
Gail mondar-mandir di teras rumahnya sembari menunggu Rien pulang ke rumah. Ini sudah akan gelap, tapi Rien masih saja belum kembali, begitu juga dengan Theo yang sampai detik ini sama sekali tidak bisa di hubungi. Bukan lagi mencemaskan tentang kecurigaan antara dugaan Jenette yang menuduh Rien juga Theo tengah bersama, Gail justru merasa takut kalau Rien tidak kembali ke rumah.
Sudah satu jam lebih dia berada di teras rumah, tapi hari mulai malam nyatanya Rien juga masih belum kembali. Gail merasa perubahan ini terlalu besar sehingga membuat hatinya terus merasa tak tenang. Karena tak tahu masih betapa lama lagi Rien membutuhkan waktu di luar, Gail akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Tai begitu dia berbalik suara gerbang rumahnya terdengar, jadi dengan buru-buru Gail kembali berbalik untuk melihat siapa yang masuk.
" Theo? "
Theo masih tak bicara, matanya sembab dan dia juga terlihat sangat kacau meskipun sudah seharian ini menyendiri. Gail menghela nafas, menepuk punggung Theo untuk membuatnya lebih kuat dan sabar lagi dari pada sebelumnya.
" Sudahlah, kau masih bisa punya anak lagi nanti. Kau juga tidak akan bisa melakukan apapun dengan bersedih terus seperti ini. " Ujar Gail yang tak mendapatkan tanggapan apapun dari Theo. Dia hanya diam, menatap seolah dia menjelaskan betapa lelahnya dia hari ini.
" Aku masuk dulu, kak. " Ucap Theo lalu mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
" Theo, kau tahu kenapa Rien pergi? "
Theo menghentikan langkah kakinya, berbaik untuk menatap Gail dengan tatapan yang sama sekali tak bisa Gail artika apa maksudnya.
" Kenapa kak Gail bertanya padaku? Jangan bilang Kakak juga menuduhku memiliki hubungan tidak biasa dengan istri kakak. "
Gail tersentak, dia tak bisa lagi mengatakan apapun sebagai alasan karena ucapan Theo benar-benar membuatnya mati kutu. Sungguh dia menyesal karena menanyakan keberadaan Rien kepada Theo yang membuat Theo jadi berpikir kalau Gail juga sama buruknya cara berpikir yang tak beda seperti Jenette.
" Kak, kalaupun aku menginginkan kakak iparku, aku yakin sejuta persen aku akan di tolak mentah-mentah karena istrimu adalah wanita yang tidak akan melakukan kesalahan yang merusak moral. Kau bisa meragukan ku, tapi kau adalah pria terbodoh jika meragukan istrimu, kau benar-benar sangat rugi jika memiliki pemikiran seperti itu. "
Setelah mengatakan itu Theo langsung masuk ke dalam kamar. Bukan kamarnya dengan Jenette, tapi Theo memilih untuk tidur di kamar tamu karena dia belum siap melihat Jenette. Tahu, Jenette juga sama kehilangan seperti yang dia rasakan, tapi kemarahan yang dia rasakan tehadap Jenette benar-benar begitu sulit untuk di tahan. Jadi dari pada nantinya dia menyakiti Jenette dengan tangannya, akan lebih baik kalau mereka jauh dulu, saling menenangkan diri agar bisa berpikir jernih untuk mengambil keputusan selanjutnya.
Gail yang sekarang yakin benar jika istrinya tidak bersama Theo, dengan segera dia meraih ponselnya untuk kembali menghubungi Rien. Panggilan pertama hingga ke empat sama sekali gak mendapatkan jawaban, tapi begitu panggilan ke lima akhirnya Rien menjawab panggilan telepon dari Gail.
" Sayang, kau di mana? Ini sudah malam, apa kau sudah mau pulang? Kau di mana, biar aku yang jemput ya? " Tanya Gail begitu sambungan teleponnya terhubung.
__ADS_1
Tidak perlu, aku akan tidur bersama Cherel di rumah Ayah dan Ibuku.
Gail terdiam sebentar. Pada akhirnya tetap saja Rien tidak kembali ya?
" Apa aku boleh menyusul mu kesana? "
Tidak, aku ingin berdua saja dengan Cherel.
" Aku, alihkan panggilan menjadi panggilan video, tolong angkat ya? "
Apa kau sedang memastikan aku ada di mana?
Tanya Rien begitu panggilan video terhubung. Dengan segera Gail mengelak, dia mengatakan jika dia merindukan Rien juga Cherel, hanya ingin tahu dan melihat secara langsung anak dan istrinya. Padahal kalau boleh jujur, Gail memang memikirkan apa yang di katakan oleh Rien tadi, tapi dia juga tidak mungkin mengakuinya dan membuat Rien semakin marah padanya bukan?
" Sayang, besok pagi-pagi aku jemput ya? "
Gail memaksakan senyumnya, benar-benar tidak mudah membuat Rien kembali seperti sebelumnya.
" Baiklah, besok hubungi aku jam berapa kau pulang ya? Besok kan akhir pekan jadi aku tidak ada yang di kerjakan. "
Rien menyetujui ucapan Gail, lalu setelah itu dia mengakhiri panggilan video.
Ternyata sedari tadi Kenya menguping pembicaraan Gail dan Rien, jadi dia berencana untuk membuat masalah di antara mereka berdua menjadi peluang untuknya.
" Kak Gail? "
" Iya? "
__ADS_1
Kanya tersenyum seraya berjalan ke arah Gail, lalu menatapnya dengan lembut.
" Kak, malam ini ada pertandingan sepak bola, bagaimana kalau kita menonton bersama? Kak Gail tahu kan bagaimana suasana rumah hari ini, sepertinya kita butuh hiburan sedikit deh. "
Di sisi lain.
Rien menjauhkan ponselnya, lalu membuang nafasnya. Dia sengaja tidak ingin di jemput karena dia harus mengambil hasil lab besok jadi dia akan pulang setelah mendapatkan hasil lab.
Esok harinya.
Rien memegangi dadanya memegang amplop berisi hasil lab dari obat-obatan yang di konsumsi oleh Ayah mertuanya. Jujur saja dia berharap obat itu adalah obat yang seharusnya di minum Ayah mertuanya, jadi perasaan takut kepada Ibu mertuanya akan sedikit berkurang. Perlahan Rien membuka amplop itu, membaca dengan seksama apa artinya. Hah! Sial! rupanya dia benar-benar tidak paham sehingga dia membutuhkan Dokter yang pasti lebih paham untuk mengartikannya bukan? Rien berpikir sejenak, lalu dia teringat dengan kakak iparnya jadi dia memutuskan untuk menemui kakak iparnya, tapi dia juga sudah lebih dulu menghubungi kakaknya agar tidak terjadi salah paham nantinya.
" Dari mana kau mendapatkan obat-obatan ini, Rien? " Tanya Kakak ipar Rien dengan darinya yang mengeryit dan tatapan yang begitu penasaran membuat jantung Rien berdegup kencang.
Rien tersenyum, tapi sebenarnya dia sedang berpikir bagaimana caranya beralasan agar Kakak iparnya tidak merasa curiga.
" Aku menemukan obat itu di kotak obat di rumah, aku takut obat itu berbahaya makanya aku cek lab, kak. "
Kakak ipar menghela nafasnya, tapi tatapannya masih terlihat curiga kepada Rien.
" Obat ini memiliki zat kimia yang fungsinya akan melumpuhkan saraf secara perlahan. Obat ini juga bisa membuat gangguan ingatan, delusi yang cukup parah jika terus di konsumsi. "
Rien membeku, bahkan dia sampai tidak bisa bernafas beberapa detik. Gila! jadi selama ini Ayah mertuanya sering berteriak tidak jelas karena obat yang membuatnya delusi parah? Rien mencengkram jemarinya dengan tubuhnya yang gemetar hebat.
Jadi, seberapa mengerikannya Ibu mertua?
Bersambung.
__ADS_1