Marriage Struggle

Marriage Struggle
Maafkan Aku....


__ADS_3

" Aku tidak memiliki banyak kesabaran, jadi cepat lakukan apa yang aku katakan, dan segera pulang untuk menemui putrimu, kau juga dapat melindungi Ayah mertuamu, benar kan? " Setelah mengatakan itu, Ibu mertua tersenyum dengan penuh maksud membuat Rien semakin ingin mencekik Ibu mertua hingga mati. Bagaimana bisa dengan menekan seperti itu meminta Rien untuk menghilangkan nyawa Ibu mertua aslinya? Bukankah jika memang harus membunuh orang seharunya adalah Ibu mertua yang harus dia bunuh?


Rien mencengkram kepalan tangannya, hingga kuku jarinya menusuk telapak tangannya, mengeluarkan darah meski tidak banyak. Tubuhnya gemetar, antara takut juga marah hingga bibirnya terkunci seperti tak bisa banyak bicara lagi. Hatinya terus menolak, tentu saja tubuhnya juga tetap terdiam enggan melakukan apa yang di inginkan Ibu mertuanya.


" Jangan membuatku ingin berbuat nekad, kalau kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan, maka lihat ini! " Ibu mertua menunjukkan layar ponselnya, Ayah mertua kini hanya bisa menangis tanpa suara, dari tatapan matanya saat satu pil masuk ke dalam mulutnya dia seperti mengatakan kepada Rien untuk tidak memikirkan dirinya, menyelamatkan Ibunya Gail juga adalah pilihannya. Rien menangis tak bisa dia tahan melihat Ayah mertua menelan obat itu dengan rela. Mungkin kalau bisa bicara sekarang, dia pasti akan mengatakan banyak ha untuk wanita yang sudah banyak dia sakiti. Ibunya Gail, Ibu mertua, mereka berdua adalah wanita yang merasakan sakit karenanya, jadi dia merasa tidak masalah di hukum seperti itu.


" Hentikan! Hentikan, dasar brengsek! Dia salah suami mu! Kau bilang kau mencintai dia, kenapa kau menyakiti dia?! Obat yang dia minum adalah obat untuk Menghancurkan sistem kerja otak bukan?! bagiamana kau bisa sejahat itu?! " Bentak Rien sembari menangis, suaranya juga semakin lantang dengan matanya yang menatap begitu tajam penuh kemarahan.


Ibu mertua tersenyum dengan tatapan yang aneh, sepertinya dia juga merasa kasihan, tapi hati yang penuh dendam itu seolah memintanya untuk melakukan lebih, lebih, dan lebih kejam lagi. Dia sendiri sebenarnya sudah paham sejauh apa dia melakukan perbuatan yang tidak baik, tapi hatinya juga terus menyalahkan orang lain yang telah membuatnya menjadi pendendam. Andai saja dia lebih di perlakukan dnegan baik, andai saja dia tidak begitu di sisihkan, mungkin hatinya juga tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Percayalah, manusia yang bisa melakukan banyak hal jahat, awalnya adalah manusia yang selalu menerima kejahatan dan kesakitan. Dia akan merasa ingin bertukar posisi, dia ingin menjahati orang lain untuk bisa merasakan bagiamana rasanya, dan setelah mendapatkan kepuasan dari sana, dia terus ingin melakukan itu agar setidaknya dia tidak akan berada di posisi yang dulu lagi.


" Jangan harap, akan ku beritahu padamu, obat itu memiliki kandungan yang jauh lebih tinggi dari pada yang sebelumnya. Hanya dengan dua butir saja dia pasti akan lumpuh total seperti mayat hidup. Soal pria yang aku cintai, sepertinya kau salah sangka. Dulu memang benar aku mencintai pria itu, tapi apakah kau tidak ingat aku sudah memberitahu bagaimana dia menyakiti ku? Aku sudah tidak mencintai siapapun, aku bahkan tidak mencintai diriku sendiri. Pria tidak berguna itu, hanya alat untuk ku menikmati air mata Ibunya Gail. Sekarang dia sudah tidak berguna, wanita itu juga sudah tidak berguna, jadi silahkan pungut salah satu sampah itu, dan buang satunya lagi. "


Rien tak bisa menahan tubuhnya lagi, dia menjatuhkan dirinya dengan posisi berlutut sembari menangis tersedu-sedu. Kepalan tangannya yang cukup kuat itu perlahan mengendur, terbuka, dan terangkat saling mengatup dengan sepasang matanya yang menatap Ibu mertua dengan tatapan memohon.

__ADS_1


" Aku mohon, aku mohon jangan melakukan ini, aku mohon...... Tolong jangan sakiti mereka berdua, aku tahu kau menderita hingga jadi seperti sekarang ini, tapi tidak kah kau memikirkan bagiamana jahatnya kau sekarang? Dia juga manusia, sama seperti mu, dia akan merasakan sakit, bahkan sakit yang mereka rasakan tidak sepadan dengan rasa sakit yang kau dapatkan. Lepaskan mereka, biarkan mereka hidup dengan baik, aku berjanji tidak akan mengatakan ini kepada siapapun, aku akan menutup mulutku rapat-rapat, aku bersumpah. "


Ibu mertua terkekeh, hanya sumpah dari orang mati lah yang bisa dipercaya. Ayah mertua juga dulu mengatakan banyak sekali sumpah setia, menjanjikan banyak hal bahagia, tapi kenyataannya tidak ada satu pun yang bisa dia penuhi, dan pergi kepada wanita lain, mengucapkan sumpah baru, lalu hidup dengan nyaman tanpa merasa bersalah.


" Jangan membuatku geli dengan sumpah mu. Kau juga sama seperti mereka, kau manusia, janji manusia hanyalah omong kosong yang bisa di lupakan kapan saja sesuai dengan suasana hati. Pergilah cepat, dorong tubuh wanita itu lewat jendela! "


Rien terus menangis sembari menggelengkan kepala, tidak! Dia benar-benar tidak sanggup melakukan hal itu, dia tidak sanggup kalau harus membunuh sesama manusia. Ini sangat berat, jadi dia tetap berada di sana tak bergerak sama sekali.


Ibu mertua tersenyum, lalu mengubah panggilan videonya ke orang lain.


Rien mengeryit bingung, apalagi ini? Tadinya Rien pikir ini tidak ada hubungannya dengan dia karena Ini mertua sedang menghubungi Jenette, tapi begitu mendengar suara celotehan Cherel, Rien tersentak dan membeku. Tubuhnya yang sudah gemetar kini menjadi semakin gemetar hebat, tidak! Kalau sudah menggunakan anaknya Rien tentu saja akan melakukan apapun bukan?


" Tidak! Jangan! Jangan sakiti anak ku! "

__ADS_1


Kau sudah membuatku di buang oleh suami ku yang selama ini aku cintai, Rien. Aku membencimu, aku sangat membencimu dan selalu memikirkan di mana aku bisa melihat mu menangis tak berdaya. Putri kesayangan mu ada bersama ku, dia sangat cantik, dia gemuk dan aku tiba-tiba berpikir, bagiamana jika aku menggores sedikit kulit putihnya?


Rien menggeleng dengan mata yang udah mengeluarkan banyak selain air mata. Dia ingin menjerit menangis begitu kencang, tapi suaranya tertahan di barengi dengan dadanya yang sangat sakit.


Bagiamana rasanya kehilangan anak dan di benci suami, aku ingin kau merasakan ini juga.


Seperti itulah yang di katakan Jenette sembari memainkan belati tajam di wajah Cherel. Entah bagaimana caranya bisa merebut Cherel dari Ibunya, yang pasti Ibunya Rien juga sedang dalam keadaan yang tidak baik.


" Tidak! Aku mohon jangan lakukan itu! Tolong, kalau kau mau ambil saja nyawaku! kau bisa membunuhku! " Pinta Rien sembari menangis.


" Kalau begitu, bangkit lah, dorong tubuh wanita itu, cepat! "


Rien tidak bis lagi mengelak, Cherel adalah hidupnya, jadi dia tidak ingin membuang waktu lagi.

__ADS_1


" Ibu, maafkan aku..... " Rien menyentuh bahu Ibu mertuanya yang terlihat sangat ketakutan. Perlahan Rien mengajaknya untuk berdiri dan mendekati Jendela.


Bersambung.


__ADS_2