Marriage Struggle

Marriage Struggle
Ibu Mertua Dengki Hati


__ADS_3

Ibu mertua menghela nafas kesal karena ternyata Theo sama sekali tidak main-main dengan ucapannya. Dia membatasi uang yang di berikan kepada Ibunya, bahkan di kurangi jauh sekali dari sebelumnya. Padahal dia mengatakan kepada Gail untuk tidak membuang uang dengan percuma karena dia tidak suka melihat Gail memberikan istrinya hadiah. Tapi tidak di sangka ucapannya itu malah menjadi senjata untuknya.


Hari ini Gail kembali ke rumah dengan membawakan baju baru untuk Rien. Harganya sebenarnya tidak seberapa, tapi Ibu mertua benar-benar semakin di buat kesal dan tentu dia tak terima.


" Gail kau membeli baju baru untuk istrimu lagi? " Tanya Ibu mertua dengan mimik tak suka, juga keberatan tentunya.


Gail mengangguk, dia tersenyum seolah tak merasakan bersalah karena mengurangi uang bulanan untuk Ibunya.


" Kau membelikan istrimu pakaian baru, dan kau mengurangi uang bulanan Ibu? Dari mana cara berpikir hebatmu itu, Gail?! "


Gail mengeryit bingung, mengurangi uang bulanan?


" Ibu, aku tidak- "


" Jangan alasan! Asal kau tahu, Gail. Anak laki-laki selamanya adalah milik Ibunya, apa kau tahu?! Berani sekali kau mengurangi uang Ibumu untuk membelikan pakaian istrimu? Kau juga harus lihat sudah berapa tumpukan banyaknya baju istrimu, Gail! "


Gail menghela nafasnya, mencoba untuk tetap tenang meskipun sebenarnya emosi yang dia rasakan. Rien bukan istri yang begitu suka meminta ini dan itu, tapi sikap Rien yang seperti itu jelas membuat Gail merasa bersalah dan tidak bisa membahagiakan istri. Gail sering diam-diam melihat ponsel Rien, mencari jejak internet apakah ada melihat-lihat barang yang ingin dia beli atau tidak. Dia sudah melihat pakaian yang di komentari oleh Rien, juga sudah Rien tandai karena mungkin Rien ingin membelinya suatu hari nanti. Jadi di mana letak salahnya dia sebagai suami membelikan apa yang di inginkan istrinya?


" Ibu, aku tidak mengerti kenapa Ibu menuduhku mengurangi uang bulanan ibu, tapi masalah pakaian ini aku membelikan Rien karena Rien sudah menginginkan ini sejak lama. Semenjak tidak bekerja Rien kan jarang membeli barang, jadi tolong jangan keberatan tentang ini, Ibu. "


Ibu mertua semakin jelas menunjukan wajah kesalnya, sementara Gail sebisa mungkin tak menunjukan ekspresi apapun karena dia tidak ingin menyinggung Ibunya, membuatnya lebih marah lagi. Kesehatan Ibunya akhir-akhir ini sangat tidak baik, jadi dia akan tetap menahan diri terus menerus.


" Gail, semenjak mengenal perempuan itu, terlebih setelah kau menikah dengannya, kau seperti anak yang tidak perduli lagi tentang Ibunya. "


" Jangan menakan Kak Gail terus, Ibu. Kak Gail memintaku untuk mentransfer uang seperti sebelumnya, tapi karena aku teringat terus menerus dengan ucapan Ibu yang tidak boleh menghamburkan uang, aku mengurangi enam puluh persen bukankah itu hal yang wajar? " Theo datang dengan wajah dinginnya, dia mendengar semua ucapan Ibunya yang begitu memojokkan Gail sehingga dia tidak tahan berlama-lama untuk mendengarnya.

__ADS_1


Ibu mertua menatap putranya dengan tatapan marah, dia membatin di dalam hati dengan begitu marah. Bagaimana bisa putra yang dia lahirkan begitu menentangnya? Bagiamana bisa putra yang sedang dia perjuangkan justru tidak memahami dirinya, bukankah seharusnya dia menjadi pendukung untuk mencapai tujuan mereka?


" Berhentilah menatapku seperti Ibu sedang mengutuk di dalam hati. Jika Ibu menuntut kami agar bijak dalam mengelola keuangan, maka Ibu juga tolong bijaklah dalam bersikap. Kita ini keluarga, jangan sampai sebagian merasa untung dan sebagian merasa tersakiti dengan kerugian. "


Ucapan Theo barusan benar-benar membuat Ibu mertua semakin kesal tapi tak bisa berkata-kata.


" Permisi, Tuan dan Nyonya. Ini ada paket untuk Nona Rien. " Ucap Pembantu rumah tangga sembari menyerahkan paket itu kepada Gail.


" Paket? Paket apa? "


" Kurang tahu, Tuan. Tapi kurirnya bilang uangnya sudah di transfer oleh Nona Rien, jadi hanya tinggal di terima saja. "


Melihat hal itu Ibu mertua benar-benar semakin menggila dengan kekesalannya.


Rien yang saat itu keluar dari kamar untuk meminum air segera mendekati Gail yang memegang bungkusan yang pasti itu adalah miliknya.


" Dasar tidak tahu diri! " Maki Ibu mertua membuat Rien dan Gail terkejut dan reflek menatap Ibu mertua.


" Ibu! " Bentak Theo.


" Diam, kau Theo! "


Ibu mertua menatap Rien dengan tatapan yang jelas itu adalah tatapan marah.


" Kenapa Ibu memaki, sekarang menatapku dengan marah? " Tanya Rien yang bingung sedang kenapa Ibu mertuanya itu.

__ADS_1


" Sudah jelas di peringati untuk tidak membuang uang dulu, sudah di peringati berkali-kali tapi kau tidak tahu diri dan seperti tidak punya telinga. "


" Ibu, tolong jangan begini. " Pinta Gail dengan tatapan memohon.


Rien terdiam sebentar, membuang nafasnya untuk tetap tenang. Sebenarnya apakah begitu harus mengirit sampai membeli barang yang harganya tidak seberapa juga menjadi masalah? Sialan! Rasanya menyesakkan sekali hidup berumah tangga dengan Gail yang di gelayuti Ibu mertua yang sangat dengki hati. Rien sebentar menatap kedua bola mata Ibu mertuanya yang nampak begitu tajam ke arahnya.


" Aku membeli barang ini dengan uangku sendiri, kenapa Ibu begitu tidak terima? "


Ibu mertua tersenyum dengan tatapan mengejek. Mungkin di dalam hatinya menghina dan mengatakan seperti ini, yang sendiri? Bukankah bisa punya uang juga karena Gail? Gail adalah putranya meski bukan putra kandung, jadi dia menganggap dia adalah orang yang jauh lebih berhak atas uang di miliki Gail.


Rien seolah mengerti apa maksud tatapan dan senyum yang begitu menghina dirinya, tapi bisa apa dia? Orang yang melakukan itu adalah Ibu dari suaminya, kalaupun ingin memukul atau memaki tentu suaminya, juga Theo tidak akan bisa menerima Ibunya di maki oleh seorang menantu kan?


Rien menghela nafasnya, dadanya penuh, sesak dan nyeri sekali haus terus merasakan bagaimana kejamnya Ibu mertuanya. Rien kembali menatap Ibu mertuanya, dan dengan suara yang pasrah dia bertanya.


" Ibu mertua sebenarnya ingin apa dariku? "


" Tahu dirilah, kau sudah banyak mengabiskan yah putraku, kau yang hanya tahu diam di rumah jangan terlalu banyak meminta ini itu, kalau kau mau kau bisa bekerja dan beli sendiri. "


Gilakah? Rien tersenyum dengan begitu tak percaya akan mendengar kalimat aneh dan paling langka di dunia. Sebenarnya untuk apa Rien dinikahi kalau pada akhirnya dia bahkan sangat di rugikan oleh pernikahannya? Rien tidak tahan lagi, dia benar-benar sudah tidak mampu mencoba untuk tetap tenang.


" Ibu mertua juga perlu tahu diri, aku bekerja sudah melebihi pembantu, melayani suami baik di dapur dan di tempat tidur, melahirkan anaknya, coba berikan aku upah untuk semua yang aku lakukan. "


" Rien! "


Rien tersentak, dia menoleh menatap Gail yang justru membentaknya memintanya untuk diam. Dengan segera Rien merebut paket miliknya, membawanya ke kamar. Setelah itu dia mencari gunting, dan dengan segera membuka paket yang isinya adalah pakaian untuk Cherel. Rien menggunting-gunting pakaian Cherel sembari menangis marah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2