
Rien membuang nafsnya setelah selesai menggeledah kamar Ibu mertuanya tapi tak mendapatkan bukti apapun. Dia yakin sudah membenahi semua barangnya seperti semula jadi kemungkinan untuk di sadari oleh Ibu mertuanya tentu saja sangat kecil. Tidak ada bukti apapun yang didapatkan, petunjuk yang dia inginkan seolah benar-benar sangat jauh darinya. Entah bagiamana dengan Marco, Rien hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Marco dan menunggu kabar baik darinya.
Setelah yakin tidak perlu menggeledah lagi, Rien memutuskan untuk keluar dari kamar, tak lupa menenteng sapu yang sengaja dia bawa masuk sebagai alasan kalau dia masuk ke dalam sana untuk membersihkan kamar. Deg! Rien terdiam membeku begitu Ibu mertua entah sejak kapan berdiri di depan pintu kamarnya sehingga begitu membuka pintu kamar, Rien langsung berhadapan dengan Ibu mertuanya.
" Betah sekali kau berada di dalam kamar, apa kau menemukan apa yang kau cari, menantuku? " Ibu mertua tersenyum miring menatap Rien dengan tatapan yang begitu aneh. Sejujurnya Rien bukanya tidak merasakan takut dan gugup, bukankah bukan saatnya untuk terlihat takut?
Rien tersenyum, mengangkat sapunya juga penampung sampah agar Ibu mertuanya dapat melihat itu dengan baik.
" Tentu saja, aku mendapatkan apa yang aku cari. " Ucap Rien lalu kembali tersenyum. Sepertinya Rien mulai menyadari jika Ibu mertuanya sengaja ingin membuatnya takut dan mundur secara perlahan, tapi dia yang sudah memilih jalan untuk melangkah tentu saja tidak akan semudah itu mundur di saat dia baru saja akan memijakkan kakinya ke depan.
Ibu mertua melipat kedua lengannya, meletakkan di depan dadanya sembari menatap Rien semakin dalam. Jadi ini lah yang di maksud mencoba untuk membaca pikiran orang lain? Rien tersenyum, dia juga menatap Ibu mertua dengan tatapan yang tak terbaca karena saat menatap Ibu mertua Rien memfokuskan apa yang sedang dia pikirkan yaitu, memikirkan Indahnya berada di ketinggian sembari melihat pemandangan di bawah sana. Menyadari dia tak mendapatkan apa yang dia inginkan, Ibu mertua segera mengeset tubuh Rien untuk tidak menghalangi, atau jangan lagi berdiri di ambang pintu.
" Wah, Ibu mertua benar-benar orang yah sangat lembut ya? Aku jadi terkesan. "
Ibu mertua berbalik untuk menatap Rien, lalu tersenyum jahat.
__ADS_1
" Benar, aku adalah orang yang sangat lembut, kau bahkan bisa merasakan betapa ngerinya kelembutan yang aku miliki bulan? "
Rien mencengkram kuat gagang sapu yang tengah ia pegang. Dia tersenyum untuk menyembunyikan betapa campur aduk perasaannya saat itu. Ini memang belum seberapa, Rien masih tetap harus berusaha membuat dirinya selalu tenang, meskipun Ibu mertuanya begitu menakutkan tingkahnya, tapi yang harus Rien lakukan adalah menjadi lawan yang setara untuk menghadapinya.
Malam harinya, di meja makan.
" Gail, besok di jam makan siang tolong antar Ibu ke tempat arisan ya? " Pinta Ibu mertua, Gail tidak mengatakan iya, tapi juga tidak mengatakan tidak. Dia sendiri tidak yakin apakah bisa pergi menemui Ibunya karena pekerjaan masih harus menuntut Gail untuk lebih banyak waktu lagi yang harus di korbankan.
Rien tersenyum tipis, arisan? Beberapa hari lalu mengeluh banyak hal tentang ini dan itu, pengeluaran rumah yang begitu besar, tapi sudahlah, orang seperti dia Sangat membutuhkan perhatian dan juga harga diri yang mesti di junjung oleh semua orang, takut akan tidak mendapatkan teman dan rela berpura-pura sepanjang waktu. Hah! Hebat sekali.
Setelah selesai makan malam, Gail dan Rien kembali ke kamar mereka, tapi malam itu Rien memutuskan untuk tidur di kamar Cherel demi mengawasi apakah Ibu mertuanya datang ke kamar Ayah mertuanya atau tidak. Gak sebenarnya merasa keberatan, tapi dia juga malas bertengkar apalagi dia benar-benar sangat lelah hari itu jadi mau tidak mau dia biarkan saja Rien tidur di kamar Cherel. Entah bagiamana cara berpikir Rien, padahal mereka suami istri, tapi tidur terpisah seperti itu, jelas saja Cherel masih berada di rumah orang tua Rien kan?
Di sisi lain.
Ibu mertua tersenyum setelah keluar dari kamar Kanya. Dia sudah merencanakan sesuatu untuk Rien, jadi dia hanya akan melihat seberapa besar kesuksesan yang akan Kanya dapatkan.
__ADS_1
Kanya tersenyum melihat penampilannya malam itu, dress itu yang modelnya hampir mirip dengan milik Rien, parfum yang biasa Rien gunakan, rambutnya, bahkan aroma shampo nya juga sama. Tentu saja itu ide dari Ibu mertua. Mengetahui Rien tidur di kamar Cherel yang jelas keduanya sedang bertengkar dengan apa yang terjadi kemarin, Kanya di perintahkan untuk membuat suasana semakin panas dengan mendatangkan Kanya kesana.
Seperti dugaan Kanya, setiap Gail tidur lampunya pasti akan di matikan karena Gail menyukai suasana gelap yang tenang saat dia tidur. Kanya berjalan mendekati Gail yang tertidur tanpa menggunakan pakaian, walaupun memang gelap dan hanya low lamp saja yang di gunakan Gail, Kanya benar-benar bisa melihat betapa tampan dan betapa kekarnya tubuh Gail. Begitu mereka sudah dekat, Kanya langsung mencium leher Gail membuat Gail terbangun kare terkejut, tapi karena dia hafal benar aroma tubuh istrinya, Gail tentu saja tidak menolak dan sebentar menikmati apa yang di lakukan Kanya.
Kanya yang mulai terbawa suasana akhirnya bergerak dan mencium bibir Gail dengan buas. Gail mengeryit bingung karena bibir itu tidak seperti milik istrinya, dan dia juga ingat benar aroma mulut Rien selalu mint, dengan segera Gail menjauhkan tubuh Kanya darinya. Gail ingin cepat bangkit untuk menyalakan lampu, tapi dia terlambat karena ternyata lampu sudah lebih dulu menyala, dan itu adalah Rien.
Tentu saja semua terkejut, Gail yang begitu merasa bersalah, juga marah karena bagaimana bisa Kanya masuk ke kamarnya, sementara Rien juga tak kalah marahnya dengan apa yang terjadi. Dia menatap Gail dan Kanya dnegan tatapan marah, bibirnya tersenyum kelu seolah sudah siap untuk mengucapkan apa yang ingin dia ucapan.
Gail dengan segera bangkit dan berlari cepat menghampiri istrinya, meraih tangan Rien dan menggenggamnya erat karena dia takut Rien akan berlari keluar dari rumah, lalu meninggalkan dirinya yang belum sempat menjelaskan apapun.
" Sayang, tolong maafkan aku, aku pikir itu kau! Demi Tuhan, aku tidak sengaja, aku benar-benar mengira itu kau. "
Rien menggigit bibir bawahnya, tubuhnya gemetar, tapi melihat Kanya yang sempat tersenyum tipis, lalu menyadari Rien menatap ke arahnya dia cepat-cepat terlihat bersalah, itu menyadarkan Rien akan situasi yang sebenarnya.
" Aku pikir gadis dari desa ini adalah gadis yang naif dan pintar, aku sempat takut karena itulah sifat yang di sukai oleh suamiku. Tapi, kau sudah menunjukkan betapa jal*ng nya dirimu, aku benar-benar bisa tenang karena jelas suamiku tidak akan tertarik dengan jal*ng seperti itu. "
__ADS_1
Kanya kehilangan kebahagiaannya, dia merasa dia telah melakukan kesalahan yang justru membuat Gail semakin akan menjaga jarak darinya. Padahal seharusnya Gail di bentak habis-habisan oleh Rien, dan mereka bertengkar hebat bukan?
Bersambung.