
" Semua ini gara-gara kau! Kalau saja kau tidak terus menekan Jenette, tidak terus menyuruh dia melakukan aktivitas ini itu, dia mana mungkin akan kontraksi dini! " Protes Ibu mertua kepada Rien. Entah sebenarnya bagaimana cara berpikir Ibu mertuanya, tapi Rien saat itu hanya bisa diam meski mulutnya gatal ingin menjawab. Bagaimana selama ini Rien sudah memperingati untuk jangan terlalu banyak tidur, meskipun menjadi Ibu hamil melelahkan, bukankah tidak baik juga terlalu sering tidur? Setelah sarapan selesai, Jenette pasti akan tidur, bangun lalu makan siang, tidur lagi sampai Theo pulang untuk makan malam bersama. Kegiatan itu benar-benar hampir setiap hari menjadi kebiasaan Jenette yang tidak bisa di hilangkan.
Rien menunduk, bukan dia sedih di bentak atau bagaimana, tapi dia merasa harus menahan amarahnya. Bukankah selama ini Rien memang meminta Jenette beraktivitas namun tak sekalipun Jenette melakukanya? Lalu dimana letak salahnya? Ternyata memang benar dugaannya, Ibu mertua mengincar Rien, dia seperti ingin mendorong Rien keluar dari rumah, pergi sejauh mungkin. Sebenarnya apa yang sedang di rencanakan Ibu mertuanya sampai merasa kalau Rien adalah ancaman sehingga perlu menyingkirkan dirinya?
" Ibu, Rien memang meminta Jenette melakukan aktivitas, tapi Jenette tidak melakukan apapun selain marah kan? Jadi jangan marah lagi, mari kita tunggu saja Dokter yang sedang menangani Jenette. " Ujar Gail yang tahu benar bahwa apa yang dia katakan memang benar.
Theo yang berada di sana hanya bisa diam dengan frustasi. Dia benar-benar terkejut sekali dengan semua ini karena terjadi dengan tiba-tiba, begitu dia sampai di rumah Rien membawa Jenette yang sudah mengeluarkan darah mengalir ke kakinya. Dia bisa melihat benar bagiamana Rien begitu khawatir, bahkan selama di dalam perjalanan ke rumah sakit Rien selalu mengatakan kepada Jenette untuk tetap mengatur nafasnya, dan tenang agar darah yang keluar tidak semakin deras. Jadi bagaimana mungkin Rien yang seperti itu memilki niat mencelakai istrinya?
" Kakak ipar, nanti kalau kak Jenette sudah baikan, tolong jangan menekannya untuk melakukan ini itu, meskipun dia tidak mengerjakan apapun, tapi ucapan kakak ipar amanat membebaninya, dan menekan dirinya. " Ujar Kanya.
Rien tersenyum tipis, ternyata Kanya benar-benar sangat hebat menggunakan wajah polosnya untuk menyembunyikan wajah penuh borok miliknya. Kalimat nasehat yang bisa menjadi kalimat menyudutkan, menyalahkan, menggiring opini untuk semua orang menyalahkannya. Hebat, tapi sayangnya Rien sedang tida tertarik untuk berdebat, toh Kanya juga pasti akan terus menekan, di tambah Ibu mertua yang memang terus menyalahkan dirinya. Jadi mari lihat saja apa yang akan terjadi, bagaimana penjelasan Dokter, dan bagiamana mereka akan beraksi. Entah Rien benar menjadi penyebab atau bukan, apa pentingnya untuk saat itu? Bukankah yang paling utama adalah keselamatan Jenette dan juga bayinya?
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Dokter yang menangani Jenette keluar dari ruangan, dan segera semua orang berjalan mendekat untuk mengetahui bagaimana keadaan Jenette juga bayinya. Dokter itu menghela nafas, dia terlihat sedih begitu ingin menyampaikan bagaimana keadaan Jenette juga bayinya yang masih belum di lahirkan.
" Maaf, bayi pasien sudah meninggal di dalam kandungan. Kami tidak bisa mengatasi masalah ini karena saat pasien datang kemari, bayinya sudah tidak memliki detak jantung. Pendarahannya sudah bisa di hentikan, dan setelah beberapa saat menunggu keadaan pasien lebih tenang, kita harus segera mengeluarkan bayinya. "
Ibu mertua hampir saja jatuh, dan untungnya Gail menahan tubuh Ibu mertua. Theo juga tidak bisa menahan kesedihannya, dia duduk lemas sembari menangis karena harus menerima kenyataan yang begitu menyedihkan ini. Padahal dia sudah sebisa mungkin tidak banyak menuntut, tidak banyak meminta Jenette melakukan apa yang sebenarnya dia inginkan, tapi kenapa tetap saja berakhir seperti ini? Dia sudah mengidamkan bayinya, dia sudah membayangkan betapa indahnya memiliki waktu yang akan dia habiskan bersama putranya, bermain bersama, mengajari banyak hal, dan melakukan kegiatan lain bersama.
" Semua ini, semua ini pasti gara-gara kau! " Tunjuk Ibu mertua kepada Rien. Dia menyalahkan Rien sepenuhnya atas apa yang terjadi dengan cucunya itu.
" Jenette selalu tertekan dengan apa yang kau lakukan, dia menderita dan terlalu sedih karena ulah mu! " Ibu mertua mencoba untuk mendekati Rien, mungkin niatnya ingin menampar Rien, tapi Gail menahan tubuh Ibunya aga tak mendekati istrinya.
Rien menyeka air matanya, dia tentu saja merasa sedih dengan apa yang terjadi pada bayinya Jenette, bagaimanapun dia adalah seorang Ibu jadi dia tahu benar bagaimana mengerikannya seorang Ibu kehilangan anaknya, belum lagi Jenette sangat membanggakan karena akan memiliki putra di hadapan Rien, sekarang Jenette pasti hancur sekali bukan?
__ADS_1
" Bukan itu masalahnya, Nyonya. " Ucap Dokter langsung membuat Ibu mertua tak lagi fokus menatap Rien dengan marah.
" Beberapa waktu lalu dia sempat memeriksakan diri karena kakinya sangat bengkak, saya sudah memberitahu bagiamana caranya untuk mengurangi bengkak pada kakinya, mulai dari pola makan, cara tidur, dan paling saya tegaskan adalah untuk tidak terlalu banyak tidur. Tentu saja kalau di siang hari cukup satu atau dua jam saja, tapi sepertinya pasien menghabiskan waktunya untuk tidur saja. Ibu hamil yang terlalu sering tidur membuat tekanan darahnya menjadi rendah, asupan darah ke janin menjadi tidak lancar mengakibatkan kelahiran prematur, atau lahir mati. " Ucapan dokter barusan benar-benar membuat Ibu mertua terdiam tak bisa berkata-kata. Kanya yang sempat menyalahkan Rien juga jadi tidak bisa banyak bicara lagi. Sungguh dia merasa malu karena ternyata Rien yang sudah memperingati berkali-kaki kepada Jenette hanya di anggap angin lalu saja, bahkan Kanya juga pernah mengatakan kepada Jenette untuk tidak memikirkan ucapan Rien, dan menuduh Rien hanyalah iri saja karena Jenette akan memiliki anak laki-laki.
Theo mengusap wajahnya, menyingkirkan air matanya yang memenuhi wajahnya. Dia tersenyum miris, menertawakan kebodohan istrinya, menertawakan keegoisan istrinya, menertawakan istrinya yang begitu mudah marah, menyalahkan Rien, menuduh Rien ini itu, dan sekarang istrinya sendiri menjadi penyebab kematian putranya. Egois, arogan, merasa paling benar sendiri, ingin di hargai dan yang paling di utamakan, nyatanya semua itu adalah senjata pembunuh bayi mereka.
" Begini jadinya yang Ibu inginkan bukan? " Theo menatap Ibunya dengan tatapan yang begitu putus asa. Dia ingat benar bagaimana Ibunya memperlakukan Jenette, memanjakan Jenette, kalau saja Ibunya tidak pilih kasih, tentu bayinya pasti akan lahir dengan sehat bukan?
" Apa maksud pertanyaan mu itu, Theo? "
Theo menghela nafasnya, membiarkan air matanya jauh kembali.
__ADS_1
" Kalau saja Ibu memperlakukan Jenette seperti Rien, anakku tidak akan mati seperti ini, Ibu. "
Bersambung.