
Cassie membuka matanya perlahan. Hal yang pertama dia lihat adalah langit-langit kamarnya. Cassie lalu menengok ke arah samping. Dia melihat seorang pria dengan jas praktek dokter sedang tersenyum ke arahnya dan di sampingnya tampak Siska berdiri dengan wajah cemas.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Siska bergerak untuk duduk di pinggir ranjang.
"Mom,, Cassie kenapa?"
"Kamu pingsan, sayang." "Jangan banyak gerak dulu, Cas." Siska menahan Cassie yang ingin bangun dari ranjang. Tapi karena Cassie tidak ingin tiduran, akhirnya Siska membantu Cassie untuk bersandar pada head board.
"Mana anak ku?" tiba-tiba Dimas menyeruak masuk ke kamar Cassie dengan wajah panik. Di belakang Dimas, Romeo juga tampak hadir untuk menemui Cassie.
Setelah melihat Cassie sudah sadar, Dimas langsung memeluk putrinya erat. Dia bahkan sampai menangis. Perlakuan Dimas ini membuat Cassie sedikit bingung. Dia hanya pingsan, dan semua orang sekarang berkumpul di kamarnya dengan wajah begitu panik.
"Baik, saya permisi dulu." Dokter paruh baya itu keluar meninggalkan keluarga Sebastian yang pasti tidak ingin di ganggu.
Cassie bisa bernafas lega setelah Dimas melepas pelukannya. Dia lalu melayangkan pandangannya ke arah Romeo. Romeo tampak tenang dan tidak menunjukkan keresahan sama sekali. Padahal, Cassie baru memergokinya selingkuh.
"Dad, ada yang ingin Cassie bicarakan." kata Cassie tanpa mengalihkan pandangannya dari Romeo. Dia sudah memutuskan untuk bicara pada Dimas mengenai semua perlakuan Romeo. Romeo punya rencana jahat, dia berselingkuh dan menampar Cassie. Cassie sangat membenci pria yang berdiri tanpa rasa berdosa itu.
"Iya, Dad tau.."
"Dad sudah tau?" Cassie terperangah karena Dimas ternyata sudah mengetahui kelakuan busuk Romeo.
Dimas mengangguk. Dia berdiri untuk memeluk Siska. "Kami tau kalau kamu sedang hamil." "Selamat ya sayang.." ucap Dimas dengan penuh haru.
"Hamil?" tanya Cassie dan Romeo bersamaan.
__ADS_1
"Ya, tadi Dokter Lukas bilang kalau kamu hamil. Pantas saja kamu makan begitu banyak." Siska menjawab sambil tertawa. Setelah Dokter Lukas mengatakan Cassie hamil, Siska langsung memberitahu Dimas untuk segera pulang ke rumah. Saking senangnya, Dimas sampai lupa memberitahu Romeo jika Cassie sedang hamil. Karena itu, saat ini Romeo terbengong mendengarkan percakapan mertuanya.
"Hamil, tapi,,," Cassie tampak bingung dengan situasi ini.
"Lho, apa kamu tidak tahu, Cass?" tanya Siska bingung.
"Mom,, Cassie gak mau hamil." Cassie mulai menangis.
Dimas dan Siska saling menatap. Reaksi Cassie sungguh tidak wajar. Seharusnya dia senang akan kehamilan ini. Siapa yang tidak ingin memilik anak saat sudah menikah?
"Sayang, kamu kenapa?" Siska mendekati Cassie. Cassie segera memeluk Siska sambil menangis begitu sedih.
"Mom, Cassie gak mau punya anak Mom.."
"Sayang,, tapi.."
Ucapan Romeo itu masuk akal juga. Selama ini Cassie diam dan tidak suka bicara soal anak pasti karena dia belum siap memiliki anak.
"Dad tidak perlu khawatir. Biarkan Romeo yang bicara pada Cassie." "Kalian pulanglah dulu." lanjut Romeo.
Siska dan Dimas akhirnya menuruti menantunya untuk pergi. Sebenarnya mereka ingin lebih lama menemani dan bicara pada Cassie, tapi karena Cassie tampak menangis histeris, mereka mungkin harus mengalah. Bagaimanapun juga, Romeo adalah kepala keluarga Cassie, jadi mereka tidak boleh banyak ikut campur.
Romeo mengantarkan Dimas dan Siska ke depan. Setelah adegan peluk-pelukan dan ucapan selamat, Romeo kembali ke atas untuk menemui Cassie.
*
__ADS_1
*
*
Kamar Cassie sudah berantakan ketika Romeo masuk ke sana. Cassie mengobrak abrik seluruh kamar, dan dia bahkan memecahkan kaca riasnya.
"Cassie, kamu kenapa?" Romeo memegang kedua tangan Cassie, untuk menenangkan wanita itu.
"Kenapa kamu bilang?" Cassie tertawa sinis. Dia memberontak dari pegangan Romeo dan..
'PLAK' Cassie menampar pipi Romeo sekuat tenaga.
"Itu balasan karena kamu berselingkuh dan menampar pipi ku."
Romeo terdiam di tempatnya. Dia berusaha untuk mengendalikan ekspresinya supaya tidak bereaksi berlebihan. Padahal, tentu saja Romeo sakit hati karena Cassie menamparnya begitu keras.
"Kenapa? Apa kamu mau marah?" "Yang seharusnya marah adalah aku, Rom. Aku." "Kamu pria terburuk yang pernah aku temui."
Romeo masih diam dan tidak banyak berkomentar. Dia membiarkan Cassie meluapkan amarahnya.
"Kamu sudah mengambil semua nya, Rom. Kamu jahat!"
"Bukankah aku sudah bilang, jangan menyesal jika ini terjadi. Kamu yang menggodaku, dan aku tidak pernah memaksa mu. Kita melakukan karena kita berdua menikmatinya." ucap Romeo dengan santainya.
"Aku benci kamu, Romeo Smith." teriak Cassie. Dia mengamuki Romeo dengan memukuli dadanya.
__ADS_1
Romeo dengan sigap memegang tangan Cassie, dan menahannya dengan kuat.
"Aku justru senang jika kamu membenci ku." ucap Romeo penuh arti. Dia melenggang keluar dan tidak ingin bicara lagi pada wanita yang sedang marah besar itu.