
Setelah pengacaranya mengatakan jika bisa menemui Ibunya, Theo dengan segera menuju kesana untuk melihat bagaimana keadaan Ibunya, dan apa yang sebenarnya terjadi.
Beberapa saat kemudian.
Theo kini sudah berhadapan dengan Ibunya yang terlihat sangat tidak biasa. Ibunya diam dengan ekspresi kosong, tidak menunjukkan kesedihan atau apapun, bahkan dia seperti tidak perduli dengan adanya Theo di sana. Theo awalnya ragu apakah dia akan mendapatkan jawaban jika dia bertanya? Ibunya selama ini begitu pintar menyembunyikan semua yang dia lakukan sehingga Theo sampai bingung mau bertanya dari hal yang mana.
" Bagaimana keadaan Ibu? " Tanya Theo setelah memikirkan cukup lama, sepertinya menanyakan kabar adalah hal yang benar bukan? Meskipun sebenarnya Theo juga sudah tahu jelas bahwa Ibunya tidak baik, tapi dia juga berharap Ibunya akan tetap baik-baik saja.
Ibu mertua perlahan mengarahkan matanya untuk menatap Theo. Sebenarnya dia malas sekali untuk bicara sekarang, tapi dia ingin melihat cara Theo menatapnya, dia ingin melihat dengan benar apakah Theo memiliki tatapan mata yang sama seperti Gail atau tidak. Ketika dia melihat itu, dia hanya bisa tersenyum kecut karena ternyata Theo tidak memiliki tatapan teduh seperti tatapan mata Gail. Entah apa yang sebenarnya dia inginkan, dari hidup ini, semua yang dia lakukan tak mampu membuatnya merasa cukup dan puas. Meskipun bisa di bilang dia sudah melewati beberapa puluh tahun sesuai yang diinginkan, nyatanya dia justru merasa tak mendapat apapun.
" Ibu, sebenarnya apa yang terjadi, Kak Gail bicara terlalu cepat aku tidak memahami situasinya dengan benar. " Ucap Theo menjaga Ibu mertua hanya membuang nafas.
__ADS_1
Tejo benar-benar merasa bingung minat respon Ibunya yang terlihat sama sekali tak ingin bicara padahal niat Theo adalah memperjelas segalanya dan jika tidak sesuai dengan ala yang di katakan Gail, dia masih akan mengajak Gail bicara, membujuknya agar Ibunya bisa keluar dari penjara. Tapi melihat respon Ibunya yang seperti tak perduli lagi dengan apa yang akan terjadi, Theo jadi bisa sedikit paham bahwa Ibunya memang melakukan kesalahan besar, dan dia berada di tahap di mana tidak ingin bicara karena bingung dengan dirinya sendiri, juga merasa kalau apa yang akan dia katakan nanti sama sekali tidak akan merubah apapun.
" Ibu, ekspresi Ibu benar-benar membuat ku merasa bingung dan terus ingin menduga-duga. Tolong katakan sesuatu, aku ingin mendengar dengan jelas dari sudut kandang Ibu. "
Ibu mertua membuang nafasnya, menatap Theo dengan tatapan tak biasa membuat Theo hanya bisa menunggu saja apa yang akan di katakan Ibunya untuk bisa mengerti bagaimana detail cerita jika dari sudut kandang Ibunya.
" Semua yang di katakan Gail benar, jadi yakinlah saja semua itu. Aku sedang tidak ingin bicara banyak, jadi kalau kau ingin menduga-duga seharusnya kau lakukan saja itu. "
Theo mengeraskan rahangnya, menatap Ibunya dengan tatapan marah.
" Aku melakukan segala cara agar bisa menyakiti Ibunya Gail, aku hanya ingin dia melihat bahwa anaknya hanya menganggap ku sebagai satu-satunya Ibu. Aku berhasil, aku berhasil mendapatkan apa yang aku impikan, tapi aku tidak mendapatkan kebahagian yang aku harapkan. Bukankah ini menyedihkan? Sekuat tenaga aku mencoba keluar dari bayang-bayang kesengsaraan, ternyata aku adalah tokoh yang sebenarnya menyakiti diri sendiri dan merasa semua orang membuat ku sengsara. Jika ada yang bertanya apakah aku menyesal, maka jawabannya adalah aku menyesal. Tapi, aku akan lebih menyesal lagi jika tidak melakukan apa yang sudah aku lakukan. Aku memang tidak memikirkan semuanya akan berakhir seperti apa, tapi aku sudah cukup puas dan mengapresiasi diri ku sendiri karena belum tentu akan ada orang yang sanggup melakukan semua ini. "
__ADS_1
Theo terdiam menahan dirinya yang ingin sekali mengumpat, mengutuk kebodohan Ibunya yang pada akhirnya membuat dia berada di tempat seperti ini. Sebagai seorang anak tentu saja dia tidak rela, tapi Theo juga tidak bisa melakukan apapun apalagi mencoba membebaskan Ibunya dari hukuman. Meskipun hatinya sakit, tidak menerima kenyataan ini, tapi semua ini jauh lebih berat untuk Gail bukan? Sekarang dia pasti hancur benar, jauh lebih hancur karena selama ini dia mencintai kepalsuan, bahkan tanpa sadar telah membuat Ayah dan Ibu kandungnya menderita selama ini.
" Ibu, tidakkah Ibu merasa kalau Ibu begitu menakutkan? "
Ibu mertua menghela nafas, mengerikan? Bahkan sepertinya dunia berputar dengan menyuguhkan hal-hal yang lebih mengerikan di banding apa yang sudah dia lakukan.
Mentari saja hanya saat awal terasa hangat, tapi lama kelamaan panasnya sampai membuat kulit terasa sakit. Dunia lebih kejam di banding apa yang dia lakukan, tapi kenapa semua orang seperti ingin membuatnya menjadi begitu kejam melebihi apapun?
" Ibu, aku sama sekali tidak tahu seberapa jauh yang Ibu pikirkan. Aku bahkan sekarang ragu apakah Ibu menyayangiku sebagai anak atau tidak. Tapi Bu, aku tidak akan membohongi diri ku sendiri bahwa aku benar-benar menyayangi mu, di balik sikap dingin dan seringnya aku melawan aku tetap menyayangi Ibu. Aku hanya ingin Ibu tahu benar bahwa, sebelumnya kak Gail benar-benar menyayangi Ibu, dan aku yang terlihat cuek ini juga menyayangi Ibu dengan tulus. Kami semua tidak ada yang menipu perasaan seperti Ibu. "
" Kalau begitu pergilah, jalani hidup mu dengan baik, lupakan saja aku sebagai Ibu mu. Meskipun aku memang jahat seperti yang kalian katakan, tapi dari sekian banyak yang aku lakukan, entah sekali atau dua kali aku melakukannya dengan tulus. " Ibu mertua menatap Theo dengan bersungguh-sungguh.
__ADS_1
" Tidak ada seorang Ibu yang tidak menyayangi anaknya, aku hanya tidak tahu harus bagiamana memperlakukan anak ku sendiri, aku tidak tahu apakah aku harus berpura-pura menyayangi mu seperti aku memperlakukan Gail atau tidak. Tapi aku tidak pernah berharap hal buruk terjadi padamu. Aku membuat mu melihat dunia yang kejam dengan memperlihatkan bagaimana dunia yang sebenernya sejak kau kecil, karena aku ingin kau memiliki mental yang kuat, dan tidak mudah untuk di tindas seperti ku. "
Bersambung.