
"Biiiiii.." Cassie berteriak nyaring sambil menuruni tangga.
Bibi yang sedang asyik masak di dapur tentu saja kaget dan buru-buru untuk menengok majikannya yang berteriak begitu nyaring itu.
"Ada apa si non? Ini baru jam 6 pagi."
"Bi, apa Romeo sudah berangkat kerja?"
Bibi menggeleng. Dia tidak melihat Romeo turun dari atas, atau mendengar suara mobil sport Romeo.
"Aneh sekali. Dia tidak ada di atas, Bi." Cassie bercak pinggang sambil mondar mandir mencari keberadaan Romeo. Kalau pagi ini Romeo tidak keluar rumah, itu berarti semalam Romeo tidak pulang.
Cassie dengan cepat mengambil ponselnya di atas. Dia langsung menghubungi Romeo, tapi pesan suara. Cassie mencoba beberapa kali, dan hasilnya tetap sama. Cassie mulai panik, takut terjadi sesuatu pada Romeo.
"Dad mungkin tau.." ucap Cassie pada dirinya sendiri.
Kini Cassie beralih untuk menelepon Dimas.
"Halo, Dad.. apa Dad kasih tugas Romeo lagi?" tanya Cassie begitu telepon tersambung.
"Tugas apa nih?" suara Dimas tampak parau di ujung sana. Pasti Daddy nya itu baru bangun dan nyawanya belum terkumpul.
"Maksudnya tugas keluar kota atau keluar negeri." jelas Cassie.
"Ooh.. dia memang harus ke Jepang.. tapi baru berangkat besok."
"Tapi, kenapa sekarang aku tidak bisa menghubungi Romeo, Dad?" protes Cassie.
"Cass, maksudmu gimana?" Dimas mulai bisa menangkap sinyal kurang baik dari nada bicara Cassie yang panik.
"Enggak, Dad. Maksudnya ponsel Romeo tidak aktif." Cassie sedikit menurunkan nadanya supaya Dimas tidak curiga jika Romeo tiba-tiba menghilang. Selama ini, Cassie sudah berpura-pura jika pernikahan mereka baik-baik saja. Dimas bahkan tidak tau jika Romeo berselingkuh.
"Coba kamu telepon ke kantor. Tanyakan saja, apakah Romeo ada di sana?"
"Okey Dad."
__ADS_1
"Jangan lupa nanti siang kamu bawa Sean ke sini."
"Ya, baik Dad."
Setelah menelepon Dimas, Cassie menelepon Hotel. Tapi, mereka mengatakan jika sejak kemarin Romeo tidak masuk ke kantor.
Ini sungguh aneh. Ke mana pria itu pergi?
Cassie mondar mandir di kamar, memikirkan kemungkinan ke mana Romeo pergi. Cassie tidak lupa menghubungi pegawai Daddy nya di Jepang. Hasilnya juga Nihil. Tentu ini membuat Cassie semakin panik.
"Cassie, jangan berpikiran yang aneh-aneh."
"Permisi, Non.. Bibi mau bereskan kamar." Bibi mengetuk pintu kamar Cassie yang sudah terbuka untuk pamitan pada Cassie.
"Ya, masuk saja bi." Cassie duduk di pinggir ranjang masih dengan mencoba menelepon Romeo lagi.
"Apa Tuan Romeo sudah ketemu Non?" tanya Bibi sambil menyapu kamar Cassie.
"Belum bi. Dia itu seperti hantu. Kadang bisa hilang sendiri, kadang tiba-tiba muncul." curhat Cassie.
Cassie tersenyum kecil dan tidak menanggapi Bibi lagi. Moodnya sedang tidak bagus sekarang untuk bercanda.
Selesai menyapu, Bibi pergi ke kamar mandi untuk membuang sampah kemarin.
"Non, apa Non Cassie sakit?"
"Hah? Enggak Bi. Memangnya kenapa?" tanya Cassie bingung.
Bibi mengangkat tisu penuh dar*h yang dia temukan di tempat sampah kamar mandi Cassie.
Cassie teringat akhir-akhir ini Romeo sering batuk-batuk. Apakah itu milik Romeo?
"Buang saja Bi."
Bibi menurut dan tidak banyak bertanya lagi. Dia membawa sampah-sampah itu keluar dan meninggalkan Cassie sendiri.
__ADS_1
Cassie kembali menelepon. Kali ini dia menelepon sepupunya, Samuel.
"Sam.. boleh aku bertanya sesuatu?"
"Jangan suruh aku yang aneh-aneh." ingat Sam. Dia sudah cukup lelah karena dimintai tolong oleh sepupu dan temannya untuk meretas CCTV dan mencari tau tentang pasangan masing-masing.
"Ini berhubungan dengan kedokteran, Sam. Kamu jangan selalu berpikiran buruk." omel Cassie.
"Yah, namanya juga trauma." Sam tertawa. "Mau tanya apa sepupu ku yang paling cantik?" goda Sam.
"Sam, kalau orang batuk sampai berdarah itu dia sakit apa?"
"Maksudmu? Kamu sakit?" Sam terperangah dengan pertanyaan Cassie.
"Bukan aku. Teman ku sering batuk sampai berdarah."
"Apa dia sudah periksa ke dokter?"
"Entahlah Sam.. Aku tidak terlalu dekat.. Tapi, kira-kira dia sakit apa?"
"Biasanya yang berhubungan dengan paru-paru. Bisa TBC, infeksi, kanker.." Sam menyebutkan penyakit yang mungkin dialami oleh teman Cassie. "Suruh saja dia periksa supaya jelas dan tepat penanganannya."
"Iya, nanti aku akan bilang padanya. Makasi Sam.."
"You're welcome nyonya. Bagaimana kabar Sean? Dia sudah bisa apa saja?"
"Dia sudah bisa berguling dan mulai mengoceh. Sekarang sedang belajar duduk."
"Wah, pasti kalian sangat senang. Salam untuk Romeo, Cass."
Cassie mengakhiri teleponnya dengan Sam. Dia memikirkan apa yang mungkin Romeo alami. Sakit apa dia sebenarnya? TBC? Kanker?
"Romeo, kamu dimana? Apa kamu baik-baik saja?"
Air mata Cassie mulai menetes. Dia baru saja merasakan bahagia bersama dengan suami dan anaknya, tapi sekarang semua menguap berganti dengan rasa cemas. Cassie takut kehilangan Romeo.
__ADS_1