
Pagi ini Cassie makin dibuat kesal oleh Romeo. Pria itu tidak pulang semalam. Dia juga heran kenapa kaca meja riasnya bisa pecah. Waktu tanya pada Bibi, dia juga tidak tau karena Bibi tidak mendengar suara apapun dan Romeo juga tidak menyuruhnya untuk membersihkan pecahan kaca di kamar Cassie.
Di tengah teka teki yang rumit itu, tiba-tiba Romano masuk ke dalam kamar. Dia berpenampilan begitu rapi dengan setelan kerjanya.
"Dari mana saja semalam?" tanya Cassie curiga.
Romano menengok sesaat, lalu kembali berfokus pada berkas-berkas di meja kerjanya.
"Kenapa diam saja?" ulang Cassie.
"Aku kira kamu sudah tidak mau bicara padaku." jawab Romano cuek.
"Kamu itu.." Cassie tidak melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Romano membalikkan badan, dan menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Come on, Cass. Kamu itu sudah dewasa. Kamu harusnya tau jika suamimu sedang ada masalah. Jangan berpikiran buruk pada suamimu sendiri." kata Romano yang sedikit emosi. "Sudahlah, aku mau kerja." Romano mengambil berkasnya, lalu pergi ke bawah.
'Kenapa dia jadi marah? Kenyataannya dia memang mencurigakan dan semua bukan salahku. Sejak awal, dia yang mengatakan tujuannya untuk mengincar harta Dad saja.' batin Cassie.
Sebenarnya Cassie juga malas mengurus suaminya lagi, tapi dia begitu penasaran kemana Romeo semalam. Akhirnya Cassie membiarkan saja Romano pergi, dan tidak menyusulnya. Cassie lebih memilih untuk berendam air hangat supaya tubuhnya rileks karena akhir-akhir ini pikirannya hanya berkutat pada suaminya itu.
Sementara itu, Romano sudah berada di meja makan. Di sana, ada Sunny yang sedang menyuapi Sean. Sunny terlihat begitu senang ketika memutarkan sendok Sean seperti pesawat terbang.
"Ngeeeeeng.. ayo Sean ganteng, buka mulutnya."
Sean tertawa melihat Sunny. Tapi cara Sunny ini ternyata efektif karena anak itu membuka mulutnya dan mau makan suapan dari Sunny.
__ADS_1
Pemandangan di depannya membuat Romano merasa sedikit terhibur. Keponakannya sungguh sangat lucu dan menggemaskan. Wajahnya yang bulat seperti cimol membuat Romano ingin menggendongnya. Tapi, Romano tidak bisa melakukan itu Sean akan menangis jika Romano mendekat. Romano pun tidak tau kenapa. Mungkin ini karena Romeo jarang menggendong Sean sebelumnya, jadi Sean tidak nyaman berada dekat Romano.
"Ehem" Bibi berdehem di samping Romano, membuat pria itu tersadar.
"Anda melihat Sean apa Sunny?" sindir Bibi yang mulai curiga dengan Romano.
"Bi, Cassie pasti tidak akan turun ke bawah. Tolong Bibi antarkan makanan untuk dia." Ucap Romano santai, tanpa terintimidasi oleh pertanyaan Bibi barusan.
"Tanpa disuruh pun, Bibi akan antarkan ini." Bibi mengambil piring di sebelah Romano dengan kasar. Dia sebal karena Romano selalu menyakiti dan membuat Cassie menangis.Kali ini Bibi juga punya feeling jika Romano mulai tertarik dengan Sunny.
Romano memperhatikan bibi yang sudah naik ke atas untuk membawakan sarapan Cassie. Dia bisa bernafas lega karena sekarang Romano bisa berdua saja dengan Sunny.
"Bagaimana perasaan anda, Tuan?" Sunny memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Dia juga melirik ke perban yang masih terlilit rapi di tangan kiri Romano.
"Sudah sedikit lebih baik." Romano tersenyum pada Sunny. Ini yang Romano butuhkan. Dia butuh perhatian seorang wanita yang keibuan, karena seumur hidup, Romano tidak pernah mendapatkan perhatian tulus dari seorang perempuan. Ya, Ana Wilson tidak mencintainya, sedangkan Fani hanya ingin mencari keuntungan saja dengannya.
"Tuan.. tapi saya baru bekerja beberapa hari saja. Masa sudah gajian?" tanya Sunny bingung.
"Ini diluar gaji. Ini hadiah dari saya sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah memperhatikan saya." "Coba cek dulu."
Sunny membuka ponsel untuk mengecek m-banking nya. Dia begitu terkejut karena melihat uangnya bertambah begitu banyak dari saldo terakhir.
"Tuan, ini berlebihan." kata Sunny tidak percaya.
"Ini perintah, Sun. Saya tidak mau tau, jika kamu tidak beli baju yang bagus, saya akan memecat kamu." ancam Romano.
__ADS_1
Sunny menelan ludah. Dia hanya berkerja untuk mengurus bayi, tapi masing-masing memiliki aturan yang harus dia penuhi. Tentu saja, jika Sunny tidak sanggup menuruti kemauan mereka, dia bisa terancam dipecat.
"Oke, saya berangkat dulu." Romano beranjak dari bangkunya. Dia mendekat pada Sunny, lalu mengacak-acak rambut Sunny sambil tersenyum.
Pipi Sunny langsung bersemu merah. Dia tentu saja meleyot dengan perlakuan manis Romano, plus karena melihat senyuman pria itu yang begitu menawan.
"Hati-hati Tuan." Sunny membalas senyuman Romano.
*
*
*
"Bi, kenapa masih di sini?" Cassie keluar dari kamar karena Bibi tidak kunjung turun juga, malah melihat ke arah bawah.
"Ini mau turun, Non." ucap Bibi panik.
"Apa sih, Bi? Kok keliatan kaget gitu?" Cassie hendak menengok ke bawah, tapi Bibi buru-buru mendorong Cassie kembali ke dalam kamarnya.
"Bukan apa-apa, Non. Non Cassie sarapan saja."
"Tapi aku butuh mengambil Charger di mobil, Bi."
"Bibi saja yang ambilkan, Non." Bibi buru-buru turun ke bawah. Dia tidak akan membiarkan Cassie turun dan menyaksikan apa yang dilakukan suami dan baby sitternya.
__ADS_1
Ya, Bibi tidak sengaja melihat kemesraan Romano-Sunny di bawah. Dia harus segera memberitahu Sunny sebelum semua terlambat. Sunny memang nekat sekali. Berani-beraninya Sunny mendekati suami majikannya sendiri.