Marriage Struggle

Marriage Struggle
Masa Lalu


__ADS_3

" Kau lihat bukan? Pada akhirnya aku mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan, kau tidak bisa merebut apapun lagi dariku, kau tidak akan bisa melakukan apapun karena kau adalah seorang tidak berguna sekeras apapun kau mencoba segala cara. Dulu kau sangat suka memamerkan dirimu, sekarang kenapa kau tidak coba lakukan? pergilah keluar, tunjukkan bagiamana dirimu yang dulu begitu sombong, biarkan mereka melihat penampilan mu, biarkan mereka melihat bahwa kau gila, kau bodoh, kau tidak berguna, kau sangat suka melihat ku menderita, kau menyukai semua itu, dan sekarang aku lah yang menyukai hidup ku, aku tidak lagi menyedihkan. " Ucap Ibu mertua lalu tersenyum puas kepada Ibunya Gail yang terlihat ketakutan, dan terus mencoba menutupi wajahnya, dan menepis tangannya agar Ibu mertua tak bisa mendekat padanya.


Rien benar-benar tidak bisa berkata-kata mendengar apa yang di katakan oleh Ibu mertuanya. Tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, dan bagiamana bisa Ibunya Gail berakhir di rumah sakit jiwa memang sangat ingin Rien tahu. Tapi, hanya Ibu mertua yang paham benar bagaimana situasi saat itu, di tambah lagi Rien tidak ingin membuang waktu untuk mendengarkan cerita masa lalu, toh nyatanya semua berakhir buruk karena kesalahan Ibu mertua, perbuatan jahatnya yang begitu tidak berhati bukan?


" Kau lihat wanita yang tadi memeluknya penuh kasih itu? Dia adalah istrinya putramu, kau pasti sedikit lupa kan? Padahal dua tahun lalu aku sudah menunjukkan photo pernikahan mereka, haha.... Aku luka kak, kau sekarang kan sudah gila. " Ucap lagi Ibu mertua.


Ibunya Gail masih terlihat ketakutan, dia menutup bukan hanya untuk wajahnya, tapi telinganya seolah suara Ibu mertua juga cukup menakutkan untuknya. Ibu mertua kini menatap Rien dengan senyuman yang membuat Rien merasa jika sepertinya situasi akan buruk untuknya saat itu.


" Kau sudah sampai di tahap ini, bagiamana rasanya? Apa kau berdebar? Kau merasa takut? Apa justru kau ingin menjadi seperti dia? " Tanya Ibu mertua menatap Ibunya Gail untuk memberikan contoh kepada Rien bahwa dia juga tidak akan merasa ragu melakukan hal yang sama kepada Rien juga.


Rien terdiam sebentar, jujur saja dia mulai merasa takut, tapi sudah sejauh ini, dia sudah berjuang keras untuk bisa di tahap ini, jadi dia tidak bisa mundur, tidak bisa pula memperlihatkan bahwa dia memang merasa takut.


" Kenapa aku harus berdebat hanya karena orang jahat seperti mu? Orang yang tidak punya hati, orang yang dengan kejamnya mempermainkan kehidupan orang lain, bahkan membuatnya menjadi tidak waras, bukankah orang seperti itu tidak pantas untuk membuat jantung orang lain berdebar? " Rien menatap dengan berani, dan itu membuat Bu mertua tersenyum seolah dia tidak merasakan emosi.

__ADS_1


" Kau tahu kenapa aku tidak menyukai mu dan selalu membuat mu terus bertengkar dengan Gail? Itu karena kau mirip dengannya, " Tunjuk Ibu mertua kepada Ibunya Gail.


" Kau di cintai dengan berlebihan, kau sangat berkuasa untuk hati Gail, aku tidak menyukai itu, aku sangat menikmati detik demi detik pertengkaran kalian. Aku seperti di manjakan oleh suara teriakan kalian, aku suka melihat air mata mu, kesedihan Gail, aku sangat suka, itu sangat indah. " Ibu mertua tersenyum dingin membuat Rien benar-benar tidak percaya akan ada manusia seperti Ibu mertua. Ah, bukan! Dia bukan manusia!


Rien tersenyum dengan tatapan mengejek, membuang nafasnya lalu kembali menatap Ibu mertua.


" Dengan kata lain, kau iri? Kau pasti tidak pernah di cintai, kau tidak pernah di perlakukan dnegan baik, kau tidak pernah merasa memiliki arti bagi orang lain, iya kan? "


Setelah beberapa saat Ibu mertua kembali tersenyum.


" Benar, apa yang kau katakan adalah benar, itu lah mengapa aku bisa menjadi seperti sekarang. Aku di lahirkan dari seorang gadis desa, ayahku adalah seorang pengusaha kota yang ternyata sudah memilki anak dan istri. Aku di bawa untuk tinggal setelah Ibuku meninggal, dan aku yang dari desa tidak bisa melakukan banyak hal seperti yang wanita itu lakukan. " Ucap Ibu mertua yang kini menatap Ibunya Gail.


" Dia pianis yang hebat, dia selalu mendapatkan juara, dia selalu di kagumi banyak orang, dan yang menyebalkan adalah, aku hanya boleh menjadi penonton, menjadi saksi betapa sombongnya dia yang selalu menunjukkan semua penghargaan yang dia dapatkan. Semua orang mencintai dan menyanjungnya, tidak ada yang melihat ke arahku, mengabaikan ku, bahkan bukan sekali dua kali menatapku sinis, termasuk wanita itu. Suatu hari aku jatuh cinta dengan teman kampus ku, aku benar-benar memikirkan banyak hal indah bersamanya, tapi begitu dia datang ke rumah, tak sengaja menemui wanita itu, dia langsung mengakhiri hubungannya denganku, dan menjalin hubungan dengannya, menikah dengannya, dan hidup bahagia tanpa pernah sekalipun bertanya bagaimana perasaan ku. Sejak saat itu, aku hanya mengamati bagaimana mereka bahagia, memiliki anak juga, aku menjadi ingin mendapatkan semua itu, jadi aku melakukan apa yang ingin aku lakukan dengan susah payah. Aku ingin wanita itu melihat bahwa aku telah mengambil apa yang dia rebut dariku, aku merebut putranya, membiarkan putranya memanggilku Ibu, bertahun-tahun putranya mencintaiku bahkan tak sekalipun menanyakan Ibu kandungnya. Ah, pasti itu menyakitkan bukan? Aku merebut status istri, Nyonya, Ibu, aku bahkan menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan semua temannya. "

__ADS_1


Rien terperangah dengan tatapan tidak percaya. Kalaupun memang begitu menyedihkan hidupnya, bukankah yang harus dilakukan adalah mencari lingkungan yang bisa menerimanya dan mengabaikan yang tidak memperdulikannya?


" Kau sudah gila, sungguh kau sudah gila! " Ucap Rien yang tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


Ibu mertua tersenyum sinis.


" Mungkin kau tidak begitu paham, tapi di dunia ini membutuhkan orang sepertiku agar kehidupan bisa berjalan dengan seimbang, benarkan Kakak? "


Rien menyeka air matanya, bukan sedih dengan pengalaman Ibu mertua yang dia rasakan, tapi dia sedih karena semua menjadi seperti sekarang hanya karena seseorang yang tidak memiliki kemampuan diri. Bukankah seharusnya dia berusaha untuk melampaui lawannya dan menunjukan kepada dunia bahwa dia juga kayak untuk di pandang? Bukankah itu adalah kesalahannya sendiri yang tidak mencoba untuk mengasah diri dan membuat orang lain menghargainya? Kenapa kesalahan diri sendiri harus di limpahkan kepada orang lain, menunjuk orang lain sebagai sebab?


" Jika laki-laki yang kau maksud begitu cepat mengakhiri hubungan lalu berlari mengejar wanita lain, berarti kau patut bersyukur karena pria itu lebih cepat menunjukkan betapa tidak pantasnya dia untukmu. " Ucap Rien.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2