Marriage Struggle

Marriage Struggle
Sebuah Dugaan


__ADS_3

" Kak, aku boleh ikut ke luar kota tidak? Aku kan jarang sekali jalan-jalan apalagi sampai ke luar kota, boleh ya? " Pinta Kanya kepada Gail, bahkan dia tidak ragu untuk bergelayut membuat Gail dengan jelas terlihat tidak nyaman. Rien bisa melihat itu, melihat bagaimana Kanya sengaja ingin membuatnya marah, membuatnya merasa seperti sedang berlomba untuk memperebutkan perhatian, dan ketertarikan suaminya. Cemburu, kesal, tentu perasaan itu masih ada. Tapi jika pada akhirnya Gail bisa terseret arus, tergoda oleh Kanya, maka setidaknya Gail sudah cukup membuktikan bahwa dia bukan pria yang layak untuk menghabiskan cinta darinya. Namun jika Gail bisa bertahan, maka Rien juga akan mempertahankan Gail sesulit apapun keadaannya.


Melihat istrinya yang diam gak merespon, Gail justru terlihat sangat tidak nyaman. Apakah Rien tidak merasa cemburu? Ataukah Rien sudah begitu jengah, muak, jadi dia memilih untuk diam dan tidak melakukan apapun? Gail menghela nafas, menyingkirkan tangan Kanya dari lengannya. Rien adalah wanita yang aktif menyuarakan isi hati sbelumnya, jadi kalau dia sudah memilih untuk diam, maka Gail juga cukup tanggap jika Rien benar-benar sangat muak hingga enggan untuk perduli.


" Kanya, kalaupun ingin membawa seseorang lagi, tentu saja aku akan lebih memilih untuk pergi membawa istriku sendiri. " Ucap Gail setelah dia melepaskan tangan Kanya dari lengannya.


Rien menghela nafasnya, dia benar-benar lelah sekali, dia ingin istirahat lebih cepat agar besok bangun bisa merasa lebih segar lagi.


" Sayang, sudah mau tidur? " Tanya Gail, dia ikut bangkit untuk menyusul istrinya jika memang benar tujuan istrinya adalah untuk pergi ke kamar.


" Apakah menurutmu aku tahan berada di sini? " Rien melanjutkan langkah kakinya, dan langsung Gail menyusulnya. Seperti yang di katakan oleh Ibu mertua, Kanya hanya bisa bersabar untuk sekarang ini, asalkan pada akhirnya dia bisa bersama dengan Gail, maka apa yang dia lakukan ini bukanlah hal yang mustahil untuk dia lakukan.


Sepanjang malam rupanya Rien benar-benar tidak bisa tidur, dia terus memikirkan bagaimana dia harus bertindak, dan apa yang akan di lakukan oleh Ibu mertuanya besok? Hah! Rien akhirnya memiliki ide untuk membeli kamera pengawas berukuran kecil yang akan dia letakkan di kamar Ayah mertuanya.


Besok paginya.


Gail dan Rien mengatakan Cherel dulu ke rumah orang tua Rien, dan dari sana Gail langsung berangkat bersama dengan Theo untuk ke luar kota.

__ADS_1


Di rumah tengah, raungan itu adalah ruangan khusus yang di siapkan oleh mertua Rien untuk cucunya bermain ketika mereka datang ke rumah. Di sana juga ada Rien dan Ibunya yang mengawasi Cherel.


" Ibu, apakah boleh aku sering menitipkan Cherel? " Tanya Rien.


Ibunya Rien tersenyum, lalu mengangguk dengan cepat. Bagaimanapun dia juga kesepian karena sering tinggal seorang diri di saat Ayahnya Rien pergi bekerja. Kalaupun kadang kakaknya Rien datang membawa anak-anaknya, tentu saja hanya sekali dalam seminggu saja. Tidak mau bertanya apa masalahnya sehingga Rien ingin sering menitipkan Cherel, tapi sebagai seorang Ibu dia hanya bisa berharap agar putrinya menjalani rumah tangga dengan baik dan rukun selalu. Dia pikir mungkin saja Rien akan kembali bekerja, karena Rien sebelumnya juga bekerja kantoran, dan dia juga terlihat menyukai pekerjaannya.


Rien benar-benar merasa begitu lega, bagaimanapun dia tahu Ibunya pasti menebak kenapa ingin sering menitipkan Rien, tapi untunglah dia tidak bertanya karena kalau Ibunya bertanya, Rien benar-benar bingung akan menjawab apa.


Pulang dari rumah Ibunya, Rien pergi ke toko di mana menyediakan kamera dan sebagainya. Setelah mendapatkan apa yang memang ingin dia beli, segera Rien kembali ke rumah, dan tentulah itu rumah Ibu mertuanya.


Begitu kembali ke sana, suasana rumah benar-benar amanat terasa seperti ruangan yang begitu mencekam. Aneh, apakah perasaan itu yang membuat suasana menjadi begitu ngeri? Apakah Rien sendiri yang merasa ketakutan hingga jadi seperti ini? Rien terdiam sebentar, dia mencoba untuk menoleh ke belakang, dan ternyata tidak ada orang. Entah itu perasaanya saja atau bukan, tapi dia merasa seperti sedang di awasi.


Kanya tersenyum dengan begitu ramah, membawa kue bolu yang sepertinya baru dia keluarkan dari oven entah apa maksudnya. Dia berjalan mendekati Rien, lalu berbisik dengan senyum aneh yang membuat Rien merasa begitu kesal.


" Bersiaplah untuk menyandang status baru sebagai janda, karena aku punya keyakinan kalau aku bisa mendapatkan cinta dari suami mu. "


Rien tersenyum tipis, dia mengerti, benar-benar mengerti sekali sekarang. Rupanya Kanya sengaja membuatnya cemburu, menggoyahkan hatinya, membuat Rien agar tidak tenang dan ketakutan. Tapi, semua ini tidak akan mungkin berani Kanya lakukan jika tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal semacam ini. Kanya sebenarnya adalah pecundang, tapi jika ada kekuatan besar di belakangnya, bukan tidak mungkin bahkan untuk menelan bumi. Rien menegakkan tatapan matanya, dia melihat pantulan Ibu mertuanya dari lemari kaca yang di gunakan untuk menjamah barang-barang antik di rumah itu. Dia, itu dia orangnya! Ibu mertua yang sedari tadi menatap Rien, mengamatinya dengan sejuta pemikirannya.

__ADS_1


" Kalau benar itu terjadi, maaf sekali karena sudah menitipkan sampah padamu. Ah, sepertinya kau memang tong sampah, jadi kalau tidak terisi dengan sampah, kau akan terasa gatal. Jangan mengancamku seperti anak kecil, kau tahu kan tidak ada seorang pembunuh handal yang memperingati korbannya lebih dulu? "


Kanya terdiam, dia menjauhkan dirinya dari Rien karena dia sempat merasa gugup karena ucapan Rien barusan.


Rien membuang nafasnya, menatap Kanya yang terdiam terlihat tak ingin lagi berbicara. Mungkin bukan dia tidak ingin menjawab, tapi dia tertahan karena Ibu mertua melarangnya untuk bicara. Meskipun begitu, Rien sudah harus bersiap untuk segala kemungkinan aga bisa menyelamatkan Ayah dan Ibu mertua yang sedang dalam keadaan bahaya.


" Kanya, kalau aku boleh memberi saran padamu maka, gunakanlah baju yang cocok untuk tubuhmu, jangan berpedoman dengan manekin yang jelas akan cantik bahkan menggunakan baju rombengan. Kau terus menunjukan belahan dadaku untuk di lihat suamiku, tapi apakah kau tahu tidak semua bentuk dada dapat mengundang perasaan yang kau inginkan? "


Kanya semakin tak bisa berkata-kata, tapi sesuai dengan yang di perintahkan oleh Ibu mertua, dia langsung mentahkan diri begitu Tien melewatinya ingin menuju ke kamarnya.


" Ah! "


Pekik Kanya membuat Rien terheran-heran karena bingung untuk apa tujuannya Kanya menjatuhkan diri, dan untuk apa kue yang dia pegang itu. Rien tersenyum, dia tahu pasti bukan seperti ini yang di inginkan Ibu mertuanya.


" Dasar bodoh, aktingmu sangat buruk. " Gumam Rien lalu tersenyum menahan tawa, berjalan menuju kamarnya.


" Dasar tidak berguna, cara menjatuhkan diri yang sangat konyol. " Gumam Ibu mertua dengan tatapan kesal menatap Kanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2