Marriage Struggle

Marriage Struggle
Bagaimana Jika Itu Aku?


__ADS_3

Semakin Ibu mertua menekan Rien, yang di rasakan Rien justru semakin ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan cara menghentikan Ibu mertuanya serta membuat Ibu mertuanya mendapatkan hukuman dari kejahatan yang sudah dia lakukan terhadap Ayah mertua, dan semua orang yang pernah dia sakiti.


Hari ini Rien memutuskan untuk pergi keluar rumah bersama dengan Cherel untuk menemui Marco dan berbicara secara langsung karena Rien tidak akan merasa puas kalau hanya bicara melalui sambungan telepon saja. Greta masih di sana, dia bahkan dengan tidak tahu malunya terus mengajak bicara Gail seolah mereka sudah begitu akrab dan memiliki sebuah tujuan. Entah harus bagiamana menjelaskan bahwa Rien begitu tidak nyaman dengan Greta, tapi selama Gail sendiri tidak meminta Greta untuk menjauh, maka Rien juga tidak akan mengatakan apapun. Biarlah sakit hati yang dia rasakan, kekecewaan dan kekesalan itu hanya menjadi bagiannya saja, toh pada masanya semua akan membaik seiring berjalannya waktu.


Tidak seperti biasanya, Rien membawa Cherel untuk ikut dengannya menemui Marco. Sesampainya di sana, Rien benar-benar di buat keheranan karena ternyata Marco begitu menyukai anak-anak, dia bahkan tidak ragu terus mengulurkan tangan agar Cherel mau pindah ke gendongannya, namun sayangnya Cherel benar-benar pemilih jadi Marco hanya bisa mengajak bicara Cherel saja dan memegang tangan serta pipinya.


Beberapa saat kemudian.


Rien menceritakan semuanya yang di katakan oleh Ayah mertuanya mengenai wanita yang ada di photo. Marco yang sedikit memahami beberapa kejadian akhirnya memutuskan untuk membiarkan Rien menemui wanita itu secara langsung, hanya saja Rien membutuhkan hari yang tepat, dan juga alibi yang tepat untuk bisa berada di sana.


" Lusa ada kunjungan, pengecekan dari dokter jiwa pusat, kau bisa menyamar menjadi salah satu dari mereka, kau akan berperan sebagai perawat yang akan mencatat laporan keadaan pasien. Aku akan meminjam satu identitas untuk kau gunakan, tapi harap jaga baik-baik identitas itu karena ini benar-benar akan berakibat fatal bagiku, dan juga pemilik identitas itu. "


Rien mengangguk setuju, setidaknya meskipun resikonya cukup besar selama Rien benar-benar mematuhi apa yang di katakan Marco, juga berhati-hati sekali, tentu saja dia dapat mengatasi dan tidak membuat masalah sama sekali.


" Baiklah, aku akan mengikuti semua saranmu. " Ucap Rien lalu tersenyum senang karena pada akhirnya dia akan selangkah lagi demi menuju apa yang seharusnya dia tuju.

__ADS_1


" Apa masih membutuhkan waktu yang lama untuk kalian bicara? "


Marco menegakan kepalanya untuk menatap sumber suara, Rien menoleh untuk melihatnya. Gail? Rien mengeryit bingung karena melihat Gail tiba-tiba saja ada di balik punggungnya entah sejak kapan, entah dia dengar apa yang di katakan Rien dah Marco atau tidak. Rien bangkit dari duduknya, lalu berdiri untuk menatap Gail masih sembari menggendong Cherel.


" Kenapa kau ada disini? " Tanya Rien.


Gail membuang nafasnya, sebenarnya dia juga tidak ingin berada di sana dan melihat apa yang di lakukan istrinya di belakangnya selama ini. Tapi, dompet Rien yang berukuran kecil tempat untuk menyimpan semua kartu pembayaran terbawa oleh Gail karena malam sebelumnya Gail menggunakan kartu itu untuk membayar makanan yang dia pesan untuk makan malam bersama. Dia yang kembali dari kantor untuk mengantarkan dompet itu rupanya justru tak sengaja melihat Rien dan Marco sedang berada di restauran, duduk di dekat kaca transparan yang membuat Gail bisa melihatnya secara tidak sengaja.


" Apa kau kecewa karena aku disini, dan merusak suasana? "


Rien memutar bola matanya karena begitu jengah dengan ucapan Gail. Tahu kok kalau menemui pria lain di belakang suaminya adalah hal yang salah, dan apapun alasannya pasti tidak akan ada satupun orang yang akan membenarkan hal itu. Tapi, bisakah Rien memohon kepada Gail untuk lebih peka dan tanggap untuk segera mencari tahu kenapa istrinya menemui pria lain, apa yang sedang di bicarakan, apa yang sedang di lakukan, apa yang sedang di rencanakan. Hah! Sepertinya Rien memang hanya bisa sabar dan masa bodoh saja dan berhenti mengharapkan apa yang seharusnya tidak dia harapkan.


" Kalau kalian ingin bicara, lebih baik pulang lah saja sekarang, dan bicarakan saja masalah ini dan pastikan hanya kalian yang bisa mendengar dan mengetahuinya. " Ujar Marco lalu tersenyum dan memilih pergi dari sana sebelum kemarahan Gail membuatnya bertindak di luar akal sehat.


" Mudah sekali bagimu mengatakan itu, apakah menyenangkan terus menemui istri orang lain? "

__ADS_1


Marco menghentikan langkah kakinya sebentar, membuang nafas dan melanjutkan lagi tanpa menanggapi ucapan Gail barusan.


Melihat Gail yang semakin kesal, Rien memutuskan untuk menari tangan Gail dan membawanya keluar dari restauran agar mereka bisa leluasa untuk bicara. Tapi karena Rien melihat mobil Gail terparkir di sana, segera Rien mengajak Gail untuk masuk ke dalam mobil dan batu bicara kalau sudah berada di dalam sana.


" Kenapa kau selalu menemui dia, bahkan kau membawa Cherel hari ini, apakah kau ingin mencoba mendekatkan Cherel dengan mantan kekasihmu? " Tanya Gail yang terlihat kesal juga kecewa.


Rien menanggapi pertanyaan itu dengan senyum sinis. Rasanya lucu sekali bukan?


" Bagaimana perasaanmu, Gail? " Tanya Rien.


" Apa? " Gail mengeryit bingung menatap Rien.


" Kau hanya melihat Cherel di sentuh pipi dan tangannya oleh Marco, dan posisi kami berhadapan cukup jauh. Lalu bagaimana denganku? Aku melihatku duduk berdampingan dengan Greta, membiarkan putriku, putri yang aku lahirkan setelah membacanya kemanapun di dalam perutku sembilan bulan, mengeluarkannya dengan penuh perjuangan, rasa sakit yang seolah membuatku ingin mati berada di pangkuan mantan kekasih suamiku. Tidakkah kau berpikir pose kalian saat itu seperti keluarga kecil yang sedang bahagia? "


Gail terdiam membeku gak bisa menjawab ucapan Rien.

__ADS_1


" Jangan sok menderita, Gail. Yang kau lakukan itu sungguh memuakkan. "


Bersambung.


__ADS_2