Marriage Struggle

Marriage Struggle
Menenangkan Diri


__ADS_3

Rien terdiam di kamar setelah Cherel tertidur pulas. Dia masih rumah Gail, dan itu semua karena Rien terlalu mengancam sehingga ancaman itu justru semakin membuat Gail khawatir dan takut. Untuk tetap mempertahankan rumah tangga mereka, supaya jangan ada celah untuk mereka memiliki niat berpisah, Gail benar-benar tidak membiarkan Rien keluar dari rumah.


Pagi ini Rien sama sekali tidak ke dapur untuk memasak, Gail sudah memesan makanan untuk sarapan dan tidak begitu memperdulikan Ibunya yang terus mengatakan jika makanan yang di pesan bukanlah makanan yang sehat. Gail pikir dia sudah memesan makanan dari tempat yang di tahu sendiri mereka sangat higienis, bahan makanan yang mereka gunakan juga terbilang bahan segar. Gail tahu jika dia meminta istrinya untuk memasak pasti akan ada keributan lagi makanya Gail tidak begitu menggubris ucapan Ibunya.


" Gail, besok sepupu Ibu akan datang untuk melamar kerja, tolong posisikan dia di tempat yang dekat denganmu ya? Kau tahu kan dia masih sangat muda dan tidak memiliki banyak pengalaman? Dengan berada di dekatmu tentu saja dia akan lebih banyak mendapatkan ilmu dan bisa berguna untukmu juga nantinya kan? "


Gail terdiam sebentar.


" Ibu, kalau masalah itu aku tidak bisa membantunya. Theo tahu benar seperti apa orang-orang yang harus berada di dekat kita supaya semua pekerjaan berjalan dengan lancar dan cepat seusia harapan. Aku tidak ada waktu kalau harus mengajari pegawai baru, dan Theo juga pasti tidak akan ada waktu untuk itu. Kalau dia mau, tentu saja dia hanya bisa mengikuti prosedur yang ada, dan juga belajar sebagai pemula dulu. "


Ibu mertua menghela nafas. Sama saja seperti Theo, tadi dia juga sudah membicarakan masalah itu dengan Theo, tapi Theo juga mengatakan hal yang sama seperti yang di katakan Gail. Jujur saja kalau dia sedikit memaksa pasti Gail akan menuruti apa yang di katakan olehnya, tapi mengingat dia juga tidak ingin perusahaan kembali merosot seperti beberapa waktu lalu, Ibu mertua akhirnya menerima saja keputusan Gail juga Theo.


segitu kedua putranya itu berangkat bekerja, Rien bersiap-siap untuk pergi. Tentu saja dia masih tidak ingin menyerah dengan keinginanya untuk sementara menenangkan diri agar otaknya bisa kembali sehat dulu. Sekarang kalau ingin memaksa berada di sana tentu adalah hal yang sangat sulit untuk dia jalani. Jadi demi sedikit saja tenang, sementara tidak mendengarkan ucapan Ibu mertuanya yang menyakitkan, di tambah tatapan matanya yang tajam sekali, ini adalah satu-satunya pilihan terbaik.


Begitu Rien keluar dari kamar membawa satu tas Cherel yang lumayan besar, dan mau tidak mau dia juga harus lewat di dekat Ibu mertuanya. Rien tidak menyapa, tahu kok, dia benar-benar tahu kalau itu sangat tidak sopan dan kurang ajar. Tapi apa gunanya dia menyapa dengan ramah kalau pada akhirnya akan berakhir dengan rasa sakit di hati?


" Kalau mau kabur jangan tanggung-tanggung, pintar sekali perginya saat suami juga sudah pergi. Istri yang pergi tanpa izin suami apa bedanya dengan wanita liar? " Sindir Ibu mertuanya sembari memainkan ponselnya entah apa yang sedang dia ketika di sana. Rien hanya membuang nafasnya, sebentar melirik kesal kepada Ibu mertuanya dan kembali menjalankan kakinya. Sudahlah, lebih baik acuhkan saja dan pergi dengan cepat.


" Dasar tidak peka, kenapa juga masih bertahan sih?! " Gumam Ibu mertua dengan mimik kesalnya.

__ADS_1


Rien pergi menggunakan taksi, tujuannya sekarang adalah pergi ke rumah orang tuanya. Mengenai alasan yang ingin dia gunakan, tentu saja dia akan mengunakan Cherel, juga tentang kerinduannya saja kepada orang tua karena sudah hampir lima bulan tidak bertemu.


Malam harinya.


Gail mengeryit karena tidak mendapati Rien menyambut kepulangannya seperti biasanya. Apakah dia masih marah? Ah, iya tentu saja karena apa yang terjadi kemarin juga masih belum bisa Rien lupakan. Ini sudah biasa saat Rien merasa marah padanya, dia akan membiarkan saja Gail di sana.


Gail tidak menemukan Ibunya, maka dari itu dia langsung masuk ke kamarnya. Sebentar terkejut karena tak mendapati istrinya di dalam sana. Setelah itu Gail berjalan menuju kamar putrinya karena merasa yakin kalau Rien juga Cherel pasti berada di sana.


Ternyata tidak ada juga, Gail dengan cepat berjalan menuju dapur karena siapa tahu Rien dan anaknya berada di dana. Tidak ada, taman samping rumah juga tidak ada, jadi kemana?


" Rien! Rien! Sayang?, Sayang kau diman? " Gail berjalan kesana kemari berharap menemukan istri dan anaknya.


Gail membeku mendengar ucapan Ibunya, dia berbalik untuk menatap Ibunya dengan tatapan penuh tanya.


" Kemana mereka pergi, Ibu? "


Ibu mertua menghela nafas dengan mimik kesal, lalu mengangkat bahu untuk menunjukkan kepada Gail bahwa dia tidak tahu sama sekali kemana Rien pergi.


Gail mengusap wajahnya dengan kasar, sekarang dia tahu benar bahwa Rien sangat marah padanya, dia sudah benar-benar sulit menahan diri jadi memutuskan pergi tanpa memberitahu padanya terlebih dulu. Tentu saja Gail tidak bisa menyalahkan Rien, bagaimanapun Rien juga sudah melakukan apa yang dia minta selama ini. Kemana Rien pergi tentu saja Gail sudah tahu, Rien adalah anak rumahan yang tidak banyak bergaul di luaran sana. Sudahlah pasti Rien sekarang pasti berada di rumah kedua orang tuanya.

__ADS_1


" Istrimu itu terllau sembrono, Gail. Keluar rumah dengan gampang sinisnya, padahal Ibu sudah menyapa dengan sopan menanyakan dia mau kemana, tapi dia malah diam seribu bahasa seperti orang bisu. Tidak mengatakan apapun, lebih tepatnya tidak mengeluarkan suara apapun. Istri kalau sudah berani keluar rumah tanpa izin suami, artinya dia sudah tidak menginginkan rumah tangganya lagi. Kalau suaminya adalah Ibu, Ibu pasti akan- "


" Ibu, tolong jangan bicara seperti itu. Akhir-akhir ini kami jadi sering bertengkar, masalah kecil pun bisa menjadi besar oleh kami berdua. Dia sudah mengirimkan pesan padaku siang tadi, tapi aku pikir dia hanya menggertak karena masih kesal. "


Ibu mertua membuang nafasnya, menatap Gail dengan tatapan kesal.


" Kau itu selalu membela istrimu terus menerus, lihat lah dia jadi liat dan sembarangan. Kau juga seharusnya sadar, Gail. Istrimu itu sudah sangat kurang ajar, bicaranya kasar dan lantang, mau sampai kapan kau di injak oleh istrimu itu? "


Gail menghela nafasnya.


" Aku tidak merasa begitu, Ibu. Kami menikah kan belum juga cukup dua tahun. Kami butuh waktu untuk bisa menyesuaikan diri satu sama lain, jadi tolong doakan saja supaya kami bisa mengatasi perbedaan di antara kami berdua. "


Ibu mertua membuang arah pandangan dengan hati kesal.


Theo tersenyum kelu, pria itu tak sengaja mendengar pembicaraan Ibu dan kakaknya.


" Kau pasti kesulitan ya kak? Kau hanya bisa memperbaiki Citra Ibu di hadapan istrimu, kau juga mempertahankan harga diri istrimu di hadapan Ibu. " Gumam Theo.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2