
" Dulu aku merasa iri padamu karena suami mu benar-benar menyayangi mu, mencintai mu, bahkan memperlakukan mu dengan baik. Aku adalah saksi di mana suami mu terus mencoba membela mu tanpa ingin memojokkan Ibu mertua. Selama ini hidupnya juga tidak mudah, tapi hal itu juga membuat ku menjadi semakin iri. Saat aku merasakan kasih sayang yang berlebih dari Ibu mertua, aku pikir aku juga beruntung jadi aku menggunakan keberuntungan itu untuk menunjukkan pada mu dan selalu berharap kau akan menjadi sedih seperti yang aku rasakan. Tapi ternyata aku terlalu bodoh hingga tidak menyadari jika sebenarnya Ibu mertua juga menyakiti ku dengan caranya yang tak terlihat. Dia membuat ku menjadi egois, dia menumbuhkan kebencian demi kebencian karena dia tahu kebencian ku akan dapat dia gunakan di suatu hari nanti. Aku jadi berpikir, ternyata kita berdua benar-benar bukan menantu yang beruntung ya? Dia menyiksa mu dengan kasar, dan dia menusukku dengan lembut sehingga aku tidak menyadari itu sebelum lukanya yang semakin parah hampir tak tertolong lagi. "
Rien mengatakan tangannya yang tengah menggenggam punggung tangan Jenette. Sekarang Rien benar-benar bisa melihat wajah Jenette yang lembut, dia juga terlihat agak manja dan sorot matanya yang terlihat menderita membuat Rien sadar benar tidak ada yang lebih beruntung di antara mereka berdua selama ini.
" Sudah lah, semua sudah berakhir, Ibu mertua juga akan mendapatkan hukuman dari apa yang dilakukan, jadi mari kita fokus dengan hidup kita masing-masing. "
Jenette mengangguk setuju.
" Awal bulan nanti aku berencana akan pergi ke luar negeri, aku akan melakukan panggilan video setiap hari kepada Cherel, boleh kan? " Tanya Jenette dengan tatapan memohon, dan sudah jelas Rien segera mengangguk setuju dengan permintaan Jenette.
" Mengenai keputusan mu itu, apa kau benar-benar akan melakukanya? Maksud ku, selama ini kau kan sangat mencintai Theo, kau benar-benar mengawasinya dengan ketat dan mudah sekali cemburu untuk hal sepele. Aku benar-benar tidak menyangka kalau pada akhirnya kau akan mengambil keputusan yang amat tidak biasa ini.
Jelena memaksakan senyumnya, sebenarnya siapa sih yang rela berpisah dengan orang yang di cintai? Tapi untuk apa juga bertahan kalau yang dia cintai bahkan tidak mencintainya? Selain dia merasa sakit, kecewa karena itu, bukankah perasaan sakit juga pasti di rasakan oleh Theo? Berpisah adalah hal yang paling tepat sekarang. Setelah itu barulah Jenette bisa perlahan menatap pikirannya, menenangkan diri, lalu berusaha untuk lebih mengenal diri sendiri, mencari tahu apa yang dia butuhkan, dan apa yang sebenarnya pantas untuknya. Bayangan untuk memulai hubungan baru dengan pria lain sama sekali tidak dia pikirkan sama sekali sekarang ini, jadi setidaknya dia akan berusaha mencari kebahagiaan dengan cara yang lain.
" Aku merasa melepaskan Theo akan berujung baik untuk kami berdua. Meskipun perpisahan tetap lah menyakitkan, tapi jika ini akan berakhir baik dan bahagia, bukankah tidak ada salahnya segera melaksanakannya? "
Rien memaksakan senyumnya, dia sudah tidak bisa lagi banyak berkata-kata. Sepertinya dia bisa melihat kalau Jenette memang sangat lelah dengan hubungannya bersama dengan Theo. Sebenarnya Rien sendiri memikirkan kemungkinan untuk berpisah dengan Gail mengingat betapa tidak cocoknya hati dan cara berpikir mereka selama ini. Tapi sepertinya dia harus memikirkan ulang, dan mencoba untuk mencari keputusan terbaik untuk mereka berdua.
__ADS_1
" Rien, itu kan Gail dan Theo, mereka kenapa datang dengan wanita itu? "
Rien mengeryit menatap Jenette, lalu mengikuti arah pandangan mata Jenette. Rupanya memang ada Gail, Theo, Greta dan stau orang lagi entah siapa. Tapi mengingat kalau Greta menjalin kerja sama dengan perusahaan Gail dan Theo, sepertinya ini adalah hal yang wajar. Ah, entah wajah atau tidak, Rien benar-benar tidak tahu harus bagaimana karena nyatanya dia tepat merasa kecewa dan sedih.
Jenette juga mencoba untuk tidak memperlihatkan perasaan kecewanya, karena Theo justru terlihat seperti kencan ganda dengan kakaknya sendiri.
" Rien, kau tidak apa-apa? " Tanya Jenette.
Rien memaksakan senyumnya, lalu mengangguk seolah ingin menyampaikan kepada Jenette bahwa dia memang tidak apa-apa. Sementara Gail dan juga Theo masih belum sadar dengan adanya Rien dan Jenette di disana hingga mereka sudah duduk di meja makan tersebut.
" Haruskah kita pindah ke restauran lain? Meskipun kau bisa merasa tenang, tapi jujur saja aku tidak tenang, Rien. Jantung ku sekarang berdegup kencang, aku bahkan ingin menangis. " Ujar Jenette membuat Rien khawatir meski dia sendiri merasakan yang sama.
Cherel masih ada di gendongan Jenette, dan Jenette tidak membolehkan Rien mengambilnya. Mereka berjalan seolah tidak melihat adanya Gail dan Theo di sana, tapi Gail yang sedang membicarakan hal serius tersadar dengan adanya Rien juga Cherel sehingga dia dengan segera bangkit dan memastikan dulu benar atau tidaknya apa yang dia lihat.
" Sayang? " Gail segera berjalan menghampiri Rien, lalu tersenyum karena merasa bahagia pada akhirnya dapat melihat langsung istri dan anaknya.
Theo sekarang juga bisa melihat adanya Jenette di sana, hanya saja yang membuat Theo bingung adalah, kenapa Jenette bersama dengan Rien? Lalu kenapa Cherel nampak nyaman di gendongan Jenette? Padahal Jenette adalah orang yang tidak baik, egois, pemarah, bahkan seenaknya sendiri dalam segala hal.
__ADS_1
" Kau sudah lama di sini? Mau kemana? Boleh aku ikut? " Tanya Gail yang terlihat begitu antusias agar dapat ikut bersama anak dan istrinya pergi.
" Sepertinya kau sedang sibuk, mengapa tidak selesaikan saja dulu? "
Gail menoleh menatap Greta dan juga aisiten nya yang kini tengah menatap mereka sebentar, lalu kembali menatap Rien.
" Kami sudah selesai survey, hanya kegiatan makan siang biasa jadi itu tidak wajib untuk di ikuti. " Ujar Gail membuat Theo mendengus kesal. Tidak wajib di ikuti? Itu artinya dia akan di tinggal di sana bersama Greta dan asistennya yang sangat sok akrab itu?
" Tidak perlu, hari ini aku ada janji dengan Jenette. "
Theo menatap Jenette yang sama sekali tak menatap dirinya, dia juga sama sekali tak berekspresi membuat Theo sedikit bingung. Mungkinkah ucapan serta pesan yang dia kirimkan benar-benar akan terjadi?
Setelah mendengar jawaban Rien, Gail mencoba untuk memaksakan senyumnya.
" Kita sudah beberapa hari tidak bertemu, apa tidak bisa sebentar saja berikan aku waktu? Jenette juga sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah, bukankah ada banyak hal yang perlu di bicarakan? "
Jenette tersenyum sebentar.
__ADS_1
" Aku tidak akan kembali, mungkin lusa pengacara ku akan datang ke rumah untuk menyerahkan surat permohonan cerai secara langsung. " Ujar Jenette membuat Theo terdiam membeku.
Bersambung.