Marriage Struggle

Marriage Struggle
Kembali Ketempat Yang Benar


__ADS_3

Theo terdiam melihat Jenette keluar dari kamar sembari menyeret koper besar miliknya. Jujur saja Theo terkejut sekali karena selama ini yang dia tahu adalah, Jenette benar-benar terobsesi sekali dengan dirinya sehingga yakin benar jika tidak akan mungkin Jenette keluar dari rumah yang otomatis mereka akan tinggal terpisah.


Theo membuang wajahnya dan kembali melihat ponsel yang dia pegang karena sebelumnya Theo juga sedang mengirimkan pesan kepada pengacaranya untuk membuatkan jadwal di kantor polisi karena dia butuh bicara dengan Ibunya.


Melihat Theo yang membuang wajah, acuh seolah gak begitu perduli apalagi ingin melarang Jenette pergi, perasaan Jenette semakin menjadi kacau, dia sebenarnya masih mengharapkan Theo meminta nya untuk tinggal. Tapi sepertinya dia banyak berpikir dan berharap, jadi dia tidak boleh membuah waktunya lagi.


Jenette berjalan mendekati Theo, berdiri tepat di hadapannya.


" Theo, aku boleh bicara sebentar? "


" Hem! " Jawab Theo malas dan singkat.


Jenette menggigit bibir bawahnya menahan kesedihannya yang seakan membuatnya ingin menangis tersedu-sedu. Dia mengajar tangannya, menatap jemarinya yang sudah hampir satu setengah tahun menggunakan cincin pernikahan yang begitu dia jaga dengan sepenuh hati. Dnegan tangannya yang gemetar Jenette melepaskan cincin pernikahannya dan dia sodorkan kepada Theo.


Theo mengeryitkan dahinya, dia menganggap Jenette hanyalah sedang menggertak saja jadi dia tidak terlalu memperdulikan akan hal itu.

__ADS_1


" Buang saja, aku tidak akan mau menyimpannya. "


Sekarang Jenette benar-benar tidak mampu menahan laju air matanya lagi. Dia tidak mengatakan apapun sampai dia meletakkan cincin pernikahannya di meja dan sebentar menatap Theo yang mungkin tidak akan sanggup untuk dia tatapan lagi di kemudian hari. Nanti saat bertemu Theo pasti dia akan memilih untuk menghindar karena dia tahu benar betapa dia mencintai dan terobsesi dengan Theo. Jadi akan lebih baik kalau Jenette tidak melihat Theo sama sekali bukan?


" Ada lagi yang ingin kau katakan? " Tanya Theo dengan sengaja memperlihatkan wajah malas dan jengah karena harus berlama-lama bersama dengan Jenette di sana.


Jenette menyeka air matanya, dia tersenyum sebisa mungkin.


" Theo, terimakasih untuk satu setengah tahun ini. Aku tahu kau sudah melakukan banyak hal untukku, kau sudah menekan emosi dan keinginan untuk memaki ku, aku tahu satu setengah tahun ini sudah begitu berat untuk mu. Aku juga ingin meminta maaf karena selalu membuat mu merasa serba salah dan tertekan, aku sudah membuat mu muak setiap waktu, aku sampai tidak tahu lagi bahwa aku sudah melakukan banyak Kesalahan, aku juga minta maaf karena menjadi penyebab bayi kita meninggal. Aku- "


" Maaf karena aku banyak bicara. " Jenette menyeka air matanya dan membuang nafasnya karena sepertinya sudah cukup dia bicara sampai di situ saja. Membicarakan kesalahan, membicarakan tentang anak mereka yang meninggal benar-benar membuat Jenette merasa hancur sekali.


Jenette memundurkan langkahnya, setelah dua langkah menjauh dari Theo dia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Sial! Dia masih saja mengharapkan Theo mencegahnya untuk pergi, dan benar saja hal itu tidak terjadi sama sekali sampai Jenette sudah keluar dari rumah.


Begitu Jenette keluar dari gerbang rumah, dia menghentikan taksi dan menangis sejadi-jadinya saat berada di dalam taksi. Dia mengabaikan sopir taksi yang terus bertanya apakah dia baik-baik saja atau tidak, dia benar-benar tidak menjawab pertanyaan itu karena dia tidak bisa menahan tangisnya yang begitu tidak bisa di tahan lagi.

__ADS_1


Cintanya, suaminya, anaknya sudah tidak lagi dia miliki. Apa yang sekarang dia dapatkan kecuali kekecewaan, kesedihan? Dia bukan gagal dalam cinta, dia juga gagal menjadi istri, juga gagal menjadi Ibu karena kebodohannya. Sekarang dia benar-benar menyesal karena begitu berbangga hati saat Ibu mertua memanjakan dirinya dengan terang-terangan, jelas bahwa hal itu membuat Jenette semakin tak bisa mendapatkan hati Theo.


Sekarang Jenette tahu benar kalau gunanya dia di nikahkan dengan Theo hanyalah karena ingin di gunakan untuk melawan Rien dan melancarkan aksi jahatnya.


Begitu sampai di rumah, Jenette langsung memeluk Ibunya dan menangis di pelukan Ibunya. Ayahnya Jenette yang ada di sana hanya bisa membuang nafas pilu melihat putrinya datang sembari membawa koper besar dan menangis seperti ini. Sejak awal dia juga ragu untuk menikahkan putrinya dengan Theo karena bisa merasakan benar kalau Theo tidak mencintai putrinya. Tapi dia sama sekali tidak bisa menolak saat Jenette begitu memaksa sampai mengancam akan bunuh diri jika tidak di izinkan menikah dengan Theo. Semenjak cucunya meninggal, dia seperti sudah merasakan jika cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi.


Sejak Jenette menceritakan bagiamana Ibu mertuanya memanjakan dirinya, orang tua Jenette padahal sudah memperingati bahwa perhatian Ibu mertuanya itu bukan seperti dia menyayangi Jenette. Tapi yah Jenette yang buta karena cinta mana bisa dan mana mau memercayai ucapan orang tuanya, sehingga setelah semuanya terjadi barulah Jenette paham jika tidak ada yang setulus orang tuanya dalam menyayangi dirinya.


" Ayah sudah tahu kalau ini akan terjadi, percayalah bahwa rumah itu sudah mengubah mu sepenuhnya. Semenjak kau tinggal di rumah itu, putri kesayangan ku berubah menjadi egois, arogan, kau bahkan sering menceritakan hal buruk tentang Kakak ipar mu padahal kau dulu tidak seperti itu. Kau membuat Ayah menjadi amat sedih, tapi keputusan mu untuk keluar dari rumah itu pasti karena kau menyadari semuanya bukan? Maka Ayah dan Ibu akan menyambut mu, kami akan memeluk mu dan perlahan mengobati luka mu. Percayalah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, kau hanya perlu memiliki tekad maka kau akan menemukan apa yang kau butuhkan di dalam hidup mu. "


Jenette mengendurkan pelukannya dari Ibunya, lalu menatap Ayahnya yang terlihat begitu terpukul. Jenette dengan segera memeluk Ayahnya erat, benar, dia adalah pria yang paling tulus kepadanya selama ini. Entah sudah di buat kecewa ribuan kali, tapi dia tetap menyayanginya dengan sepenuh hati.


" Sekarang lepaskan saja apa yang kau pikir akan membuat mu bahagia, nak. Tidak selalu apa yang kau inginkan juga baik untuk mu, kau sudah dewasa bukan? Jadi kau harus berpikir sebagai mana mestinya. Kalau kau tidak tahu harus bagaimana, kau tahu kau harus datang kepada siapa bukan? " Ucap Ibunya Jenette sembari mengusap kepala Jenette.


Jenette mengangguk paham, dia tentu saja tahu kemana dia harus pergi saat dia tidak tahu harus melakukan apa, tentu saja itu adalah orang tuanya yang tidak akan ragu membantunya, bahkan merelakan nyawanya juga akan mereka lakukan dengan senang hati.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2