
Setelah membicarakan niatnya kepada Ayah mertua, Rien berniat ingin memberitahu Gak tentang apa yang dia ketahui, juga dia lihat. Namun sayangnya Gail sama sekali tak bicara entah apa yang sebenarnya membuat dia begitu ingin diam. Cemburu kah? Bukankah pembicaraan tentang itu sudah selesai? Kenapa Gail masih ingin diam? Rien membuang nafasnya, dia hanya menatap punggung Gail karena Gail kini tengah menatap ke jendela yang beberapa saat lalu dia buka. Rasanya ingin bertanya apa yang sedang dia pikirkan, apakah masih marah karena melihat Rien masih menemui Marco, dan apakah perlu Rien menjelaskan lagi akan hal itu?
Rien bangkit dari posisinya yang sudah berbaring miring menghadap ke arah Gail, lalu berjalan menghampiri Gail karena merasa tida tahan lagi harus menebak-nebak saja apa yah salah, dan apa yang sedang membuat Gail begitu pendiam.
" Apakah diam mu ini ada hubungannya dengan pertemuan ku dengan Marco? " Tanya Rien. Gail membuang nafas, tapi dia hanya menggeleng dan kembali menatap ke arah luar kamar. Tentu saja hal itu membuat Rien semakin bingung, bukankah seharusnya dia tidak perlu bertanya kepada Gail lagi? tapi rasa penasarannya benar-benar sangat besar, jadi Rien masih ingin terus mencari tahu apa yang di rasakan oleh Gail.
" Kalau kau butuh waktu untuk tenang, apa aku perlu ke rumah orang tuaku untuk hingga beberapa waktu di sana? "
Gail menoleh, menatap Rien dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa Rien artika apa maksudnya.
" Bisakah berhenti menemui Marco? Aku juga ingin kau menjadi Rien seperti sebelumnya, tapi setelah aku pikirkan lagi, sepertinya itu tidak akan mungkin bukan? "
" Jadi masih karena hal itu? " Tanya Rien menatap Gail dengan tatapan tak percaya.
Gail memaksakan senyumnya, dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa, mengatakan apa di saat hatinya sedang sangat kacau. Semua yang terjadi seakan begitu cepat membuatnya sulit mencerna dan mengerti harus apa, melakukan apa, harus mana dulu yang dia selesaikan?
Melihat Gail yang masih terus diam, Rien hanya bisa membuang nafas kasarnya, meninggalkan Gail di sana dan kembali merebahkan tubuhnya, memejamkan mata meski sulit untuknya untuk bisa tertidur.
Besok paginya.
Setelah Rien dan Theo berangkat untuk bekerja, Rien yang akan kembali masuk ke dalam kamar terhenti langkahnya saat telepon rumahnya tetua berdering. Karena Ibu mertua sedang pergi untuk urusan yang entah apa itu, Jenette juga cuek saja seolah engga menerima panggilan telepon jadilah Rien menerima telepon itu.
__ADS_1
" Selamat pagi? Dnegan siapa ya? "
Selamat pagi, mohon maaf menganggu dan menyita waktunya sebentar. Apa benar ini dengan Nyonya Diana?
" Bukan, saya menantunya. Ibu mertua saya sedang pergi keluar untuk mengurus sesuatu, apa ada pesan yang perlu di sampaikan? "
Kami dari rumah sakit jiwa Grevverent, informasi tagihan biaya sudah di kirimkan kepada Nyonya Diana sekitar satu Minggu yang lalu, tapi Nyonya Diana belum membayar tagihan perawatan untuk kerabatnya. Apakah boleh saya meminta tolong untuk mengalihkan kepada Nyonya Diana?
Rien terdiam sebentar. Bagaimana ini? Dia harus mengatakan apa? Rien menghela nafasnya, membulatkan tekadnya dengan berani coba untuk mengajukan diri.
" Bagiamana kalau tagihannya biar saya saja yang bayar? Apa kalau boleh saya juga ingin ke rumah sakit langsung supaya lebih mudah dan jelas? "
" Baik, tapi apakah boleh aku melihat keadaan pasien juga? "
Iya, nanti kita lihat bagaimana kondisinya, kalau memungkinkan tentu saja tidak akan menjadi masalah, anda bisa datang di satu yang sudah di tentukan.
" Baik, tapi bisakah rumah sakit merahasiakan identitas ku setelah aku membayar tagihan rumah sakit? "
Tentu saja, Nona.
Rien tersenyum, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan benar tidak ada orang yang melihat dan mendengarkannya. Setelah itu dia segera berjalan masuk ke kamar dan mengirimkan pesan kepada Marco tentang bagiamana pembicaraan antara Rien dan juga pihak rumah sakit. Setelah mengirimkan pesan, Rien duduk di pinggiran tempat tidur sembari mengusap wajah putrinya yang sedang tertidur pulas. Rasanya keberuntungan seperti datang berbondong-bondong padanya. Tidak perlu sewa detektif untuk mencari Ibunya Gail, tidak perlu sebegitu sulitnya mencari pada akhirnya Rien dan Marco bisa menemukan apa yang dia ingin cari tahu.
__ADS_1
Karena hati itu sedang tidak ada orang di rumah, Rien kembali ke luar dari kamarnya untuk mengantarkan makanan kepada Ayah mertuanya, juga segelas jus. Rien menceritakan bagiamana obrolan Rien dan rumah sakit yang begitu lancar, dan Ayah mertua juga merasa ikut bahagia. Sungguh dia tidak menyangka kalau Rien akan benar-benar sangat membantunya, bahkan tujuannya untuk membebaskan istri pertamanya akan segera terjadi. Iya, mereka sudah terpisah puluhan tahun, meski keadaan mereka saya bertemu nanti tidak baik, saat mereka sudah menua, dan sudah tidak segar lagi, tapi Ayah mertua yakin benar perasaan yang di miliki Ibunya Gail masih sama seperti yang dia rasakan.
Setelah selesai menentukan makan dan minum, Setya selesai membicarakan tentang Ibunya Gail, Rien segera keluar dari kamar Ayah mertua dan niatnya adalah bergegas untuk melihat ponselnya memastikan apakah Marco sudah membalas pesan yang dia kirimkan atau belum.
Deg!
Rien terkejut bukan main hingga tidak bisa bergerak, bahkan lupa bernafas setelah minat Ibu mertua menggendong Cherel, tersenyum kepada Rien saat Rien masuk kedalam kamar, dan yang membuat Rien sangat tidak nyaman adalah senyum Ibu mertua yang sangat amat tidak biasa, menakutkan seperti sedang mengancam dan memperingatkan seolah dia mampu melakukan apapun, menyingkirkan apapun halangan di depan matanya, termasuk juga Cherel.
Ibu mertua masih menatap Rien dengan senyum aneh itu, dia mengusap kepala Cherel dan wajahnya tapi matanya masih saja ke arah Rien. Tentu saja Rien tidak akan tahan melihat itu, dia dengan segera berjalan mendekati Ibu mertua, lalu segera mengambil Cherel dari gendongan Ibu mertua.
" Kenapa Ibu menggendong anakku?! " Tanya Rien dengan tatapan marah, dan nada bicaranya yang meninggi.
Ibu mertua tersenyum lagi, dia melipat kedua lengannya, meletakkan ke dada dengan wajah dingin tapi juga sulit untuk di tebak apa yang sedang di pikirkan oleh Ibu mertuanya.
" Bukankah anak mu sangat lucu? Dia terlalu mirip dengan Gail, aku baru menyadarinya setelah melihatnya dari jarak yang sangat dekat tadi. " Setelah mengatakan itu Ibu mertua kaki tersenyum miring.
Rien menggigit bibir bawahnya menahan kesal yang begitu menumpuk di dadanya. Tatapan aneh semacam itu, mimik wajah yang tidak terbaca jelas saja Ibu mertua adalah orang yang pandai menyembunyikan wajah aslinya.
" Lain kali, tolong jangan menyentuh anakku. " Ucap Rien dengan tatapan tegas.
Bersambung.
__ADS_1