Married With Romeo

Married With Romeo
Tidak bisa menerima


__ADS_3

Apa yang Romeo takutkan terjadi juga. Cassie hamil. Semua rencana berubah karena pasti Dimas akan mewariskan semua harta nya pada cucu nya. Apalagi kalau anak mereka itu laki-laki, Romeo tidak dapat melakukan apapun.


Romeo mengambil ponsel nya, dan segera menghubungi kontak berinisial RS.


"Semua ini karena mu." omel Pria di ujung sana. "Sudah ku bilang, jangan menyentuh nya."


"Aku khilaf.." ucap Romeo lirih. "Kamu tidak akan kuat jika berada di posisi ku."


Pria itu tertawa. "Kamu saja tidak tahan, apalagi aku?" "Sekarang, apa rencana mu?"


Romeo terdiam. Dia kembali pada kejadian beberapa bulan lalu, saat Dimas menemuinya di America.


Flashback on


Dimas segera memeluk Romeo sambil menangis. Dimas bercerita jika dia adalah teman lama Tuan Smith alias ayah Romeo.


Sudah lama sekali Dimas mencari keberadaan Romeo, karena Dimas berjanji untuk membantu dan menjaga Romeo. Dimas sangat senang, karena Romeo tumbuh menjadi pria yang tampan dan pintar. Dia juga menjalankan beberapa perusahaan di America.


"Rom, apakah kamu punya kekasih?" tanya Dimas setelah mereka berdua duduk.


"Tidak ada. Saya sibuk bekerja, Om."


"Kalau begitu, apa kamu mau menikah dengan anak, Om?" "Dia berbeda 5 tahun di bawah mu. Dia juga cantik. Kalau kamu menikah dengan nya, Om akan lebih mudah menjaga kamu."


Dimas menunjukkan foto Cassie dengan pose yang paling cantik. Romeo memandang foto itu cukup lama.


"Namanya Cassie Sebastian. Dia memang sedikit manja, tapi dia anak yang baik. Dia juga belum pernah pacaran sebelumnya."


"Tapi,, ini akan sulit Om." Romeo mengembalikan ponsel milik Dimas. Dia tidak tertarik sama sekali dengan perjodohan. Apalagi Romeo tidak suka dengan orang yang manja seperti Cassie.


"Rom, kamu sudah tidak punya keluarga lagi, tolong terima niat baik om, supaya kita bisa membentuk ikatan keluarga." Mohon Dimas.

__ADS_1


"Sudah tidak punya keluarga?"


"Ya, bukan kah adik mu sudah meninggal karena kecelakaan?"


Romeo hanya diam saja. Dia dan adiknya memang tidak tinggal satu rumah. Selain itu, ayah nya juga tidak ingin layar belakang keluarga nya di ketahui banyak orang.


"Saya akan pikirkan, Om. Saya butuh waktu untuk memikirkan semua nya."


"Oke, Om tunggu kamu di Indonesia." Dimas menepuk pundak Romeo sambil tersenyum.


Setelah memikirkan selama seminggu, akhirnya Romeo memutuskan menerima permintaan Dimas. Romeo menerima bukan tanpa alasan, tapi dia punya tujuan. Perusahaan nya dalam masalah keuangan sekarang dan juga Romeo perlu menyelidiki kasus kecelakaan ayahnya. Romeo sudah mengantongi beberapa nama, tapi untuk bisa menyelesaikan urusan ayahnya, dia harus menggunakan kekuatan dari keluarga Sebastian.


Flashback off


"Aku tidak bisa memutuskan sebelum Cassie mengambil keputusan." ucap Romeo pasrah.


"Kamu bujuk lah istri mu itu."


"Tidak semudah itu." "Seharusnya memang kita tidak perlu pakai acara balas dendam." ucap Romeo dengan nada menyesal.


Romeo mematikan telepon. Dia memijit pangkal hidungnya. Rasanya kepala Romeo akan segera meledak sebentar lagi. Bagaimana lagi cara bernegosiasi dengan Cassie? Bagaimana untuk merayu Dimas supaya cepat mengalihkan perusahaan sepenuhnya pada Romeo?


"Arrgh" Romeo menyapu seluruh isi mejanya.


*


*


*


Sementara itu, di sebelah kamar Romeo, Cassie sudah kelelahan menangis. Dia merebahkan dirinya di ranjang sambil memeluk boneka beruang besarnya.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Aku tidak bisa lagi hidup dengan dia." Cassie bermonolog sendiri.


"Tapi, aku akan punya anak dari dia." Cassie mengelus perutnya yang sedikit menonjol daripada biasanya.


Cassie akan lebih mudah membuat keputusan jika seandainya dia tidak hamil.


"Mom...Dad.. rasanya Cassie ingin mati saja."


Cassie mengusap air matanya yang kembali mengalir. Ini terlalu berat untuknya. Apa yang harus dia putuskan sekarang? Kenapa dia yang harus mengalami masalah serumit ini?


"Astaga, non Cassie!" Bibi terkejut mendapati kamar Cassie yang berantakan. Dia juga melihat penampilan Cassie acak-acakan.


"Non, kenapa non?"


"Bi, aku hamil bi." Cassie langsung memeluk Bibi dan kembali menangis lagi.


"Lho, kenapa sedih non? Kan non sudah punya suami. Kalau hamil ya wajar." Bibi mengusap punggung Cassie dengan lembut.


"Cassie gak mau punya anak dari dia, Bi.. Dia jahat sama Cassie and Dad." curhat Cassie.


"Non, ga boleh gitu non.. Tuan Romeo memang dingin, tapi dia sayang sama Non Cassie." hibur Bibi.


Cassie menggeleng. "Tapi aku membenci nya, Bi. Sampai kapan pun."


Meskipun di ucapkan dengan lirih, tapi Bibi merasa kali ini Cassie benar-benar serius dengan ucapannya.


"Non istirahat saja dulu ya.. Bibi akan bereskan ini semua." "Non harus tenang, karena Non tidak akan bisa membuat keputusan yang benar jika sedang kacau seperti ini." saran Bibi sambil merapikan rambut Cassie.


Cassie mengangguk. Bibi membenarkan posisi bantal Cassie supaya wanita itu bisa tidur dengan nyaman.


Cassie mencoba memejamkan mata. Matanya begitu sakit karena menangis seharian ini. Kepalanya juga pusing dan kini perutnya pun mual.

__ADS_1


Setelah Cassie tertidur, pintu connecting room terbuka. Romeo mendekati Cassie. Dia melihat mata Cassie yang bengkak. Tapi, Romeo tidak ingin menyentuh Cassie dan membuat wanita itu terbangun.


"Cassie Sebastian, kenapa kamu harus hamil?" kata Romeo sambil tertunduk lesu. Ya, bukan hanya Cassie yang sulit menerima kehamilan ini, tapi dia juga sulit menerima kehadiran seorang anak di tengah semua masalah hidupnya.


__ADS_2