
" Halo, Ibu ku tersayang? "
Rien, dan juga Ibu mertua membulatkan matanya karena suara itu adalah suara Gail, lalu tak lama pintu ruangan Ibunya Gail terbuka.
" Gail? " Rien terkejut melihat Gail membuka pintu sembari memegang satu ponsel di tangannya.
Ibu mertua terdiam membeku Sebentar, lalu mencoba tersenyum berharap dia dapat membuat Gail tertipu.
" Gail, kenapa kau bisa sampai di sini? "
Gail terdiam, dia tidak menunjukkan ekspresi apapun, saat melihat Rien juga saat melihat Ibu mertua.
Rien tidak mengatakan apapun, melihat Gail yang diam sepertinya Gail tidak akan mempercayai apapun termasuk apa yang dia lihat sekarang. Tapi, bagaimana bisa ponsel yang di hubungi Ibu mertua ada pada Gail? Lalu bagaimana bisa Gail sampai di sini? Pertanyaan itu sungguh membuat Rien begitu penasaran tapi dia juga tidak berniat untuk bertanya. Bagiamanapun hubungannya dengan Gail sudah tidak baik-baik saja jadi Rien juga tidak akan mengharapkan apapun, toh sekarang yang paling penting adalah menyelamatkan Ibunya Gail, lalu menjemput Cherel dan menemui Ibunya dengan segera karena Ibunya Rien pasti tidak sedang baik-baik saja. Pagi tadi Cherel di jaga oleh Ibunya Rien, jadi untuk merebut Cherel tentu caranya dengan tidak baik, atau mungkin juga bisa mencelakai Ibunya kan?
" Gail, bisa dengarkan Ibu dulu? Biarkan Ibu menjelaskan segalanya padamu agar kau tidak salah sangka. "
__ADS_1
Gail terlihat mengeraskan rahangnya, matanya sempat terlihat dingin seperti ingin melampiaskan kemarahannya, tapi beberapa detik Gail tersenyum dan menatap Ibu mertua seolah dia tidak terlihat keberatan untuk mendengarnya. Melihat itu Rien menjadi kecewa, tapi lagi-lagi dia mencoba untuk tidak perduli.
" Sebenarnya Ibu ingin memberitahu semua ini setelah pulang dari sini, tapi sepertinya kau datang dengan banyak kesalahpahaman. Jadi Ibu ingin kau melihat benar semuanya tidak seperti yang terlihat sekarang. "
Gail tersenyum lalu mengangguk.
" Aku sudah melihatnya, aku sudah mengamatinya selama beberapa waktu terakhir ini, Ibu. " Ucap Gail tanpa ekspresi, dan kalimat yang keluar dari mulut Gail barusan benar-benar membuat Ibu mertua terdiam tak lagi bisa berkata-kata. Dia merasa Gail di hadapannya tidak seperti Gail biasanya yang bodoh dan penurut. Tunggu, apakah Gail selama ini berpura-pura bodoh untuk menipunya juga?
Ibu mertua menatap kedua bola mata Gail yang sama sekali tak menunjukkan ekspresi apapun. Kenapa? Padahal biasanya Gail selalu menatapnya dengan tatapan lembut, biasanya dia akan menatapnya dan tersenyum, biasanya dia akan terlihat benar-benar menyayangi dirinya, tidak perduli apakah dia anak kandung atau bukan. Lalu kenapa bisa Gail menunjukan ekspresi datar seperti sekarang ini? Sungguh Ibu mertua bisa merasakan adanya hal yang tidak beres.
" Apa yang kau amati, Gail? "
Ibu mertua terdiam, dia merasa hatinya sakit minat Gail berekspresi semacam itu karena sudah terbiasa dengan kelembutan dan kasih Gail selama ini. Kenapa bisa begitu? Padahal selama ini dia sama sekali tidak mencintai Gail seperti tindakannya, dia bahkan hampir setiap hari mendoakan agar Gail mati, dia ingin membuat Ibunya Gail lebih menderita dati pada apa yang sudah dia alami sekarang. Tapi, ternyata melihat ada kebencian dari mata Gail untuknya membuatnya sangat sakit.
" Semuanya yang Ibu lakukan, aku sudah mengikuti permainan Ibu dan menunggu waktunya tiba. Aku pikir aku bisa menyelematkan kedua orang tuaku secara diam-diam, tapi Ibu terlalu ketat dan teliti. Apa Ibu tahu bagiamana rasanya mengetahui kebenaran ini? " Gail menatap Ibu mertua dengan tatapan pilu.
__ADS_1
" Aku seperti kehilangan nafas, aku tidak tahu harus bagaimana, dan hampir setiap malam aku diam-diam terbangun dan melamun. Padahal aku sangat menyayangimu, aku sangat mengidolakan mu, aku selalu berpikir bagaimana caranya membuat mu bahagia, tapi kau malah selalu memikirkan bagiamana membuatku menderita. Kau memberiku banyak harapan, banyak cinta, tetapi hatiku ini di hancurkan oleh mu, kebaikan mu, kasih sayang yang kau berikan, perhatian yang melebihi perhatian mu terhadap Theo, aku terus menolak percaya, tapi semakin aku menolak, ternyata aku semakin merasakan sakit. "
Ibu mertua tidak mengatakan apapun. Padahal biasanya dia bisa mengatakan banyak hal yang pada akhirnya akan membuat Gail kembali mempercayai dirinya. Tapi kali ini dia seolah merasa lidahnya begitu Kelu, dia masih tidak percaya jika anak yang selalu menatapnya dengan teduh akan mengatakan semua ini. Ibu mertua seperti merasa kembali, Dejavu, dengan dirinya saat masih anak-anak. Dia di kecewakan oleh Ayahnya, oleh kenyataan, dan dari hal-hal inilah hatinya jadi penuh dendam dan merencanakan segala cara untuk membalas dendam dengan cara yang begitu jahat.
" Maafkan aku, Ibu. Mulai sekarang biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya. "
Setelah Gail mengatakan itu, dua orang dari pihak berwajib masuk ke dalam ruangan, dan langsung menahan tubuh Ibu mertua, melangkah borgol di tangannya.
Ibu mertua tidak menolak, tidak mengatakan apapun, dia diam seribu bahasa karena sepertinya apapun yang dia lakukan tidak akan membuatnya di benarkan sekarang. Apalagi melihat Gail yang membuang muka saat dia di giring keluar dari sana, dia jadi semakin tidak ingin berkata-kata. Rencana yang sudah dipikirkan matang-matang ternyata tidak berjalan seperti yang dia inginkan. Semuanya hancur berantakan, hatinya sakit, tapi dia juga masih belum berhenti membenci keadaan yang lagi-lagi membuatnya berada di lembah keterpurukan.
Salah, ternyata dia salah dalam memperhitungkan perasaan manusia lainnya. Dia pikir selama ini sudah membuat Jenette semakin membenci Rien, dia sengaja memanjakan Rien dengan tujuan mengadu domba keduanya, tapi Jenette juga tidak bisa membuang hati nuraninya, Rien juga menolak membunuh karena hati nuraninya, jadi sekarang dia cukup sadar kalau dia adalah satu-satunya orang yang tidak mengambil hati nurani sehingga dengan mudahnya dia bisa melakukan apapun, mempermainkan nyawa orang lain.
Kecelakaan kedua orang tua Ibunya Gail, itu juga karena ulahnya. Dia tidak tahan mengingat betapa buruk perlakukan mereka berdua padahal dia juga adalah anak yang lahir dari satu Ayah dengan Ibunya Gail. Kekejaman, kejahatan secara mental yang di lakukan Ayah kandung dan Ibu tirinya membuat seorang anak tumbuh dengan hati mendendam. Tidak tahu caranya mencintai, tidak tahu caranya mengasihi, juga tidak tahu caranya mengerti perasaan orang lain.
" Ah, sangat di sayangkan sekali, Nyonya. Padahal di usia anda sekarang ini seharusnya anda menghabiskan waktu bersama cucu dengan bahagia. " Ujar salah satu pihak berwajib.
__ADS_1
Bahagia? Sejak kecil hingga sekarang dia bahkan tidak tahu yang mana yang benar-benar membuatnya bahagia. Tawa dan senyum yang selama ini terbit dari bibirnya adalah palsu, dia sama sekali tidak pernah tersenyum di mana dia benar-benar bahagia. Bahkan senyum yang dia perlihatkan saat menyakiti orang lain juga adalah palsu, dia tidak benar-benar bahagia karena setiap menyakiti orang hatinya justru tak merasakan apapun.
Bersambung.