
" Gila! Kau gila! Kalau Gail tahu apa yang kau lakukan, dia pasti akan membunuhmu! " Bentak Rien yang tak lagi bisa menahan kemarahannya.
Ibu mertua terkekeh, lalu menatap Rien dengan tatapan dingin.
" Gail, anak bodoh itu? Kau pikir dia akan mempercayai ucapan mu? Dia tahu benar bagaimana dia berhutang padaku, aku mengeluarkan dia dari kecelakaan yang mungkin akan membuat tiada, aku menemani dan merawatnya saat dia sakit, aku menunjukan cinta yah banyak untuknya, mana mungkin dia akan mempercayai ucapan mu? Hem? "
Rien terkekeh dengan tatapan mengejek.
" Gail pasti akan kecewa sekali karena cinta dan kebaikan Ibu tirinya adalah palsu! Kecelakaan? Kau pasti yang merencanakan itu bukan?! "
Ibu mertua tersenyum.
" Cukup pintar. "
__ADS_1
Ibu mertua terus menatap Rien yang semakin mirip dengan Ibunya Gail saat marah. Tatapan itu, cara bicaranya benar-benar membuat Ibu mertua begitu muak, dan semakin dia memperhatikan cara Rien bicara, tersenyum, tertawa, semuanya begitu mirip, apalagi melihat Gail sangat mencintai Rien, dia benar-benar membenci Rien, semakin hari semakin banyak kebencian yang dia rasakan untuk Rien. Pada awal menikah dia kira hanya kebetulan saja, tapi begitu semuanya terlihat jelas di matanya, dia mulai menyusun strategi untuk menyingkirkan wajah bahagia dari wajah Rien dan Gail, dia akan menjadikan Rien sebab untuk membuat Gail semakin membencinya, membiarkan Rien merasakan perasaan tersiksa karena di benci dan perasaan bersalah, dan bukankah itu terdengar menyenangkan?
Alasan dia membuat suaminya sakit adalah karena dia mengetahui bahwa suaminya memberikan semua harta yang dia miliki untuk Gail, juga karena suaminya sudah mengetahui kebenaran tentang Ibu tiri, dan juga Ibunya Gail yang ternyata belum meninggal.
Dua tahun setelah pernikahan Ibunya Gail dan juga Ayah mertua, Ibu mertua membuat sebuah rencana untuk menghancurkan rumah tangga Ibunya Gail dan Ayah mertua. Dia membuat skenario dimana Ibunya Gail berselingkuh dengan pria lain, mengirimkan banyak sekali photo kemesraan padahal photo itu ada karena rekayasa kejadian yang di ciptakan oleh Ibu mertua.
Pertengkaran hebat terjadi antara Ibunya Gail, dan juga Ayah mertua. Di lain sisi Ibu mertua membuat perusahaan keluarnya bangkrut dengan membocorkan semua rahasia perusahan kepada pihak lain. Tentu saja proses itu sudah dia rencanakan dari beberapa tahun sebelumnya, dan semua berjalan dengan lancar.
Dia mencoba mendekati Gail terlebih dulu, dia bahkan dengan jahatnya memberikan obat tidur agar Gail mengantuk setiap kali sedang bersama dengannya, membuat orang lain merasa dia adalah sosok Ibu pengganti yang begitu cocok untuk Gail. Waktu terus berlalu, dan Ayah mertua salah menilainya dan menganggap Ibu mertua adalah orang yang baik, tulus sehingga dia menyesali perbuatannya yang pernah meninggalkan Ibu mertua demi menikahi Ibunya Gail. Satu tahun setelah itu akhirnya mereka menikah, dan Ibu tiri mulai perlahan menghentikan pemberian obat tidur kepada Gail karena Gail mulai menunjukkan efek samping dan dia juga tidak ingin ketahuan. Semuanya berjalan lancar, dia memerankan sosok Ibu yang baik meski di dalam hati menyumpahi Gail untuk cepat mati.
Suatu hari dia tak sengaja bertemu dengan Ibunya Gail saat dia tengah mengandung Theo, Ibu mertua dengan terang-terangan memamerkan kehidupan barunya bersama Ayah mertua, dan menunjukan perutnya yang kala itu mulai membuncit. Saat itu juga dia tengah bersama Gail, jadi Ibunya Gail mencoba untuk mendekati Gail, tapi Gail ketakutan dan memeluk Ibu mertua, memanggilnya Ibu dengan tatapan memohon pertolongan agar di jauhkan dari wanita yang adalah Ibu kandungnya sendiri. Ibu mertua benar-benar sangat menikmati momen itu, momen di mana Ibunya Gail menangis tersedu-sedu, menderita karena anaknya sendiri begitu ketakutan terhadapnya, mantan suami yang tidak lagi memperdulikan, orang tua yang tidak dapat banyak membantu karena masalah bangkrut perusahaan juga sudah membuat mereka kacau.
Semenjak hari itu Ibunya Gail benar-benar seperti kehilangan arah dan tujuan, dia selalu datang dan menangis di depan pagar rumah demi bisa melihat Gail, namun yang dia lihat adalah kemesraan antara Ayah dan Ibu mertua yang justru membuatnya semakin tak karuan. Stres karena kerinduan, kemarahan, kekecewaan, cemburu, akhirnya membuat Ibunya Gail linglung dan sering berhalusinasi sehingga sering berteriak tidak jelas membuat orang tuanya tidak sanggup mengurusnya lagi.
__ADS_1
Ibunya Gail di kirim ke rumah sakit jiwa, namun setelah empat tahun di sana, orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan mobil sehingga Ibu mertua mengambil alih untuk membayar tagihan rumah sakit. Bukan membuatnya untuk sembuh, Ibu mertua justru meminta orang kepercayaan untuk memberikan obat yang dapat membuatnya semakin depresi, di tambah dia selalu datang setiap bulan untuk memberikan photo Gail, dan keluarga barunya yang nampak bahagia, lalu membuatnya melihat diri sendiri yang begitu menyedihkan. Penyiksaan batin itu berlangsung puluhan tahun hingga Ibunya Gail menjadi seperti sekarang ini.
" Jika kau tahu hidup mu menderita, lalu kenapa kau membuat orang lain menderita? Apa yang kau dapatkan dari menyiksa orang lain?! Kau, adalah orang yang tepat berada di rumah sakit jiwa! " Ucap Rien sembari menitihkan air mata kemarahan yang begitu dia rasakan memuncak di hatinya.
Ibu mertua tersenyum dengan dingin, begitu mudah memang mengucapkan kata-kata seolah hidup semudah berkata bijak. Tapi penderitaan, rasa sakit, trauma, dendam, kebencian, bayang-bayang rasa sakit, semua hanya dia yang merasakannya. Cinta, kasih sayang, perhatian, semua yang dia dapatkan hingga kini bahkan palsu. Tapi bukankah akan lebih baik seperti itu dari pada tidak sama sekali? Dia sudah cukup menerima banyak kepedihan, maka tidak ada salahnya dia menyeret orang lain agar bisa merasakan yang dia rasakan bukan? Dengan begitu orang lain akan mengerti dan tidak akan sembarangan memperlakukan orang lain.
" Sekarang sudah selesai bosa basi, kalau kau ingin jadi orang baik, maka akhiri hidupnya, lepaskan dia dari penderitaan, maka kau juga akan melihat Ayah mertuamu selamat. " Ibu mertua menatap Ibunya Gail, lalu berjalan mendekati jendela yang terkunci, dia memiliki kuncinya sehingga dapat membukanya. Setelah jendela itu terbuka, dia kembali tersenyum kepada Rien yang kini terlihat sangat terkejut.
" Apa yang kau ingin aku lakukan?! "
" Dorong dia, biarkan dia jatuh, biarkan dia mati dan bebas dari penderitaan ini. " Ucap Ibu mertua.
Bersambung.
__ADS_1