
Cassie membanting pintu kamar dengan cukup keras. Baru saja dia akan tidur, Romeo sudah memanggilnya lagi untuk menyiapkan kopi. Cassie yang notabene tidak bisa membuat kopi, harus bolak balik naik turun tangga sebanyak 8 kali karena Romeo tidak cocok dengan kopi yang dia bikin. Cassie lagi-lagi harus menuruti kemauan Romeo yang mengancam akan memindahkan Cassie ke kamar pembantu di bawah.
"Dasar Romeo sinting." umpat Cassie.
Dia memeluk boneka beruangnya, lalu mulai meluapkan emosinya dengan menangis. Cassie sangat terpukul karena perlakuan Romeo yang adalah suami nya sendiri. Dia tidak dapat membayangkan kehidupannya untuk hari-hari ke depan. Pernikahan ini seperti bencana untuk Cassie.
Ponsel Cassie berdering membuyarkan pikirannya. Reno calling..
Cassie menghapus air matanya, lalu dia menarik nafas dalam-dalam supaya Reno tidak curiga kalau Cassie sedang menangis.
"Halo, Ren." jawab Cassie lebih dulu.
"Cassie, bagaimana keadaan mu?" "Apakah Romeo memperlakukan kamu dengan baik?" Reno memberondong Cassie dengan berbagai pertanyaan.
Cassie harus menahan air matanya supaya tidak mengalir lagi. "Ya, dia baik."
"Apa itu benar? Kenapa aku mendengar sebaliknya?"
Cassie terdiam cukup lama.
"Cass, are you okay?"
Sebelum sempat Cassie menjawab, Romeo datang ke kamar Cassie, lalu merebut teleponnya.
"Halo, Ren.. ini Romeo." "Cassie tertidur. Kamu tidak perlu khawatir. Kapan-kapan aku akan mengunjungimu dengan Cassie."
"Ya, baik lah.. aku tunggu." "Rom, aku tidak begitu mengenal mu, tapi aku minta tolong supaya kamu menjaga Cassie dengan baik. Kalau kamu sampai menyakiti dia, Kamu tau akibatnya." Reno melayangkan ultimatum keras untuk Romeo.
Romeo mematikan telepon setelah menjawab Reno dengan singkat. Dia melempar ponsel Cassie ke ranjang sambil menatap Cassie yang kembali menangis sesenggukan seperti anak kecil. Dia heran, banyak sekali orang yang melindungi dan menjaga Cassie.
"Diam lah anak manja." "Kamu harus berpikir panjang. Kalau kamu bicara pada keluarga mu, atau meminta untuk bercerai, itu sama saja kamu menambah masalah mereka." jelas Romeo. Dia meninggalkan Cassie begitu saja tanpa peduli pada istrinya yang menangis makin keras.
"Aku membenci mu, Romeo." ucap Cassie dalam tangisannya.
__ADS_1
*
*
*
Pagi ini suasana di ruang makan tidak baik. Wajah Cassie tampak lesu dan matanya berkantung hitam karena menangis semalaman. Romeo juga terlihat tidak dalam mood yang baik. Dia memasang wajah dinginnya dan diam saja menunggu sarapan datang.
Pelayan tampak bingung dengan majikannya itu. Seharusnya pengantin baru akan terlihat mesra-mesra an. Tapi mereka terlihat seperti musuh bebuyutan.
"Nona, ini makanan kesukaan anda." salah satu pelayan Cassie meletakkan sepiring nasi goreng lengkap dengan kerupuknya.
"Makasi, Bi." Jawab Cassie tidak semangat.
Bibi beralih pada Romeo yang tampak menyeramkan. Dia memberi Romeo menu yang sama dengan Cassie.
"Tuan, saya tidak tahu apa yang Tuan makan untuk sarapan. Apakah ini perlu di ganti?" tanya Bibi hati-hati.
"Baik, Bibi permisi." Pelayan Cassie mengundurkan diri. Dia juga tidak nyaman berada di dekat Romeo terlalu lama.
Telepon Cassie berdering memecah keheningan di ruang makan. Jo calling.. Tanpa menunggu lama, Cassie secara mengangkat telepon dari teman nya itu.
"Hai Jo." ucap Cassie ramah.
"Hai Cass.. Sorry aku baru sempat telepon. Biasalah, Juna memberi ku banyak tugas."
"Ya, santai saja Jo."
"Bagaimana kabar mu? Kemarin kamu telepon kan? Ada apa?"
"Tidak Jo. Kemarin cuma kepencet aja sih."
"Ooo.. kirain mau curhat tentang malam pertama mu." goda Jo.
__ADS_1
"Aku akan cerita kalau kamu ingin dengar."
"Kamu itu gila, Cassie Sebastian!"
Cassie tertawa cekikikan karena dia berhasil membalas Jo dan membuatnya salah tingkah.
Romeo meradang. Dia sejak tadi memperhatikan Cassie yang sedang bercakap dengan Jo. Raut wajah Cassie berubah menjadi lebih bahagia dan itu membuat Romeo tidak suka. Dia merebut ponsel Cassie, lalu dia menekan tombol Off.
"Romeo. Kamu keterlaluan. Kembalikan ponsel ku." Protes Cassie.
"Buatkan aku sarapan yang lain. Aku tidak ingin makan ini."
"Bibiiiiiiiii.." teriak Cassie kencang.
Bibi berlari, terburu-buru menghampiri sumber suara.
"Tolong bikin kan pria ini sarapan yang spesial." ucap Cassie kesal.
"Lho, tadi katanya tidak usah." Bibi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tanya saja sendiri pada manusia aneh ini." Cassie beranjak dari kursinya, lalu berjalan naik ke atas.
"Lho, non.. kok ga di makan nasi goreng nya?"
"Udah ga nafsu makan, Bi." jawab Cassie tanpa mempedulikan Bibi atau Romeo. Dia hanya ingin pergi ke kamar dan berdiam diri di sana.
Sementara itu, Romeo juga tidak kalah kesal. Dia mencoba mengontrol emosinya karena Cassie pergi begitu saja.
"Tuan ingin makan apa?" Bibi kembali bertanya dengan jarak yang cukup jauh.
"Singkirkan saja semua." Romeo mengambil kunci mobilnya, lalu dia juga pergi dari ruang makan untuk menuju Hotel Emerald.
"Dasar orang kaya. Udah di bikinin cape-cape, eh di biarin aja." keluh Bibi. "Tapi, kenapa mereka bertengkar seperti itu? Apa Tuan Dimas tau hal ini?" Pelayan Cassie itu bertanya-tanya sambil membereskan meja makan.
__ADS_1