
" Dengan otak bodoh mu itu, jangankan Rien, bahkan cucak saja akan menertawakan diri mu. Padahal sudah aku jelaskan harus bagiamana, dan apa yang perlu kau katakan kepada Rien. Tapi kau bahkan tidak bisa berkata-kata hanya karena ucapannya yang sedikit menekan. Kalau kau seperti ini terus, aku yakin benar kau tidak akan mendapatkan hasil apapun selain rasa malu dan lelah. "
Seperti itulah ucapan Ibu mertua kepada Kanya, Padahal dia sudah menjelaskan bagiamana menghadapi Rien, bagaimana menjatuhkan diri agar membuat kesannya dia di dorong oleh Rien, tapi tetap saja Kanya begitu bodoh dan tidak bisa di andalkan. Tadinya dia ingin menggunakan alasan bahwa Rien mendorong Kanya, dan buktinya adalah kue yang menjadi hancur. Tapi mau bagaimana lagi? Rupanya dia menggunakan partner yang salah dan tidak berguna.
Menyadari betapa kesal dan kecewanya Ibu mertua, Kanya tertunduk menahan rasa bersalah juga rasa malu. Jujur saja dia terlalu gugup dan kurang percaya diri. Biarpun Rien tidak menggunakan make up dan dandanan seperti dirinya, bahkan mengunakan pakaian yang begitu sederhana, Rien memang cantik, wajahnya yang seperti remaja membuat siapapun pasti tidak akan menyangka kalau Rien sudah menikah dan memiliki anak. Walupun Ibu mertua sudah mengatakan untuk percaya diri, dan terbiasa dengan pakaian yang agak terbuka setiap hari, tapi anehnya dia merasa begitu rendah diri karena Gail sama sekali tidak pernah memperhatikan penampilannya, apalagi wajahnya.
Menyadari jika Ibu mertuanya sedang bicara dengan Kanya entah membahas apa, Rien mengambil kesempatan itu untuk masuk ke kamar Ayah mertua, tujuannya tentu saja adalah untuk memasang kamera pengawas guna mengumpulkan bukti betapa jahatnya Ibu mertua. Tapi selesai memandang kamera pengawas Ayah mertua terbangun dari tidurnya, dia menggerakkan satu tangannya, melambai meminta Rien untuk mendekat padanya. Dengan susah payah Ayah mertua mengatakan kalimat, berhenti, bahaya! Rien sudah mengerti maksud ucapan Ayah mertuanya yang cukup jelas di banding sebelumnya. Sejujurnya Rien juga ingin berhenti, dia ingin lari dan menyelamatkan dirinya sendiri serta putri kesayangannya. Tapi, bagaimana dengan hati nurani yang terus meminta dirinya untuk membantu Ayah mertua Setya istrinya? Bukankah Gail juga bisa saja menjadi korban? Tolong, dia pun juga serasa tidak sanggup, tapi kalau tidak ada yang mengentikan, Ibu mertua pasti akan sangat jahat dan semakin menjadi karena merasa cukup yakin tak akan ada yang berani padanya.
Rien meraih tangan Ayah mertua, menatapnya dengan tatapan yakin seolah dia benar-benar tidak ingin Ayah mertua merasa bersalah, khawatir, juga terbebani. Ini adalah pilihannya, dia ingin menghentikan kejahatan Ibu mertua, dia ingin membuktikan betapa tidak pantasnya dia menjadi orang yang di cintai suaminya, di maklumi oleh adik iparnya, dia juga ingin membuktikan kepada Ibu mertua bahwa tidak selamanya apa yang dia inginkan akan di dapat, terlebih cara mendapatkannya adalah dengan menyakiti orang lain.
" Ayah mertua, aku sudah berpikir bukan hanya satu atau dua hari saja. Aku memikirkan semuanya, dan aku meyakinkan diri semalam bahwa aku, tidak akan membiarkan suamiku, mertuaku terus menderita. Jadi mari berjuang bersama Ayah mertua, aku akan membantu sekuat tenagaku, dan Ayah mertua juga harus melakukan hal yang sama. "
Setelah keluar dari kamar Ayah mertua, Rien kembali ke kamarnya, lalu meraih ponselnya. Dia mencoba mencari akun media sosial milik seseorang yaitu, mantan kekasihnya yang berprofesi sebagai polisi. Setelah dia menemukan akunnya, segera Rien mengirimkan pesan, memintanya untuk bertemu karena ada hal yang ingin di bicarakan, tentu saja Rien mencantumkan masalah kasus yang sedang ingin dia selidiki. Tidak langsung mendapatkan jawaban, dan tentu saja Rien butuh bersabar untuk mendapatkan respon karena setelah mereka berpisah sebagai padangan kekasih, dia memblokir semua akses komunikasi dengan mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
Semalaman Rien terus memantau kamera yang terhubung ke laptop, tapi sial Ibu mertua bahkan tidak melakukan apapun selain memastikan Ayah mertua sedang tidur. Sebenarnya Rien juga cukup cemas, apakah Ibu mertua menyadari jika dia memasang kamera pengawas di sana? Apakah dia ada ketahuan? Apakah Ibu mertua sedang berakting mengikuti permainan yang sedang Rien mainkan tapi sebenarnya dia sedang menyiapkan serangan mematikan untuknya?
Rien menutup laptopnya, mengusap wajahnya dengan kasar. Ini sudah larut malam, dan dia masih belum bisa tidur karena memikirkan gal itu, juga mencoba untuk melihat apa saja yang di lakukan oleh Ibu mertua.
Besok paginya.
Rien keluar dari kamar saat hari sudah mulai siang, dia pikir tidak perlu buru-buru masak karena suami, serta anaknya tidak tinggal di rumah kan? Tapi begitu sampai di dapur, dia melihat hidangan untuk sarapan sudah siap, dan mau tidak mau Rien juga bergabung dengan Ibu mertua serta Kanya. Rien terdiam menata makanan yang sudah di siapkan untuknya, dan sialnya dia benar-benar menjadi sangat curiga sehingga memutuskan untuk tidak memakan makanan itu. Rien bangkit dari duduknya, mengambil satu buah apel untuk menu sarapan, di tambah teh hijau yang dia buat sendiri.
" Kak, nasi gorengnya tidak mau makan? "
" Dia pasti takut kau meracuninya, Kanya. " Ujar Ibu mertua lalu tersenyum tipis menatap Rien. Ibu mertua menyadari jika Rien begitu berhati-hati, jadi dia juga tida boleh lepas begitu saja dengan mulutnya seperti sebelumnya. Rien terlihat tida banyak bicara akhir-akhir ini, tapi Rien yang seperti itu membuatnya merasa yakin untuk bertindak sejauh yang dia inginkan.
Rien juga tersenyum menatap Ibu mertuanya.
__ADS_1
" Jaman sekarang ini, sulit sekali bagiku untuk membedakan mana yang ular daun dan mana yang ular berbisa. Seiring berjalannya waktu, bahkan ular daun bisa menyerupai ular kobra, begitu juga sebaliknya. Tapi aku yakin, cacing tanah hanyalah cacing tanah, tidak akan mungkin berbuah, iya kak Ibu mertua? " Rien kembali tersenyum menatap Ibu mertua seolah dia ingin mengatakan bahwa, dia cukup berani sebahaya apapun jalannya, dia dan tidak akan menyerah.
Ibu mertua tersenyum sinis.
" Benar, cacing tanah hanyalah cacing tanah. " Ibu mertua membalas senyum Rien dengan tatapan seolah dia sudah bersiap dan jangan salahkan dia bertindak sesuka hatinya.
" Ayolah, aku sedang makan kenapa kalan membicarakan cacing tanah segala? " Protes Kanya.
" Entahlah, hanya orang yang memiliki otak berupa kotoran yang akan mengatakan kalimat tidak berarti itu. " Ujar Ibu mertua.
Rien tersenyum miring.
" Jangan membicarakan kotoran, Ibu mertua. Walaupun kotoran menjijikan, nyatanya tidak ada yang berani menginjaknya. " Rien bangkit dari duduknya, berjalan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Bersambung.