
"Fani?" teriak Cassie.
"Kamu.. " wanita tinggi langsing itu sama terkejutnya dengan Cassie. Dia ingat jika Cassie adalah orang yang menjambak rambutnya di depan umum. Sungguh suatu kebetulan bertemu dengan Cassie di sini. Fani memandang Cassie dari atas ke bawah. Dia begitu tampil seperti orang susah. Sangat berbeda dengannya yang tampak modis. Fani lalu beralih pada Reno yang tampil sederhana juga.
"Wah, ternyata kamu juga selingkuh." tuduhnya to the point. Dia melirik lagi ke arah Reno sambil tersenyum sinis.
"Diam kamu wanita murahan." bentak Cassie.
Bukannya marah, wanita di depan Cassie malah tertawa senang. "Bukan aku yang murahan, tapi suami mu yang gampangan. Dia bahkan tidak pernah berkata jika dia sudah menikah." jelas Fani dengan nada mengejek.
Cassie sudah siap melayangkan tangannya, tapi dia mengurungkan niatnya karena di tahan oleh Reno.
"Jelaskan apa maksudnya semua ini." Reno yang sejak tadi mendengarkan obrolan mereka tentu sadar jika yang mereka maksudkan adalah suami Cassie alias Romeo.
"Nanti dulu Ren, ini urusan perempuan." Cassie kembali berfokus pada Fani yang tampak tidak berdosa sama sekali.
"Sudah lah, kamu menyerah saja, karena dia pasti lebih memilih ku." Fani semakin senang mengompori Cassie.
"Dengar, nona. Aku tidak peduli sama sekali. Ambil saja Romeo, jika kamu mau." Suara Cassie terdengar bergetar. Sebenarnya Cassie sedang menahan air matanya supaya tidak turun di depan Fani. "Ayo Ren, bicara dengan nya sungguh membuang waktu dan energi." Cassie menarik Reno untuk segera pergi, meninggalkan Fani yang masih terbengong sendiri.
"Romeo?"
Fani mengenyahkan pikirannya. Dia lalu kembali pada tujuannya untuk mencari jam tangan.
Tapi baru 2 langkah, satu pelayan mencegat Fani untuk tidak masuk.
"Maaf, anda di blacklist." kata pelayan itu tegas.
"Lho, saya juga langganan di sini." protes Fani sedikit kesal.
__ADS_1
"Ya betul, tapi ini perintah dari bos kami. Anda tidak boleh masuk karena sudah membuat kesal tamu VIP kami." jelas pelayan itu masih dengan nada yang begitu sopan.
"Cih, siapa orang nya? Biar saya adukan kalian dan orang itu pada kekasih saya."' tantang Fani yang tidak terima perlakuan pelayan itu.
"Orang itu adalah Tuan Reno Tan dan orang yang anda tabrak tadi. Wanita itu adalah adik Tuan Reno, Cassie Sebastian. Anda pasti paham dengan nama mereka. Jadi, silahkan Anda pergi."
Deg. Mendengar marga Tan dan Sebastian disebut, Fani langsung menciut. Keluarga Tan bahkan bisa membeli Mall ini jika mereka mau. Keluarga Sebastian juga sangat hebat. Mereka membangun hotel dan rumah sakit di mana-mana. Melawan 2 pesohor itu sama saja mencari mati. Fani akhirnya berjalan keluar sambil memikirkan soal Cassie Sebastian dan nama yang disebutkan Cassie, yaitu Romeo.
*
*
*
Sesampainya di mobil, tangis Cassie langsung meledak. Dia memeluk Reno sambil menangis sesenggukan, meluapkan perasaannya yang begitu kacau.
"Cassie, apakah Romeo selingkuh?" tebak Reno.
"Kurang ajar. Dia pikir dia siapa. Berani-berani nya dia berbuat seperti itu." Reno masih shock dengan pengakuan Cassie ini.
"Aku akan susul dia ke Jepang dan buat pelajaran dengannya." ucap Reno sambil tetap menenangkan Cassie.
"Tidak perlu, Ren." kata Cassie di tengah isak tangisnya.
"Astaga, Cassie. Kamu mau hidup dengan orang yang sudah menghianati mu? Aku bahkan lebih memilih membatalkan pernikahan ku daripada hidup dengan seorang penghianat." Reno mulai terbakar emosi. Dia sudah trauma dengan yang namanya perselingkuhan.
Cassie menggeleng. "Tidak semudah itu, Ren."
"Kamu tinggal ceraikan saja dia. Apa susahnya?" bentak Reno. Dia lupa kalau Cassie sedang hamil dan tidak boleh stress.
__ADS_1
"Tapi, Romeo sangat membantu pekerjaan Dad."
"Tidak bisa, Cass. Aku harus katakan ini pada Dad. Dad pasti setuju dengan ide ku."
"Cepat ke rumah Dad Dimas, pak." perintah Reno.
Sopir Reno langsung menjalankan mobil tanpa banyak bicara. Jika Reno sudah emosi seperti ini, artinya dia tidak bisa membantah dan harus menjalankan tugasnya.
Sepanjang jalan, Reno menginterogasi Cassie. Dia menanyakan hal yang begitu detail pada Cassie, membuat Cassie semakin panik.
"Siapa saja yang sudah tau hal ini?"
"Jo, Juna.." jawab Cassie lemah. Dia sudah tidak menangis, tapi sekarang berganti dengan perasaan cemas dan takut.
Reno memandang Cassie tidak percaya. Cassie memberitahu orang lain dan bukan dirinya. Jika tau hal ini lebih awal, tentu saja Reno akan menghajar Romeo sebelum pria itu pergi ke Jepang.
"Tuan.. maaf.. Ada telepon dari Nyonya." Pak sopir menyerahkan ponselnya ke belakang.
"Reno, kamu di mana?" Suara Siska terdengar serak di ujung sana. Reno menangkap sinyal tidak baik lagi.
"Ini perjalanan ke rumah, Mom. Sebentar lagi sampai."
"Tidak perlu ke rumah. Pergi saja ke rumah sakit. Dad masuk rumah sakit."
"Apa?! Oke, kami segera ke sana."
"Kenapa, Ren?" Cassie juga menyadari ada yang tidak beres dengan perubahan ekspresi kakaknya setelah menerima telepon.
"Kita ke rumah sakit Husada sekarang." ucap Reno sambil mengembalikan ponsel sopirnya.
__ADS_1
"Siapa yang sakit, Ren?"
"Dad masuk rumah sakit." ucap Reno dengan wajah tegang.