
" Maaf aku datang terlambat, Ibu. " Ucap Gail lalu memeluk Ibunya. Saat itu Ibunya Gail sama sekali tidak menolak, dia merasakan benar hangatnya tubuh Gail dan terus membuatnya merasakan rindu terhadap putranya terobati.
Rien tersenyum tipis, dia merasa senang, bahagia melihat Ibunya Gail sudah berada pada orang yang tepat, orang yang tidak akan mungkin menyakitinya, orang yang pasti akan merawat, menjaga dan menyayangi dia seumur hidup, mengabiskan waktu masa tuanya. Sekarang sudah tidak ada lagi yang ingin Rien lakukan, dia hanya ingin kembali secepatnya, menemui Ibunya untuk memastikan bagaimana keadaan Ibunya, lalu menjemput Cherel yang pasti ada bersama dengan Jenette.
Grep!
Gail menahan tangan Rien untuk tidak meninggalkan dirinya yang kini masih memeluk tubuh Ibunya dengan satu tangan. Meskipun tidak mengatakan apapun, Rien tahu benar Gail ingin Rien tetap berada di sana bersama dengannya.
Setelah beberapa saat, Gail membawa Ibunya untuk ikut bersama dengannya, dan kini mereka sedang berada di dalam perjalanan untuk melihat keadaan Ibunya Rien.
Benar seperti dugaannya Rien, Ibunya kini sedang menangis tersedu-sedu, di sana ada Ayahnya Rien dan juga kakaknya Rien yang mencoba untuk menangkan karena mereka juga sudah menghubungi polisi. Rupanya saat berada di rumah berdua, Ibunya Rien di bekap dan di bius hingga pingsan, dan saat dia terbangun ternyata Cherel sudah tidak ada lagi.
Begitu Rien sampai di sana, dia langsung memeluk Ibunya, lalu perlahan menceritakan segalanya, dan syukurlah Ibunya Rien kini sudah mulai tenang.
__ADS_1
Sementara Gail tengah berada di perjalanan untuk mengantarkan dulu Ibunya ke rumah, baru dia akan meminta perawat dari rumah sakit datang, dan menjaga Ibunya sebentar karena dia harus kembali ke rumah orang tua Rien untuk menemui Rien dan mengajaknya bicara.
***
Mendengar kabar jika Ibunya di tangkap polisi, di tambah Gail kembali ke rumah dengan sidang wanita yang tidak dia kenal sama sekali, Theo tentu saja semakin tidak tenang, dia bertanya kepada Gail sebenarnya apa yang terjadi, bagaimana bisa Ibunya di bawa ke kantor polisi, dan Gail hanya menjelaskan secara singkat saja. Theo benar-benar tidak habis pikir dengan semua yang terjadi, dia sedih, kecewa dan juga marah. Bagiamanaun Ibunya tetap adalah Ibu kandung yang sudah melahirkannya, dia tidak rela Ibunya di penjara, tapi juga tidak bisa membenarkan apa yang sudah di lakukan oleh Ibunya.
Melihat Jenette yang pulang ke rumah membawa Cherel, Theo Benar-benar semakin tidak mengerti karena Jenette tidak ada di dalam cerita Gail, tapi Jenette selama ini membenci Rien dan juga anaknya, jadi untuk apa dia menggendong Cherel? Padahal selama ini Theo tidak bisa menggendong Cherel dan hanya melakukanya secara diam-diam agar Jenette tidak marah dan menuduhnya macam-macam.
" Kau membuat ulah apa lagi sekarang?! " Theo dengan segera mengambil Cherel dari gendongan Jenette karena takut kalau nanti Cherel akan berada dalam bahaya. Tapi bentakan Theo barusan membuat Cherel terkejut, dia takut dengan Theo sehingga terus mengikutkan tangan kepada Jenette meminta Jenette untuk melindunginya.
Jenette juga ingin kembali menggendong Cherel, tapi Theo menepis tangannya kasar, tatapannya juga terlihat sangat dingin dan tajam sehingga Jenette memilih diam tak lagi ingin mengambil Cherel. Sungguh dia tidak mengerti kapan dia bisa memiliki arti yang spesial di hati Theo, dia sadar bahwa sikapnya yang kekanakan dan suka menuntut, menganggap diri sendiri benar adalah hal yang salah. Dia terlalu mencintai Theo hingga perasaan takut kehilangan membuatnya bertindak bodoh selama ini.
Apa yang Theo lakukan barusan benar-benar membuat Jenette semakin sadar bahwa sampai kapan pun dia tidak akan memiliki arti di hati Theo. Cinta yang dia miliki sepertinya juga tidak membuatnya ingin bertahan lebih lama lagi.
__ADS_1
Jenette menyeka air matanya yang jatuh saat Theo membawa Cherel yang terus menangis menjauh darinya. Sebenarnya seberapa buruk dirinya di mata Theo? Bahkan dia sampai takut Cherel akan terluka saat bersama dengannya, bukankah secara tidak langsung Theo menganggap Jenette adalah wanita yang jahat sehingga bayi saja akan sanggup dia lukai?
Jenette menangis, dia juga tertawa. Pantas saja Ibu mertuanya meminta Jenette untuk mencelakai Cherel, ternyata di mata banyak orang dia memang sejahat itu. Jenette pikir saat Ini mertuanya datang menawarkan itu dengan segala bujuk rayunya pagi tadi dia bisa benar-benar bahagia setelah melakukannya, tapi melihat Cherel yang terus mengingatkan dirinya dengan bayinya, dia sadar benar hatinya lemah sekali. Dia sedih, dia sangat sedih karena menjadi sebab bayinya meninggal, wajar saja jika suaminya marah dan membencinya, tapi apakah perasaanya tidak penting? Dia juga sedih, dia juga merah dan kecewa terhadap dirinya sendiri. Jika boleh menggantikan, tentu saja Jenette akan dengan senang hati memberikan nyawanya agar bayinya selamat. Dia juga membutuhkan dukungan dari suaminya, tapi sayang sekali dia justru semakin terpuruk oleh sikap suaminya.
Jenette masuk ke dalam kamarnya, duduk di pinggiran tempat tidur dan menangis lagi saat matanya menatap photo pernikahannya tergantung di dinding kamar. Dia benar-benar bahagia sekali saat menikah dengan Theo, dia bertekad tidak akan membiarkan Theo berselingkuh, dia hanya akan menjadi satu-satunya saja di hidup Theo. Tapi semua benar-benar kebodohan, dia terlalu posesif, terlalu mencintai Theo hingga hampir setiap malam saat tidur dia terus bermimpi Theo sedang bersama Rien dan wanita lain. Dia terus membenci Rien, menyalahkan Rien karena mimpinya yang selalu saja seperti itu.
Jenette menyeka air matanya, bangkit untuk meraih kopernya. Semuanya harus berakhir, dia sudah tidak tahan lagi terus seperti sekarang ini. Benar dia bodoh karena cinta, padahal sebelumnya dia hanyalah gadis polos yang begitu mengidolakan Theo. Sekarang dia cukup sadar bahwa cintanya hanya menyuguhkan rasa sakit saja, cintanya yang berlebihan membuatnya menjadi bodoh dan tidak bisa berpikir dengan baik, maka melepaskan cinta itu adalah jalan satu-satunya untuk bisa kembali dan memulai semuanya dari awal lagi.
Rasanya sakit sekali saat dia melihat koper yang sudah terbuka hanya tinggal mengisi bajunya saja. Sejak pernikahan dia sama sekali tidak memikirkan bahwa koper yang dia bawa masuk sehari setelah pernikahan ke rumah itu pada akhirnya akan dia bawa keluar lagi dengan menyedihkan Seperti ini.
Melepaskan orang yang di cintai memang benar-benar menyakitkan, tapi bertahan semakin lama menggenggam cinta yang menyakitkan juga akan menghancurkan diri sendiri. Ini dia lakukan untuk dirinya, juga untuk Theo.
Bersambung.
__ADS_1