
Rien menyeka air matanya, bukan sedih dengan pengalaman Ibu mertua yang dia rasakan, tapi dia sedih karena semua menjadi seperti sekarang hanya karena seseorang yang tidak memiliki kemampuan diri. Bukankah seharusnya dia berusaha untuk melampaui lawannya dan menunjukan kepada dunia bahwa dia juga kayak untuk di pandang? Bukankah itu adalah kesalahannya sendiri yang tidak mencoba untuk mengasah diri dan membuat orang lain menghargainya? Kenapa kesalahan diri sendiri harus di limpahkan kepada orang lain, menunjuk orang lain sebagai sebab?
" Jika laki-laki yang kau maksud begitu cepat mengakhiri hubungan lalu berlari mengejar wanita lain, berarti kau patut bersyukur karena pria itu lebih cepat menunjukkan betapa tidak pantasnya dia untukmu. " Ucap Rien.
Ibu mertua tersenyum sinis, menatap Rien dan juga Ibunya Gail secara bergantian. Dia melangkah untuk lebih dekat dengan Ibunya Gail hingga membuatnya semakin ketakutan. Dia tersenyum, puas dan bahagia sekali melihat orang yang dulu begitu sombong, menatapnya dengan tatapan sinis seolah merendahkan, merebut kekasihnya, tersenyum bahagia, tertawa terbahak-bahak tak sekalipun memperdulikan bagaimana perasaannya yang terluka. Dia bukanya tidak berusaha untuk menjadi lebih baik dari pada Ibunya Gail, tapi Ayah dah juga Ibu tirinya tak memberikan kesempatan untuknya. Dia seperti tidak ingin kakak tirinya di saingi, dia tidak ingin Ibunya Gail yang sudah begitu menonjol miliki saingan, jadi mereka menekan Ibu mertua dengan kuat hingga dia merasa lelah karena merasa kalau semua yang dia lakukan bahkan tidak bisa di samakan dengan sedikit saja kelebihan yang di miliki oleh Ibunya Gail.
" Jika saja kau tidak melakukan semua itu, jika saja kau dan juga orang tua brengsek mu tidak terus membuatku tersisihkan dan tidak membuatku merasa seperti sampah, mana mungkin aku akan membuatmu seperti ini? Sekarang nikmatilah, aku akan membuat istri dari putra kesayangan mu membuatmu mengakhiri penderitaan ini, bukankah begitu, menantuku? " Ibu mertua tersenyum miring menatap Rien membuat Rien terdiam tak tahu harus mengatakan apa. Tatapan itu kenapa seperti ada yang tidak beres? Mengakhiri penderitaan yang dia maksud kenapa Rien merasa apa yang dia harapkan tidak seperti yang di inginkan Ibu mertua? Sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan, apa yang sedang dia rencanakan?
Rien memundurkan langkahnya, entah mengapa dia merasa takut sekali seolah akan ada hal mengerikan yang terjadi?
Ibu mertua terkekeh melihat ketakutan dari wajah Rien, apalagi saat Rien ingin keluar dari sana dan ternyata tidak bisa membuka pintu karena pintunya terkunci. Rien terus berusaha mengerakkan handle pintu berharap pintu itu terbuka agar dia bisa segera keluar dari sana, lalu memikirkan bagaimana melewati masalah ini, dan baru akan bertindak selanjutnya ketika Marco sudah kembali.
Pintu tidak bisa terbuka, Rien memukul pintu terus menerus, berteriak meminta tolong tapi tak ada satupun yang mendengar, atau mungkin sengaja tidak di dengar. Tidak, ini semua tidak beres!
Rien berbalik menatap Ibu mertuanya yang terus tersenyum melihat Rien dan segala ketakutannya. Sekarang Rien menyadari satu hal yaitu, sebenarnya selama ini Rien telah mengikuti permainan yang di ciptakan oleh Ibu mertuanya, sama persisi seperti yang pernah di katakan oleh Ibu mertua. Rien tanpa sadar telah menjadi boneka yang di mainkan oleh Ini mertua, dan dengan bodohnya dia merasa jika selama ini keberuntungan datang karena Tuhan telah membantunya. Tidak, bukan itu! Ibu mertua sengaja memberikan sedikit bocoran, membuat Rien penasaran dan mencari tahu dengan segala cara, kursi dari rumah sakit Grevverent, mudahnya menemukan Ibunya Gail, obat Ayah mertua yang sengaja di biarkan saja saat Rien menggantinya agar Ayah mertua dapat sedikit memberikan petunjuk, lalu pembicaraan Ayah mertua dan Ibu mertua, jari yang terpotong, perdebatan demi perdebatan antara Rien dan Gail, semua itu sudah di rencanakan dengan baik oleh Ibu mertua.
__ADS_1
Rien mengepalkan kedua tangannya, menatap Ibu mertua dengan tatapan marah. Berapa jahat dan liciknya manusia di hadapannya itu?
Pantas saja semua berjalan dengan mudah dan lancar, ternyata dia sengaja melakukan ini?
Ibu mertua berjalan dua langkah untuk bisa lebih dekat dengan Rien. Matanya yang menatap dengan begitu banyak maksud benar-benar membuat Rien tidak bisa berkata-kata karena merasa jika akan ada hal besar yang menakutkan terjadi.
" Sudah ku bilang, tidak ada yang tidak berada di bawah kendali ku. Kau, kebodohan mu, semuanya karena aku yang mengendalikannya. Selama ini sibuk mengatakan jika tidak akan menjadi boneka yang aku mainkan, nyatanya kau adalah boneka yang sedang asik aku mainkan. Kehidupan sangat kejam bukan? Tapi tenang saja, aku sudah pernah mengatakan jika aku akan menepati janji ku bukan? Berbahagialah, menantu ku, aku akan mengabulkan janji itu karena aku adalah orang yang konsisten dan juga tidak sembarangan bicara. "
Rien memundurkan langkahnya, menatap Ibu mertua dengan mata tajam tapi dia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri kalau dia merasa sangat gugup dan juga takut.
" Tidak, tidak! Tidak! Aku tidak akan melakukan hal buruk yang menyakiti orang lain! " Bantah Rien menahan tubuhnya yang gemetar tapi dia juga masih tidak ingin menyerah.
Ibu mertua menghela nafas, lalu mengeluarkan ponselnya. Dia melalukan panggilan video ke seorang lalu tak lama panggilan video itu terhubung.
" Perlihatkan dia sekarang! "
__ADS_1
Ibu mertua menunjukan layar ponselnya kepada Rien, di dana ada Ayah mertua yang duduk sembari menangis, dan dia sebelahnya ada obat-obatan juga jarum suntik yang pasti gunanya bukanlah untuk kesembuhannya.
" Gila! Kau gila! Kalau Gail tahu apa yang kau lakukan, dia pasti akan membunuhmu! " Bentak Rien yang tak lagi bisa menahan kemarahannya.
Ibu mertua terkekeh, lalu menatap Rien dengan tatapan dingin.
" Gail, anak bodoh itu? Kau pikir dia akan mempercayai ucapan mu? Dia tahu benar bagaimana dia berhutang padaku, aku mengeluarkan dia dari kecelakaan yang mungkin akan membuat tiada, aku menemani dan merawatnya saat dia sakit, aku menunjukan cinta yah banyak untuknya, mana mungkin dia akan mempercayai ucapan mu? Hem? "
Rien terkekeh dengan tatapan mengejek.
" Gail pasti akan kecewa sekali karena cinta dan kebaikan Ibu tirinya adalah palsu! Kecelakaan? Kau pasti yang merencanakan itu bukan?! "
Ibu mertua tersenyum.
" Cukup pintar. "
__ADS_1
Bersambung.