begitu sempurna.
Bersambung.
__ADS_1