
Seminggu kemudian.
Cassie masih belum mendapat kabar dari Romeo setelah pembicaraan terakhir mereka. Sejak itu, Cassie kembali jadi suka melamun. Dia bahkan kadang kurang mengawasi Sean, sehingga Sean beberapa kali nyaris jatuh. Karena itu, saat ini Cassie menginap di rumah Dimas, supaya Sean lebih banyak yang mengawasi.
"Nyonya, Baby sitter nya sudah datang." Bibi menghadap pada Dimas-Siska yang sedang berada di ruang tengah sambil bermain dengan Sean.
"Suruh masuk saja, Bi." perintah Siska.
Bibi keluar dan tak lama dia kembali dengan membawa seorang wanita seusia Cassie yang tampak polos dan lugu. Dari penampilannya, dia juga begitu sederhana. Sejak masuk, wanita itu hanya menunduk dan tidak berani menatap 3 orang yang sedang duduk bersama itu.
Bibi sampai harus menyenggol wanita itu karena dia diam saja dan tidak menyapa.
"Maaf, Tuan Nyonya. Sunny ini pemalu orangnya." Bibi membuka pembicaraan karena tampaknya baik Cassie, Dimas dan Siska tidak berminat untuk berbicara.
"Halo Sunny. Saya Dimas, kakek Sean. Ini istri saya, Siska dan anak saya, Cassie." Dimas memperkenalkan satu persatu keluarga mereka dengan ramah.
Sunny mulai memandangi satu persatu calon majikannya itu. Cassie tampak sedikit angkuh dan tidak mau tersenyum atau menatapnya. Sedangkan, Siska dan Dimas terlihat sangat ramah. Sunny juga melihat Sean yang begitu gemuk dan menggemaskan itu.
"Saya, Sunny, Tuan. Umur 28 tahun." Sunny bicara dengan lirih sampai hampir tidak terdengar.
"Jadi, apakah kamu sudah pernah menjadi baby sitter sebelumnya?" Tanya Siska penasaran. Dia sebenarnya tidak ingin mencari baby sitter untuk Sean, tapi karena Cassie sering lalai, akhirnya Siska memutuskan untuk memperkerjakan Baby sitter yang akan membantu Cassie mengurus Sean.
"Sudah, Nyonya. Selama 5 tahun." ucapnya masih dengan malu-malu.
"Wah, cukup lama ya.." "Kamu bekerja di mana sebelumnya?" Siska masih melanjutkan interviewnya.
__ADS_1
"Saya bekerja di rumah saya sendiri, Nyonya."
"Maksud kamu?"
"Ya, saya mengurus anak saya sendiri." ucap Sunny bangga.
Dimas dan Siska saling berpandangan, lalu mereka kompak tertawa.
"Ya ampun, Sun. Kamu ternyata pandai melawak juga." Siska menghapus air matanya yang keluar karena dia tertawa begitu geli.
"Nyonya, Sunny ini sebenarnya rajin dan cekatan. Meskipun umurnya tidak muda lagi dan sudah pernah menikah, tapi dia bisa bekerja dengan baik, tidak kalah dengan yang lainnya." Bibi mempromosikan Sunny dengan baik. Sunny adalah anak dari teman Bibi di kampung. Karena itu, Bibi berusaha untuk membantu Sunny supaya dia bisa diterima kerja di rumah Sebastian, khususnya membantu Cassie.
"Jadi, maksudnya gimana Bi?" tanya Siska bingung mendengar penjelasan Bibi.
"Lalu suamimu?"
"Sudah bercerai, Nyonya. Karena suatu hal yang tidak dapat saya ceritakan."
"Gimana, Cass?" Siska bertanya pada Cassie yang diam saja tanpa memandang Sunny. Sebenarnya, Siska mulai ragu karena Sunny ternyata sudah pernah menikah dan bercerai. Ini tidak akan baik untuk Cassie dan Romeo nantinya, karena mereka akan tinggal 1 rumah.
"Terserah Mom saja." Cassie tampak tidak peduli. Otaknya kini hanya dipenuhi dengan Romeo, Romeo dan Romeo lagi.
"Oke, dengan satu syarat." Siska akhirnya memutuskan dengan cepat. "Kalau kamu berani mendekati menantu saya, kamu akan saya pecat." tegas Siska.
Cassie baru tertarik dengan ucapan Siska barusan. Dia kini memandang Sunny dari atas ke bawah. Wanita itu sangat sederhana, hanya menggunakan kaos dan celana jeans saja. Wajahnya juga polos tanpa make up. Yang membuat Sunny menarik adalah lesung pipit di kedua pipinya.
__ADS_1
"Mom, dia bukan selera Romeo." ucap Cassie blak-blakan. Cassie tentu saja membandingkan Sunny dengan Fani. Fani begitu cantik dan tinggi semampai bak model. Cassie saja sampai minder. Tapi, Sunny... Cassie hanya tertawa dalam hatinya.
"Kamu ga pernah liat drama Korea ya? Baby sitter dengan majikan biasanya..." Siska menghentikan kata-katanya karena di pelototi oleh Dimas.
"Mom, jangan kebanyakan nonton drama Korea. Jadi kebawa kan sampai kehidupan nyata." protes Cassie sambil berbisik.
"Ya sudah, besok mom akan ganti dengan nonton Film India." jawab Siska asal.
"Sama aja, Mom."
"Ehem." Dimas berdehem karena Siska dan Cassie tampak sibuk sendiri.
"Cass, gimana?" ulang Dimas.
"Ya sudah Dad. Cassie setuju." "Tapi, tolong berpakaian yang lebih modis sedikit." "Kamu bekerja di keluarga Sebastian, jadi jangan bikin malu." ingat Cassie.
Dia harus membawa Sunny kemanapun dia pergi. Jadi, Sunny harus menyesuaikan penampilannya dengan penampilan Cassie dan Sean. Setidaknya mereka tidak akan terbanting sekali jika jalan berjejeran.
"Jadi, saya bisa bekerja?" teriak Sunny senang.
"Ya, tapi ingat 2 syarat yang diberikan istri dan anakku tadi." jawab Dimas.
"Terimakasih, Tuan, Nyonya dan juga nona."
Sunny menyanggupi syarat yang diberikan oleh mereka. Bagi Sunny, itu bukan soal sulit. Dia bisa membeli baju baru yang cukup baik di pasar grosir. Sedangkan tentang suami Cassie, Sunny juga tidak ambil pusing. Dia sudah cukup trauma dalam berumah tangga, jadi dia tidak tertarik berhubungan dengan lelaki lagi.
__ADS_1