Married With Romeo

Married With Romeo
Pergi menemui Romeo


__ADS_3

Cassie membuka matanya perlahan. Romano sedang berada di sampingnya sambil memegang tangan Cassie. Cassie memandang pria itu tanpa berkedip. Wajah Romano benar-benar mirip dengan Romeo. Mata, hidung, mulut, postur tubuh, semua persis sama. Cassie begitu bodoh karena dia tidak bisa mengenali suaminya sendiri. Dan tanpa terasa air mata Cassie sudah mulai jatuh.


"Kenapa kamu tidak bicara sejak awal?" tanya Cassie dalam isaknya.


"Maafkan kami, Cassie. Romeo tidak mau kamu sedih dan terus memikirkannya." jawab Romano dengan penuh penyesalan.


"Apa penyakitnya begitu parah?"


Romano menarik nafas panjang. "Ya. Kankernya sudah stadium akhir dan umur Romeo mungkin tidak akan sampai setahun lagi."


"Romeooo." Cassie menangis sesenggukan. Dia begitu sakit mengetahui fakta yang baru saja terungkap. Semua kenangan bersama Romeo kembali muncul dalam ingatannya.


"Cassie... Romeo begitu mencintaimu. Kamu satu-satunya wanita yang ada dalam pikirannya." "Yang kamu lihat selama ini bersama dengan Fani adalah Romano, bukan Romeo." "Juga soal Ana. Dia adalah kisah masa lalu ku." jelas Romano lagi.


Mendengar ucapan itu, Cassie menangis makin menjadi-jadi. Romano yang tidak tega tentu saja segera memeluk Cassie yang masih terlihat shock.


"Sabar Cass.. Sekali lagi, maafkan aku dan Romeo. Kami tidak bermaksud membohongimu dan ayahmu. Semua ini kami lakukan karena kami butuh mengungkap kebenaran soal kecelakaan ayah kami."


"Aku ingin bertemu Romeo sekarang juga." pinta Cassie.


"Ini sudah jam 12, Cass. Kamu juga masih shock seperti ini. Sebaiknya kamu istirahat dulu. Besok kita akan ke Amerika."


Cassie menggeleng. Dia tidak mau terlambat untuk menemui Romeo.


"Aku minta sekarang, Romano. Aku mohon."


Romano akhirnya menyerah. Jika dia menjadi Cassie, dia juga pasti akan sesegera mungkin menemui Romeo. Itu reaksi yang wajar karena Cassie juga begitu mencintai Romeo.

__ADS_1


"Tunggu sebentar di sini. Aku akan menyuruh orang menyiapkan pesawat dan aku juga perlu menyiapkan pakaian kita."


*


*


*


Setelah persiapan kilat selama 30 menit, akhirnya mereka siap berangkat. Cassie terlihat masih melamun di ranjang. Dia sudah berhenti menangis , tapi akibatnya dia jadi bengong seperti orang yang sudah tidak semangat hidup.


"Cass, kita berangkat sekarang ya.." Romano menggendong Cassie karena takut wanita itu akan jatuh pingsan lagi. Cassie yang sudah pasrah hanya mampu mengalungkan tangannya pada Romano dan menyandarkan kepala pada dadanya.


"Tuan, mau ke mana?" Sunny yang terbangun karena suara tangisan Cassie, pergi untuk menengok ke kamar sebelah. Tapi, dia malah dikejutkan dengan pemandangan Romano yang sedang menggendong Cassie sambil membawa koper.


"Saya mau ke Amerika. Tolong jaga Sean." ucap Romano pada Sunny yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Belum tahu."


Mereka berdua pergi turun ke bawah menyisakan Sunny yang masi mematung menatap kemesraan mereka. Ada rasa cemburu yang menyelimuti hati Sunny. Tapi, mereka berdua adalah pasangan. Jadi itu reaksi yang wajar. Sunny tidak bisa melakukan apapun. Selama ini dia yang salah karena menyukai majikannya yang sudah punya istri.


"Sunny, kamu memang bodoh. Pantas saja kamu di tipu oleh mantan suamimu." Sunny bermonolog sendiri.


*


*


*

__ADS_1


Bandara.


Romano menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Sebastian. Dia juga sudah tidak punya waktu untuk membeli tiket atau mencari jadwal penerbangan ke Amerika. Romano sekarang sudah memegang kuasa penuh atas semua aset keluarga Cassie, jadi dia dengan mudah menggunakan fasilitas ini.


"Cassie, kamu tidak apa-apa?" Jo berlari ke arah Cassie dan Romano.


"Jo,," panggil Cassie pelan. Rasanya tenaga Cassie sudah habis.


"Aku yang meneleponnya. Jo akan menemani kita selama di Amerika."


"Aku sudah tau semuanya dari Juna, Cass. Kamu sabar ya.."


Cassie mengangguk pelan. Dia tidak tau separah apa penyakit Romeo dan juga bagaimana keadaannya. Romano pun juga belum bertanya lagi keadaan Romeo, karena dia sibuk membereskan perusahaannya yang bangkrut. Dia harus membayar semua karyawan dengan menjual rumah mereka serta menarik saham di beberapa tempat lainnya untuk menutupi biaya. Semua itu membuat Romano sampai lupa akan Romeo.


"Cepat jelaskan semua dan jangan sampai ada yang ditutupi." kata Cassie kepada Romano begitu mereka sudah lepas landas.


Romano pun bercerita semua rencana mereka, kisah masa lalunya dengan Ana dan kapan Romeo mulai sakit dan mengharuskan mereka bertukar tempat.


"Aku sudah akan menceraikan Romeo karena dia berani main belakang dengan seorang pembantu." ucap Cassie lemah. Untung saja semua itu tidak terjadi. Ternyata selama ini, Romano lah yang bermesraan dengan Sunny.


"Sorry, Cass.. Aku juga butuh seseorang dalam hidupku. Dan aku tidak mungkin bermesraan denganmu, karena kamu kakak iparku."


Cassie tidak menjawab. Kepalanya sakit. Dan dia belum terbiasa melihat Romano, karena dari pengelihatan Cassie, wujud pria itu adalah Romeo.


"Cass, istirahat dulu. Perjalanan kita ini akan sangat panjang. Kamu akan membutuhkan tenaga untuk menangis lagi." sela Jo yang sejak tadi hanya diam.


Cassie setuju dengan Jo. Dia ingin tidur sekarang, meskipun ketika bangun nanti masalah kehidupannya masih akan tetap ada dan pasti akan membuatnya kembali menangis.

__ADS_1


__ADS_2