
Rien memikirkan benar apa yang sebenarnya terjadi, dan bagiamana bisa ada surat dari rumah sakit jiwa? Rien ingat benar nama rumah sakit itu, jadi dia memutuskan untuk menghubungi Marco dan meminta tolong kepada Marco untuk mencari tahu tentang rumah sakit Grevverent. Tentu saja ini bukan masalah sederhana, meskipun nantinya Ibu mertua akan mencoba segala cara agar bisa menutupi apa yang ingin dia tutupi, tapi tidak ada kejahatan yang sempurna bukan?
Setelah mengirimkan pesan kepada Marco, Rien segera beranjak keluar dari kamar, dan dia akan menemui Marco di jam makan siangnya nanti. Entah akan jadi masalah atau tidak, Rien benar-benar tidak bisa memikirkan hal lain selain mencari semua jawaban dari rasa penasaran yang begitu mengganggunya. Sembari menunggu jam maka siangnya Marco, Rien memutuskan untuk menemani Cherel bermain di rumah nenek dan kakeknya terlebih dulu.
Jam makan siang.
" Rumah sakit itu masih beroperasi, tapi sudah tidak banyak pasien yang berada di sana karena beberapa hal. Tempatnya yang jauh dari keramaian, dan tempat itu adalah tempat yang paling cocok untuk penyembuhan penyakit jiwa. Beberapa bulan lalu ada kasus di mana satu pasien gangguan jiwa yang mencoba ingin kabur, tapi karena tingkat pengawasan yang ketat, dia menjadi semakin tidak terkendali, lalu dia menjatuhkan diri dari atas rumah sakit. Sejak kejadian itu rumah sakit Grevverent benar-benar membatasi pasien yang di rujuk kepadanya. "
Rien terdiam sebentar, tempat yang jauh dari keramaian, bukankah itu juga bisa menjadi tempat yang di bisa digunakan oleh orang untuk menahan seseorang?
" Apakah mungkin orang yang kita cari berada di sana? " Tanya Rien.
Marco menghela nafasnya.
Tentu saja kemungkinan besarnya adalah seperti itu, di banding menyekap orang di dalam ruangan atau tempat yang jauh, tentu saja rumah sakit jiwa bisa menjadi solusi terbaik. Hanya perlu membayar tagihan biayanya setiap bulan, orang yang di tahan dengan diagnosa memiliki gangguan kejiwaan tentu bisa dengan mudah tinggal di ruang sakit jiwa yang memiliki keamanan cukup baik. Masalahnya adalah, Rien tidak membuat surat laporan apapun yang membuat Marco tidak bisa banyak membantu. Tapi bukan tidak mungkin kalau tidak menggunakan cara yang lain bukan?
__ADS_1
" Aku akan mencoba mencari tahu, karena kalau memang benar orang yang kita cari selama ini berada di sana, artinya Ibu mertuamu pasti juga sudah akan bertindak, mengantisipasi sebaik mungkin untuk menutupi kebenarannya. "
Rien mengangguk setuju. Selama ini semua memang tampak baik-baik saja seolah Ibu mertua tidaklah beda dari Ibu mertua sinis lainnya. Tapi, kalau di ingat kembali semua yang terjadi bukankah ada banyak kejanggalan yang tidak masuk akal? Tuntutan uang bulanan yang tinggi, semua orang di paksa untuk berhemat tapi dia tidak melakukannya. Cara dia memperhatikan semua orang yang berada di rumah, cara dia bicara dengan Gail dan Theo yang berbeda, perlakukan antara Rien dan Jenette yang sangat berbeda, Ibu mertua seperti sedang mempermainkan semua orang, dia seperti ingin memegangi kendali atas semua orang yang tinggal di rumah itu, ataukah, memangsa enak awal sudah berada di bawah kendalinya?
Rien menggenggam tangannya dengan segala pemikirannya. Bagiamana jika keberanian yang Rien dapatkan sekarang juga karena kendalinya? Tidak, kenapa semua nampak samar dan membuat Rien begitu bingung?
" Aku akan memulia rencananya besok pagi, jadi kau akan mendapatkan kabar saat aku selesai nanti. " Ucap Marco yang langsung mendapati anggukan setuju dari Rien.
Setelah menemui Marco, Rien kembali ke rumah mertuanya, tapi sekarang dia membawa Cherel pulang untuk melihat apakah ada perubahan atau tidak. Tapi begitu Rien sampai di rumah, dia benar-benar di kejutkan dengan apa yang dia lihat saat itu.
Rien hanya tersenyum tak ingin mengatakan apapun lagi. Kenapa? Itu karena dia melihat senyum puas dari wajah Ibu mertuanya seolah ingin menjelaskan betapa tidak main-main segala apa yang dia ucapkan.
Seperti biasanya saat bertemu anak dan istrinya, Gail akan segera menuju mereka apalagi sudah beberapa hari Cherel tinggal di rumah nenek dan kakeknya jadi dia sangat rindu sekali dengan putrinya itu. Gail mengambil Cherel dari gendongan Rien, lalu mencium kening Rien.
" Kalian benar-benar sangat akur ya? Aku sampai tidak tahu harus merespon bagaimana saat kau menyapa, Greta. " Ujar Rien membuat Greta tersenyum tersenyum tapi tidak tahu maksud busuk apa yang ada di dalam hati wanita itu.
__ADS_1
" Sayang, aku baru tahu beberapa saat lalu kalau ternyata Greta adalah adik dari klienku. Dia tadi tidak sengaja bertemu Ibu di pusat belanja, dan memutuskan untuk mampir dan menyapa kita. "
Rien tersenyum dengan tatapan dingin, lalu menatap Ibu mertuanya. Jadi Ibu mertua ingin menyodorkan lagi wanita untuk Gail? Hah! Sungguh sangat serius dalam berucap dan bertindak, tapi sepertinya Rien juga bisa mengambil hikmah dari apa yang di lakukan oleh Ibu mertua. Mungkin tujuannya ingin mengacaukan Rien dan Gail adalah untuk memecahkan konsentrasi dan menumpuk perdebatan yang akhirnya berujung tidak baik. Tapi, suami tetap saja adalah orang lain, dia memiliki hati, perasaan, dan juga harga dirinya sendiri. Kalau memang pada akhirnya Gail di kalahkan oleh Ibu mertuanya dan masuk ke dalam jurang berlumpur, maka Rien hanya bisa tersenyum pahit dan meminta maaf karena tidak bisa membantu Gail naik, dan ikut merasakan kotor dari Gail. Selama itu bukan Cherel, kakaknya, dan juga orang tuanya, maka Rien akan merelakan saja apa yang tidak pantas untuk dia perjuangkan.
" Ibu mertuaku memang adalah Ibu mertua yang baik, kenapa hanya bawa satu? Apakah tidak ingin membawa lima, enam, mungkin sepuluh? " Tanya Rien lalu tersenyum menatap Ibu mertua, dan menatap Greta yang terlihat begitu licik dengan tatapan matanya yang aneh itu.
Gail yang tidak enak karena takut Rien akan mengatakan apa yang tidak sopan, maka Gail Mencoba untuk membawa Rien masuk ke dalam kamar dengan merangkulnya.
" Apa kau malu memiliki istriku di hadapan mantan kekasihmu, sayang? " Rien menatap Gail dan tersenyum.
" Kenapa aku harus malu? "
Rien menghela nafasnya, menyingkirkan tangan Gail dan mengambil putrinya.
" Ibumu sudah susah payah membujuk Greta untuk datang ke rumah, kenapa kau tidak temani saja dia mengobrol? " Setelah mengatakan itu Rien berjalan menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Bersambung.