Marriage Struggle

Marriage Struggle
Kemarahan Yang Sulit Di Bendung


__ADS_3

Kanya terdiam sedih karena ternyata lamaran pekerjaannya di tolak oleh pihak HRD, dan Gail maupun Theo tentu tidak ikut campur dengan hal itu. Kanya sudah memberitahu Ibu mertua akan hal itu, memohon agar Ibu mertua membantunya untuk bicara dengan Gail atau Theo, tapi dia benar-benar tidak bisa melakukan apapun karena Gail juga Theo sudah mengatakan jika mereka tidak ikut campur dengan pekerjaan HRD perusahaan mereka.


Begitu melihat Rien keluar dari kamar untuk menemui pembantu yang sudah siap dengan tasnya karena dia ingin segera meninggalkan rumah, Kanya berjalan cepat mendekati Rien.


" Kaka ipar, boleh bicara sebentar tidak? " Tanya Kanya dengan tatapan memohon, saat itu juga ada Gail yang baru saja pulang bekerja.


Rien membuang nafasnya, menatap Kanya dengan tatapan dingin.


" Tidak ada waktu. "


Kanya terdiam, sungguh dia benar-benar ingin bekerja di perusahaan milik keluarga Gail, tapi harapan itu langsung pupus karena di hari pertama dia mengajukan lamaran dia sudah di tolak dengan alasan, tidak memenuhi kriteria dengan posisi yang sedang di butuhkan. Kanya tadinya ingin meminta Rien untuk bicara dan membujuk Gail supaya mau membuatnya bekerja di perusahaan. Tapi Kanya sudah tidak bisa mengatakan apapun saat melihat Gail dan juga Theo datang, di tambah Rien memang selalu menunjukan wajah tak sukanya kepada Kanya.


Gail yang melihat betapa dingin sikap istrinya hanya bisa terdiam, sudah seharian ini Rien sama sekali tak bicara, tidak membalas pesan atau bahkan menerima telepon darinya. Sekarang Gail benar-benar paham seberapa serius masalah antara dia dan juga Rien jadi dia pikir harus segera di selesaikan, dan tentunya selesai dengan Rien akan tetap bertahan bersama dengannya.


Rien berhenti dan tersenyum begitu melihat pembantu rumahnya sudah siap, dia menyodorkan amplop berisi uang untuknya meski sebenarnya tidak sebanyak itu untuk upah satu Minggu bekerja di sana. Rien paham benar bahwa sebenarnya Gail sudah rugi karena membayar yayasan sebelumnya, tapi satu Minggu tentu bukan waktu yang sebentar kalau harus tinggal bersama Ibu mertuanya. Rien tentu tahu benar seberapa lelahnya mengerjakan tugas rumah, jadi uang yang dia berikan tentu tidaklah seberapa.


" Ambil ini, memang tidak banyak, tapi aku harap uang ini bisa sedikit membantumu. " Ucap Rien membuat pembantu itu menahan tangis haru. Di rumah itu hanya Rien seorang lah yang sama sekali tidak suka berteriak memintanya melakukan ini itu, tidak pernah bicara kasar meski Rien sering cekcok dengan Ibu mertuanya.


" Apa, benar-benar tidak masalah saya menerima uang ini? " Tanya pembantu itu karena dia merasa tidak enak untuk menerimanya.

__ADS_1


" Tentu saja, kau sudah bekerja keras satu Minggu ini. Ambilah, anggap saja ini untuk jajan di jalan nanti. "


Pembantu itu tersenyum dan mengangguk, dia sudah mengangkat tangannya untuk menerima uang itu, tapi amplop itu di rebut oleh Ibu mertua dengan angkuhnya. Rien dan pembantu rumah tentu saja sama-sama terkejut karena tidak menyadari kehadiran Ibu mertua di sana.


" Enak saja, kerja cuma atau Minggu mendapatkan uang sebanyak ini? " Ucap Ibu mertua tak terima setelah menyentuh amplop itu dan dia merasakan tangannya bisa menebak jika isi di dalamnya pasti cukup banyak.


Pembantu rumah menunduk tak berdaya, dia merasa malu juga bersalah kepada Rien karena pasti Rien akan di marahi lagi nantinya.


" Kembalikan amplop itu kepadanya, Ibu mertua. " Minta Rien dengan tatapan marah. Tentu saja dia marah, bagaimana bisa ada orang yang begitu tidak sopan? Apakah keringat, rasa lelah manusia bahkan tidak ada harganya? Satu Minggu juga bukan waktu yang sebentar untuk bekerja hampir dua puluh empat jam bukan?


" Tidak akan! Seenaknya saja memberikan gaji, kau tidak bodoh atau apa?! Mana ada satu Minggu bekerja di gaji sebanyak ini?! Kau mau membuat Gail ku bangkrut ya?! "


" Ibu mertua, kembalikan uang itu padanya! " Kesal Rien tak bisa lagi di tahan.


" Berhenti berteriak! Kau pikir kau siapa hah?! Hanya karena sudah menikahi Gail, kau merasa kau adalah Nyonya rumah?! "


Jangan hanya seberapa tajamnya mata Ibu mertua, wanita itu benar-benar sangat menakutkan, dia benar-benar bersikap seolah dia adalah orang paling hebat, paling benar, dan yang lainnya adalah pemilik otak bodoh. Rien benar-benar sangat terluka, dia bahkan sampai menitihkan air mata di saat matanya merah menahan marah. Pembantu rumah ikut menangis tanpa suara, tubuhnya gemetar, mungkin dia benar-benar merasa takut dengan Ibu mertua yang begitu memiliki lidah tajam.


Gail yang mendengar suara Rien dan Ibunya segera berjalan untuk mendekat, begitu juga dengan Theo, di susul Jenette dan juga Kanya yang ingin tahu ada apa sebenarnya.

__ADS_1


" Ada apa ini? " Tanya Theo begitu sampai di sana.


" Rien, dia benar-benar bertingkah sok Nyonya di rumah ini. Lihat, dia mau memberikan gaji yang begitu banyak untuk pembantu yang bekerja hanya seminggu. "


Tejo dan Gail melihat dia lembar uang di lantai, dan mereka bisa menebak kalau uang itu pasti uang yang di berikan oleh Ibu mereka.


" Aku tidak pernah merasa menjadi Nyonya, karena Ibu, dan semua orang di sini biasa memperlakukan aku seperti pembantu. Aku memberikan uang itu karena aku tahu seberapa susahnya menjadi pembantu di rumah orang yang tidak memiliki hati seperti Ibu mertua. " Rien mengatakan kalimat itu dengan mata yang begitu membelalak tajam dan marah membuat Ibu mertua sangat tersinggung dan terhina karena menantunya begitu berani, semakin kurang ajar dari hari ke hari.


" Dasar tidak tahu aturan! " Ibu mertua mengangkat tinggi tangannya, ingin mendapat wajah Rien, tapi Gail dengan segera menahan tangan itu sebelum sampai ke wajah istrinya.


" Tidak, tidak begini, Ibu. Aku menikahi Rien bukan untuk mendapatkan ini, tolong kendalikan diri, Ibu. "


Ibu mertua menarik tangannya dengan kasar, menatap Gail juga tak kalah marahnya.


Theo, pria itu benar-benar kesal sekali melihatnya, dengan segera dia merebut amplop dari tangan Ibunya, megambil dua lembar uang ada di lantai, mengeluarkan dompetnya, menambahkan di sana. Setelah itu dia menyerahkan kepada pembantu rumah.


" Pergilah, jangan pernah datang kesini lagi karena rumah ini bukan tempat yang cocok untukmu. " Ucap Theo membuat pembantu itu segera bangkit dan bersiap untuk pergi.


" Theo! " Bentak Ibu mertua.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2