Marriage Struggle

Marriage Struggle
Hari Yang Paling Tidak Di Inginkan


__ADS_3

Rien sudah membawa tubuh Ibu nya Gail untuk bangkit, perlahan mendorongnya menuju jendela yang kini telah terbuka lebar. Tapi, tapi Rien tidak bisa melakukan terlebih lagi, dia tidak sanggup melakukannya, dia tidak bisa, sungguh! Rien jatuh duduk di lantai membiarkan Ibunya Gail di sana kebingungan juga ketakutan. Rien ingin melakukan itu, ingin mendorong Ibu mertuanya dan membuatnya jatuh dari sana agar bisa menyelamatkan putrinya. Tapi orang seperti Ibu mertua jelas bukan orang yang akan berbaik hati dan menepati janjinya bukan? Rien menyeka air matanya, menatap Ibu mertua yang terdiam dengan tatapan mata kesal lalu menatap layar ponsel di mana Cherel dan Jenette di sana.


" Jenette, kau membenciku aku bisa menerima itu, tapi kau tidak boleh menyakiti anak ku. Kau ingin aku merasakan kehilangan anak sepertimu? Masalahnya aku tidak sekuat diri mu, aku tidak sehebat diri mu yang mampu menahan penderitaan kehilangan anak untuk selama-lamanya. Aku mungkin juga akan ikut mengakhiri hidup ku jika anak ku tiada, aku tidak meminta mu berhenti membenciku, tapi aku minta tolong jangan sakiti anak ku. Dia hanya mahluk kecil yang tidak berdosa, dia tidak ada hubungannya dengan kebencian mu terhadap ku. Aku berani bersumpah atas nama anak ku, aku sama sekali tidak mencintai dan menginginkan suami mu. Aku sungguh bersumpah, sungguh, tolong..... Tolong jangan sakiti anak ku, aku tidak mampu menjadi pembunuh, kau juga tidak mampu bukan? Aku yakin Ibu mertua menghasut mu, apa kau tidak berpikir kenapa dia tidak melakukanya sendiri dan meminta mu melakukan ini? Dia hanya ingin meminjam tangan mu agar tangannya bersih. " Ucap Rien dengan tatapan memohon kepada Jenette. Melihat wajah Jenette yang sedikit berubah seolah dia terpengaruhi oleh ucapan Rien, Ibu mertua menjadi kesal dan menjauhkan ponselnya dari Rien.


" Diam! "


Rien tak lagi bicara dan hanya menangis tanpa suara, entah hari ini dia sudah mengabiskan seberapa banyak air mata, tapi hari ini juga tidak bisa di bohongi bahwa hari ini adalah hari yang paling tidak Rien inginkan seumur hidupnya. Dia pikir dia sudah melakukan segalanya dengan hati-hati, dia pikir dia sudah melakukan dengan sangat baik, tapi ternyata tindakan ini membuat semua orang dalam bahaya. Ibunya, Ibu mertua, putrinya, Ayah mertua, juga dirinya.


Tidak, mungkin saja hari ini memang sudah dirancang jauh-jauh hari oleh Ibu mertua, dia ingin membuat Rien mengakhiri hidup Ibunya Gail karena dia sudah merasa muak, dan dia juga ingin membuat Ayah mertua berhenti bertindak tidak sesuai dengan keinginannya, ataukah kalau boleh menebak, Ibu mertua sudah lelah bermain-main sehingga dia ingin mengakhiri segalanya yang mengganggu matanya tanpa menggunakan tangannya?


"Jenette, ingat saja akan ini! Kau telah melewati banyak Kesedihan, suami mu membenci mu, dan selalu membela Rien. Kau jangan lupakan akan hal itu, ingat seberapa bencinya kau kepada Rien. Sekarang ini adalah kesempatan yang bagus untuk mu, biarkan dia melihat bagaimana sedihnya kehilangan anak. " Ucap Ibu mertua membuat Jenette kembali terpengaruh. Hingga sekarang Jenette belum mengatakan apapun, dia masih bingung harus bagiamana karena ucapan Rien sebelumnya juga cukup membuatnya sedikit merasakan hatinya tersentuh.


" Gunakan pisau itu, Jenette! Gunakan sekarang! "


Rien menggeleng dengan cepat, matanya membulat terkejut.


" Tidak! Jangan! Aku mohon jangan lakukan itu, aku mohon! "


" Kalau begitu, cepat dorong wanita itu! "


" Ah........! " Teriak Rien lalu bangkit untuk kembali mendekati Ibunya Gail. Dia benar-benar tidak ingin menjadi pembunuh, dia tidak bisa melakukannya dengan tubuhnya yang gemetar dan hati yang berat, tapi dia juga harus tetap melakukan apa yang yang diperintahkan Ibu mertuanya. Rien kembali menoleh melihat layar ponsel Ibu mertua yang kembali di hadapkan padanya, Jenette sudah bersiap dengan pisau yang akan dia hunus kan ke dada Cherel.

__ADS_1


" Jenette, aku mohon.... Aku mohon jangan jadikan aku pembunuh, aku tidak akan sanggup menghadapi putriku nantinya, aku tidak sanggup menatap Gail, juga tidak sanggup menatap Ayah mertua. Tolong, jangan jadikan aku pembunuh, jangan sakiti anak ku, aku mohon...... " Ucap Rien yang kini sudah bersiap dengan Ibu mertuanya yang berdiri tepat di jendela. Hanya tinggal satu dorongan kuat saja Rien akan menjadi seorang pembunuh.


Ibu mertua terlihat sangat marah dan kehilangan kesabaran.


" Lakukan sekarang Jenette! Melihat wajahnya kau pasti muak kan? Cepat lakukan Sekarang! "


Di sisi lain.


Jenette gemetar hebat memegang pisau tajam yang dia tujukan untuk menusuk dada Cherel. Bukan ucapan Rien yang membuat Jenette goyah, tapi sedari tadi Cherel terus tersenyum, tertawa, dan juga mengoceh seolah pisau yang akan menghabisi nyawanya adalah mainan dan guyonan. Jenette ingin mengalahkan hati nuraninya sebagai seorang Ibu yang kehilangan anaknya, dia memegang pisau itu dengan kedua tangan yang semakin gemetar.


Lakukan!


Jenette menangis tanpa suara.


" Ah......! " Jenette menjerit, dia menghunuskan pisau itu, menancap dengan sempurna. Tapi bukan kepada Cherel, tapi dia hunuskan kepada kasur. Segera Jenette meraih tubuh Cherel dan menggendongnya erat-erat sembari meminta maaf dengan pelan. Cherel nampak girang saat di gendong oleh Jenette membuat Rien yang bisa melihat anaknya baik-baik saja menjadi begitu lega.


Dasar tidak berguna, apa yang kau lakukan?!


Jenette menatap layar ponselnya, mengusap air matanya dan mendudukkan Cherel di pangkuannya agar Rien dapat melihat dengan benar bahwa putrinya baik-baik saja.


" Ibu, aku adalah seorang Ibu, aku tidak sanggup membunuh bayi ini sebenci apapun aku dengan Ibunya. Aku tidak ingin mengulangi perbuatan ku lagi, aku sudah membunuh putraku, aku tidak ingin membunuh putri orang lain. Maafkan aku, Ibu mertua. "

__ADS_1


Jenette mengakhiri panggilan Videonya.


Rumah sakit jiwa Grevverent.


" Dasar tidak berguna! " Maki Ibu Mertua.


Yakin sudah kalau anaknya baik-baik saja, Rien akhirnya membawa Ibunya Gail menjauh dari jendela.


Ibu mertua menatap Rien marah, lalu melakukan panggilan video yang niatnya adalah untuk menggertak Rien lagi dengan menggunakan Ayah mertua. Sayang sekali sampai tiga panggilan video tak mendapatkan jawaban, panggilan ke empat barulah di jawab tapi lokasinya seperti tidak asing.


" Halo, Ibu ku tersayang? "


Rien, dan juga Ibu mertua membulatkan matanya karena suara itu adalah suara Gail, lalu tak lama pintu ruangan Ibunya Gail terbuka.


" Gail? " Rien terkejut melihat Gail membuka pintu sembari memegang satu ponsel di tangannya.


Ibu mertua terdiam membeku Sebentar, lalu mencoba tersenyum berharap dia dapat membuat Gail tertipu.


" Gail, kenapa kau bisa sampai di sini? "


Gail terdiam, dia tidak menunjukkan ekspresi apapun, saat melihat Rien juga saat melihat Ibu mertua.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2