
Ponsel Cassie berdering. Romeo mengambil tas Cassie untuk melihat siapa yang menelepon pada larut malam seperti ini.
Ternyata itu bukan telepon, melainkan video call dari Sunny. Romeo memutuskan mengangkatnya karena profil Sunny adalah wajah Sean. Ya, mungkin Cassie memberi nama kontak Sean dengan nama Sunny.
Begitu terhubung, Romeo dapat melihat Sean sedang bermain mobil-mobilan. Anak itu sangat lucu dan Romeo begitu senang karena Sean terlihat sehat juga menggemaskan.
"Halo, Sean.. Daddy di sini.." Romeo memanggil Sean.
Putranya menengok. Dia diam menatap layar ponsel.
"Ini, Daddy Sean.." ulang Romeo.
"Dad.. dad.." Sean bicara dengan jelas memanggil Daddy nya.
"Iya.. maaf ya Daddy masih harus berada jauh darimu. Daddy janji setelah ini kita akan bermain mobil-mobilan bersama."
Sean tertawa sambil bertepuk tangan, seolah dia tau apa yang diucapkan Romeo. Romeo bersyukur karena dia masih bisa melihat anaknya yang semakin pintar dan lucu saja.
"Tuan,, apakah anda sakit?" seorang wanita tiba-tiba muncul di layar bersama dengan Sean. Romeo belum pernah melihat wanita mungil dengan lesung pipit itu. Tapi, Romeo segera berpikir jika Sunny bisa jadi adalah Baby sitter Sean. Bukan tidak mungkin jika mertuanya memberikan Sean seorang Baby sitter karena Cassie pasti begitu kerepotan mengurus Sean sendiri.
"Ya, saya sedang dalam perawatan sekarang."
"Anda sakit apa Tuan? Kenapa wajah anda pucat?" Sunny mulai panik.
"Kenapa kamu tanya hal pribadi seperti ini?" Romeo yang tidak tahu kejadian belakangan ini, tentu saja bingung dengan perhatian berlebihan dari Sunny. Ekspresi Sunny bahkan berubah menjadi seperti orang yang sedih.
"Aku sangat khawatir, Tuan." Sunny kini mulai menangis. "Aku juga sangat merindukanmu."
"Hey, berani-beraninya kamu berkata seperti itu." teriak Romeo. Dia kaget dengan pernyataan Sunny yang merindukan Romeo.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu berteriak seperti itu?" Cassie muncul dengan pakaian tidurnya. Dia lalu naik ke ranjang Romeo untuk tidur di sebelahnya.
"Ini, baby sitter Sean.." Romeo menyerahkan ponselnya pada Cassie.
"Oh, kenapa Sun?" Cassie mengambil alih pembicaraan.
"Tidak, nyonya. Saya tadi menelepon hanya untuk memberi kabar soal Sean." jawab Sunny gugup. Dia takut jika Cassie mendengar perkataannya pada Romeo.
"Ooo.. bagaimana Sean? Apakah dia rewel?"
"Ya, kadang dia memanggil Nyonya.. tapi sejauh ini bisa ditangani." jelas Sunny masih dengan perasaan campur aduk. Terlebih kini dia menyaksikan Romeo merangkul Cassie begitu mesra, bahkan tidak ada jarak diantara mereka.
"Rom, hentikan. Geli." omel Cassie pada Romeo yang tengah menciumi pipinya.
"Sun, tunggu saja di sana, kami mungkin akan kembali..." Cassie berhenti sejenak, karena dia tidak tau kapan dia akan kembali. "Berapa lama lagi sayang?" tanya Cassie sambil menengok ke arah Romeo.
"3 hari lagi. Aku sangat kangen pada Sean."
"Jaga Sean dengan benar sampai kami pulang." "Dan, jangan berani berkata hal yang kurang ajar seperti tadi." Romeo mengambil ponsel Cassie dan berbicara pada Sunny yang diam saja sambil menonton kemesraan mereka. Dan setelah mengatakan itu, Romeo lalu mematikan telepon Sunny secara sepihak.
"Bicara apa, Rom?" tanya Cassie penasaran.
"Tidak penting." Romeo memperbaiki posisinya supaya bisa menatap Cassie dengan jelas. Cassie juga sudah tiduran di bantal yang sama dengan Romeo sambil memandanginya. Kini posisi mereka begitu dekat dan saling berhadapan.
"Cass.. kalau aku mati nanti, apa yang akan kamu lakukan?"
"Kamu akan hidup lama, Rom. Jangan bicara seperti itu." ucap Cassie sambil mengelus pipi Romeo dengan lembut.
"Kenapa kamu begitu yakin?"
__ADS_1
"Karena kamu punya Aku dan Sean. Kami akan menyemangati kamu sampai kamu sembuh." oceh nya.
"Kamu benar, sayang. Aku akan segera sembuh." Romeo mencium kening Cassie.
"Ya, aku janji akan selalu ada bersamamu, Rom." ucap Cassie tulus.
"Aku tau sayang, tapi sebenarnya aku sudah sembuh dari kanker." kata Romeo dengan wajah serius.
Cassie terperangah. "Kamu jangan bercanda, Rom."
"Aku tidak bercanda, Cassie. Aku sudah sembuh dan hanya perlu pemulihan saja." ulang Romeo.
Jadi, sejak tadi Romeo memang hanya berakting saja di depan Cassie. Ketika mendengar jika Cassie pergi ke Amerika, Romeo meminta dokter untuk jangan memberitahukan hal ini pada Cassie. Dia ingin melihat seberapa dalam cinta Cassie padanya.
Dan hal itu terbukti tadi sewaktu Cassie datang. Dia menangis histeris, mengguncangkan tubuh Romeo untuk segera bangun karena dia tidak ingin jadi janda.
Romeo yang sudah puas dengan pengakuan Cassie, akhirnya tidak dapat menyembunyikan hal ini lebih lama lagi. Dia juga tidak tega melihat istrinya terus menangis karena memikirkannya.
"Sepupumu mencarikan transplantasi paru untukku." jelas Romeo.
Dia mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu, ketika dia putus asa. Romeo terpaksa menelepon Samuel untuk meminta bantuan supaya bisa sembuh dari kankernya. Sam memberikan opsi untuk melakukan transplantasi meskipun dengan resiko kegagalan cukup tinggi. Dan setelah memikirkan untung ruginya, akhirnya Romeo menyanggupi segala resiko yang akan dia terima setelah transplantasi.
Beruntung, semua berjalan lancar dan sel kankernya sudah dinyatakan hilang.
"Maksudmu Samuel?" Cassie memastikan lagi orang yang di maksud Romeo.
"Ya, Sam banyak sekali membantuku. Dia bekerja keras mencarikan dokter terbaik, dan juga memantau siang malam."
"Syukurlah, Rom. Aku lega mendengarnya." Cassie kembali memeluk Romeo dengan perasaan jauh lebih bahagia. Akhirnya Cassie akan bisa hidup bersama dengan Romeo dan Sean sesuai dengan apa yang dia harapkan.
__ADS_1
"Ehem."