
Setelah hari itu, Rien memutuskan untuk keluar dari ruangan bentar dengan alasan berbelanja, di ingin membeli buah untuk Cherel. Menolak Gail untuk mengantarkan, dia tidak ingin membuat siapapun mencurigainya apalagi Ibu mertuanya. Untungnya apotik berada di dekat toko buah langganannya jadi tidak akan menimbulkan kecurigaan dari Ibu mertuanya.
Berkat kemasan obat milik Ayah mertuanya yang sudah dia photo, akhirnya Rien bisa membeli obat yang seharusnya di minum oleh Ayah mertuanya, dan tentu juga sudah dia konsultasikan kepada dokter mengenai obat tersebut. Seperti dugaan Rien, isi obat itu rupanya sudah di ganti oleh Ibu mertuanya, entah sejak kapan Ayah mertuanya terus meminum obat itu, tapi Dokter sudah mengatakan jika kemungkinan untuk sembuh, atau sedikit membaik pasti ada asalkan rajin minum obat, mengikuti saran dari Dokter, juga kemauan untuk sembuh dari diri sendiri yang paling penting.
Rien menghela nafasnya, dia sudah mendapatkan obat itu, dan dia sudah menyimpannya di dalam tas yang dia gunakan. Sebentar Rien menatap putrinya yang tertidur di gendongannya, dia tersenyum, mengusap kepala anaknya dengan lembut dan mengecupnya. Rien benar-benar tahu betapa bahayanya Ibu mertua, jadi dia tidak bisa lengah sekarang ini, putrinya, juga Ayah mertuanya bisa saja dalam bahaya kalau sampai dia bertindak gegabah atau salah.
Begitu sampai di rumah, Rien terdiam mematung tak sengaja mendengar Ayah mertuanya di bentak karena menolak makanan yang di bawakan oleh Ibu mertua padanya. Sungguh menyedihkan, tapi anehnya Gak atau Theo juga tidak bisa melakukan apapun karena Ayah mertua seperti sengaja menjauhi mereka. Entah menggunakan ancaman seperti apa, tapi sepertinya apa yang di gunakan Ibu mertua untuk mengancam benar-benar sangat mempengaruhi Ayah mertua.
" Kenapa kau disini? Mau mencari muka dengan suamiku? Mau sok baik lagi? Kau pasti baik karena menginginkan sesuatu kan? " Ucap Ibu mertua dengan sinis karena begitu keluar dari kamar yang dia lihat adalah Rien yang diam membeku di depan pintu kamar seperti sedang menguping pembicaraannya.
Rien menghela nafas, seketika keberanian untuk melawan Ibu mertua seperti sedang meredup, mengontrol dirinya untuk tidak melakukan itu. Bukan takut akan terjadi sesuatu pada dirinya, tapi dia takut kalau nanti Ayah Mertua yang akan menanggungnya. Dari pada bertengkar, di tambah Cherel juga masih tidur, Rien memilih untuk diam tak mengatakan apapun lalu pergi meninggalkan Ibu mertuanya yang masih menatap sinis.
Malam harinya, sebelum Theo dan Gail pulang ke rumah, Rien dengan buru-buru juga hati-hati berjalan mengendap masuk ke dalam kamar Ayah mertuanya. Rien menyapa Ayah mertuanya tanpa suara, lalu segera mendekati botol kapsul untuk mengeluarkan semua isinya dari dalam sana, lalu menggantikan dengan yang dia belum. Untungnya bentuk serta warnanya sama, jadi Rien bisa merasa lega karena kemungkinan untuk di curigai oleh Ibu mertuanya semakin kecil. Rien baru saja akan keluar, tapi handle pintu bergerak, jadi dengan buru-buru Rien bersembunyi di balik pintu.
" Apa ada yang masuk ke dalam sini? " Tanya Ibu mertua kepada Ayah mertua yang masih duduk diam di kursi rodanya. Ayah mertua menggelengkan kepala, tentu saja dia tidak ingin Rien ketahuan dan akibatnya bisa fatal nantinya.
__ADS_1
Ibu mertua menatap kesekeliling kamar tanpa beranjak dari ambang pintu untuk memastikan, jadi dia tidak menyadari kalau Rien ada di belakang pintu. Yakin tidak ada orang di dalam sana, segera Ibu mertua menutup kembali pintu kamar itu. Setelah cukup lama Ibu mertua pergi, akhirnya Rien bisa keluar dengan selamat, dan dengan segera dia menuju ke kamarnya.
" Gila, hampir saja. " Ujar Rien memegangi dadanya yang begitu berdebar. Entah seberapa menyerahkannya Ibu mertua di mata Rien sekarang, tapi Rien benar-benar terus merasa berhati-hati dan takut salah langkah. Tapi untunglah masalah obat sudah selesai. Rien merogoh semua isi obat yang dia masukkan ke dalam sana, lalu membuangnya ke toilet. Tidak boleh meninggalkan jejak kan?
Setelah itu, Rien berjalan menuju dapur sebelum Gail dan Theo pulang nanti. Sebelum menuju dapur Rien memastikan keadaan Cherel dulu, setelah melihat Cherel yang sedang asik bermain dengan mainannya, Rien bisa tenang dan membuatkan Cherel bermain sendiri. Tidak perlu khawatirkan takut jatuh, kamar Cherel sudah di desain sebaik mungkin untuk bayi enam bulan sampai dia balita nanti.
Rien sebentar terdiam, rupanya Kanya sudah menyiapkan makan malam untuk mereka, jadi Rien hanya perlu membuat jus untuknya dan untuk Gail.
" Kakak ipar, jus untuk kak Gail sudah aku buat, jadi tidak perlu buat lagi. " Ujar Kanya, dia tersenyum begitu manis namun sukses membuat Rien benar-benar muak.
Rien membuang nafasnya, menatap Kanya dengan tatapan dingin.
" Suamiku akan minum orange jus, jadi minum saja jus alpukat itu untukmu. "
Kanya terdiam, tapi matanya benar-benar menatap Rien dengan tatapan benci saat Rien tak lagi menatap ke arahnya. Seharian tadi dia pergi bersama Ibu mertua, dia di belikan banyak baju kekinian, riasan wajah, model rambutnya juga baru sekarang. Dia merasa cantik, jadi dia yakin dengan apa yang dia pikirkan.
__ADS_1
" Kanya? Wah! Kau cantik sekali dengan model rambut baru itu! " Ujar Jenette yang bagus aja datang. Rien sebentar menatap ke Kanya, ah! Dia baru menyadari jika rambut Kanya di ubah modelnya.
" Terimakasih, kak Jenette. Syukurlah bukan hanya bibi saja yang mengatakan kalau model rambut ini cocok sekali dengan ku. " Ujar Kanya tersenyum bahagia membuat Rien hanya bisa membuang nafas dan menggeleng keheranan.
" Iya tentu saja, bagus-bagus merawat diri, dengan begitu menggunakan pakaian murah pun akan terlihat berkelas, tidak seperti seseorang, pakaian boleh mahal, tapi begitu di pakai di tubuhnya, pakaiannya jadi seperti pakaian usang. " Sindir Jenette melirik Rien sebentar. Tentu saja Rien tahu kalau dia sedang di sindir, tidak mungkin juga tidak kesal kan?
" Jenette, wajahmu bengkak sekali ya? Matamu bahkan seperti sedang tidur sekarang, aku benar-benar salut dengan caramu merawat diri. Lihat, kakimu bengkak sekali, pipimu, semuanya bengkak, ah! Tapi indah sekali kok! " Rien tersenyum miring membuat Jenette kesal.
" Semoga kau hamil lagi nanti, dan merasakan bagaimana rasanya jadi aku! "
Rien tak menjawab, dia tentu saja merasakan benar bagaimana sulitnya hamil. Rasanya begitu mudah lelah, ingin terus banyak tidur, melas melakukan apapun, tapi kalau tidak di lawan perasaan seperti itu apakah baik untuk kesehatan? Tidak kan?
" Ah! Aw! " Pekik Jenette memegangi perutnya yang sepertinya terasa sakit.
" Kau kenapa? " Tanya Rien.
__ADS_1
" Ah! Perutku, sakit! Sakit sekali! " Pekik Jenette.
Bersambung.