Married With Romeo

Married With Romeo
Penyakit yang kambuh


__ADS_3

Pagi itu, Cassie bangun dengan perasaan bahagia. Dia malu sendiri ketika mengingat kejadian tadi malam di mana Romeo sudah mau menyentuhnya lagi. Cassie berharap jika hubungan ke depan bersama Romeo akan lebih baik lagi, jadi dia bisa benar-benar mempertimbangkan tentang perceraian mereka.


"Sayang, kenapa berangkat pagi sekali?" Cassie melihat Romeo keluar dari walk in closet dan dia sudah menggunakan setelan kerjanya.


Romeo tidak menjawab. Dia hanya merapikan dasinya di cermin, tanpa menatap ke arah Cassie.


Cassie mengambil bath robe dan menggunakannya untuk menutupi tubuhnya. Dia lalu berjalan mendekati Romeo untuk membantu pria itu memasangkan dasi.


"Aku bisa sendiri, Cass." Romeo menolak Cassie untuk membantunya. Tapi, Cassie tetap ingin merapihkan dasi suaminya.


"Cassie, aku sudah bilang aku bisa sendiri!" bentak Romeo.


Cassie terkejut. Dia segera melepaskan tangannya dari tubuh Romeo. "Rom, kenapa kamu marah?" tanya Cassie bingung.


"Sudah, jangan cerewet. Aku akan berangkat kerja sekarang." Romeo mengambil kunci mobil di meja rias, lalu pergi meninggalkan Cassie tanpa melakukan morning Kiss seperti biasa.


'Kenapa dia? Apa ada masalah di kantor? Atau apakah dia memang punya kepribadian ganda? Sehari baik, sehari kemudian dia marah-marah.' batin Cassie. Perubahan Romeo terlalu drastis pagi ini.


Tangisan Baby Sean menyadarkan Cassie dari lamunannya. Dia segera pergi ke connecting door untuk menenangkan anaknya.


"Sean sayang..kamu sudah bangun?"


Sean menangis dengan keras. Cassie mengambil Sean dari box, lalu menggendong anaknya.


"Sayang,, cup.. cup.. kenapa tiba-tiba kamu menangis?" Cassie merasakan perasaan yang tidak enak. Tidak biasanya Baby Sean menangis meraung-raung seperti ini. Mungkin Sean sedih karena Daddy nya tidak menemui dia dulu.


Sementara itu di mobil, Romeo kembali terbatuk. Dia segera mengambil sapu tangannya untuk menahan dahak atau dar*h yang keluar.

__ADS_1


Benar saja, sapu tangan Romeo langsung berubah merah. Romeo memang harus segera pergi ke Jepang untuk berobat.


Ponsel Romeo berdering membuyarkan lamunan Romeo. RS calling..


Sudah begitu lama adiknya pergi entah kemana. Dia bilang ingin move on dari Fani. Jadi untuk sementara waktu, Romano tidak bisa dihubungi.


"Kenapa, Rom? Kamu di mana sekarang?" tanya Romeo lebih dulu.


"Aku ada di Indonesia. Bagaimana keadaanmu?"


"Sepertinya kurang baik. Aku akan segera pergi ke Jepang lagi."


"Apakah penyakitnya kambuh lagi?" Romano merasakan jika badannya kurang enak akhir-akhir ini. Pasti itu juga yang dirasakan Romeo. Karena mereka kembar, jadi mereka bisa merasakan jika salah satu sakit.


"Sepertinya begitu."


"Jangan macam-macam, Rom. Aku tidak akan membiarkan istriku di sentuh olehmu lagi." ancam Romeo.


"Wah.. wah..Apa aku tidak salah dengar?" "Apa hubunganmu dengan wanita manja itu sudah membaik?" sindir Romano.


"Tenang saja, Brother. Aku bukan orang gila yang merebut istri kakak sendiri." ucap Romano sambil tertawa.


"Sudah lah, Romano. Aku harus berangkat kerja." Romeo memutuskan sambungan telepon.


*


*

__ADS_1


*


Hotel Emerald


Romeo memberikan kunci mobilnya pada porter. Dia lalu berjalan masuk dengan perlahan, karena badannya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Kepala Romeo begitu pusing dan dadanya sesak. Rasanya Romeo kesulitan untuk bernafas. Romeo sampai menabrak cleaning servis yang sedang mengepel di lobi.


"Pak, anda tidak apa-apa?" tanya pegawai Romeo yang melihat Bos nya jalan dengan sempoyongan.


"Tidak apa-apa." Romeo menyingkirkan tangan pegawainya, dan tetap berjalan ke lift.


Untung saja lift saat ini kosong. Hanya ada seorang pria saja yang menggunakan topi dan masker berdiri di pojok.


Romeo berpegangan pada samping lift sambil memegangi dadanya. Dia mengambil ponsel di saku, untuk menghubungi sekretarisnya. Tapi, belum sempat menekan tombol di ponsel, Romeo sudah jatuh pingsan.


Orang di dalam lift yang bersama Romeo segera menangkap Romeo. "Romeo!" pekiknya.


Orang itu membuka topi dan masker. Ya, orang itu begitu mirip bak pinang dibelah 2. Tidak ada perbedaan dari segi wajah, tinggi badan, postur, bahkan potongan rambut mereka. Romano segera memakaikan topi dan maskernya pada Romeo. Tidak lupa dia juga menukar jaketnya dengan jas Romeo.


Tepat saat pintu lift terbuka, mereka sudah bertukar posisi.


"Bantu saya bawa dia ke dalam." ucap Romano pada karyawan yang akan masuk ke lift.


Setelah mereka hanya berdua di ruangan, Romano melepaskan masker Romeo.


"Rom, kenapa kamu seperti ini? Apa yang harus aku lakukan?" Romano bermonolog sendiri. Untung saja tadi Romano berinisiatif pergi ke kantor Romeo untuk menengok kakaknya itu.


Saat ini, tentu saja Romano harus segera membawa Kakaknya itu ke Jepang. Romano segera menghubungi temannya untuk menyiapkan pesawat untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2