Married With Romeo

Married With Romeo
Indomie bikinan Romeo


__ADS_3

Dokter Mega sudah munggu di rumah selama setengah jam. Dia senang melihat Cassie yang sudah terlihat lebih segar daripada kunjungannya 2 bulan lalu. Dan untuk ukuran kehamilan 4 bulan, perut Cassie juga terlihat sedikit lebih besar. Itu menandakan janin nya tumbuh sehat.


"Oh, ini Tuan Romeo? Anda terlihat lebih tampan daripada yang ada di foto." puji Dokter Mega sambil menyalami Romeo.


"Cepat kita lakukan pemeriksaan nya dokter, aku sudah tidak sabar." Ucap Romeo tanpa mempedulikan Dokter Mega yang masih terus memandangnya.


Mereka bertiga berjalan ke ruang tamu. Romeo memapah Cassie layak nya suami siaga. Cassie sedikit memberontak, tapi Romeo memberikan tatapan tajam sehingga Cassie menurut.


Proses USG berjalan seperti yang lalu. Bedanya, kini Cassie sudah tidak terlalu sedih dengan kehamilannya. Dia bahkan menatap monitor dengan wajah sumringah.


"Bagus sekali, anda memang menjalankan semua yang saya katakan, nona. Bayi laki-laki anda sehat. "


"Jadi, Laki-laki? Syukurlah.." Cassie menarik nafas lega. Dia senang sekali dan tidak berhenti melihat monitor di mana bayinya sedang bergerak-gerak. "Dad pasti sangat senang."


Reaksi Cassie berbanding terbalik dengan Romeo. Dia yang sejak tadi cukup cerewet, kali ini terdiam cukup lama sambil memandangi monitor.


"Kenapa Tuan? Apa ada yang salah?" Dokter Mega menatap Romeo bingung. Romeo seharusnya menunjukan ekspresi senang, tapi malah sebaliknya. Dia justru terlihat seperti kesal.


"Aku lelah, aku pergi ke kamar dulu." Romeo beranjak dari tempat itu dan meninggalkan Cassie sendiri di sana bersama Dokter Mega.


"Nona, apa saya salah bicara?" Dokter Mega jadi tidak enak pada Cassie karena kepergian Romeo yang tiba-tiba.


"Tidak apa-apa, Dok. Dia memang aneh." "Oh iya, bisakah dokter ambil foto ku dengan layar nya? Aku ingin mengirimkan pada Dad." Cassie memberikan ponselnya pada Dokter Mega.


"Dengan senang hati, nona."


*

__ADS_1


*


*


Romeo membanting pintu kamarnya. Anak Cassie berjenis kelamin laki-laki. Dimas pasti akan begitu menyayangi nya karena itu adalah cucu pertama, sekaligus penerus keluarga Sebastian. Dia menekan tombol 1 pada ponselnya yang langsung terhubung pada RS.


"Aku baru saja menemani Cassie USG." lapornya. "Anak itu laki-laki."


"Sudahlah.. yang penting kamu bereskan saja pekerjaan mu." ucap pria di ujung sana.


"Tenang saja.. Itu bukan soal sulit."


"Ingat juga, jangan menyentuh dia. Kalau kamu menyentuh dia, kamu bisa jatuh cinta padanya."


"Kamu sungguh cerewet sekali. Sudahlah..aku lelah."


Romeo merebahkan badan di ranjang. Kepalanya kini hanya di isi oleh bagaimana dia bisa membuat Dimas untuk mengalihkan perusahaan padanya sebelum Cassie minta untuk bercerai. Apakah Romeo harus membuat Cassie jatuh cinta padanya, supaya nanti Cassie yang akan mengatakan sendiri pada Dimas untuk menyerahkan warisan pada Romeo saja? Tapi, itu tidak mungkin. Dari ekspresi Cassie, dia sama sekali tidak menunjukan bahwa dia senang dengan kepulangan Romeo.


Sementara itu, di kamarnya, Cassie memikirkan perubahan Romeo yang cukup drastis. Romeo tampak sangat ramah dan juga perhatian pada Siska dan Dimas. Tapi, ketika melihat anaknya, dia kembali bersikap dingin. Ada apa dengan Romeo? Apakah terjadi sesuatu di Jepang?


'Kruk.. kruk..' Casie memegangi perutnya yang bunyi cukup keras.


"Boy, masa laper lagi sih? Ini sudah jam berapa?" ucap Cassie pada Baby nya sendiri.


Baby ini benar-benar doyan makan. Cassie bisa makan sebanyak 5x sehari yang otomatis membuat badannya makin hari makin bulat saja.


Akhirnya Cassie memutuskan untuk turun ke bawah karena dia sudah tidak tahan lagi.

__ADS_1


"Biiii..." teriak Cassie. Cassie berjalan ke dapur dan dia malah mendapati Romeo sedang berjongkok di depan kulkas.


"Rom, kamu ngapain?"


"Aku lapar. Tapi tidak ada makanan."


"Biiiii..." teriak Cassie lagi.


"Bibi sudah pasti tidur. Kamu selalu membuatnya lelah kesana kemari. Biarkan dia tidur." Romeo menatap Cassie sekilas. Dia lalu mengeluarkan beberapa butir telur dari kulkas.


"Lalu, kita mau makan apa?" tanya Cassie bingung.


"Tunggu saja di meja. Biar aku yang masak."


"Kamu, masak?" Cassie menunjukkan ekspresi tidak percaya. Satu lagi keanehan Romeo yang perlu Cassie pikirkan.


"Makanya, kita itu tidak pernah bicara dari hati ke hati. Kamu selalu saja salah paham pada ku." ucap Romeo tanpa menengok ke arah Cassie.


Cassie yang tidak ingin bicara banyak, akhirnya pergi ke meja makan dan menunggu dengan tenang di sana. Sesekali Cassie menengok ke belakang, karena dia masih tidak percaya jika Romeo memasak.


Tidak lama, Romeo keluar membawa dua mangkuk di tangan kanan dan kirinya.


Romeo meletakkan satu mangkok makanan yang di buatnya di depan Cassie. Cassie menatap indomie rebus, komplit dengan telor, kornet dan sosis. Bau khas indomie langsung menyeruak hidung Cassie. Tanpa banyak bicara lagi, Cassie segera makan. Dia membulatkan matanya karena indomie yang Romeo masak ini enak, tidak seperti kalau Cassie bikin sendiri. (Emang kalau mie dibikinin orang rasanya lebih enak ga sih?😅😄 Ini perasaan author aja apa emang bener?)


"Kamu memangnya bisa masak apa saja, Rom?" tanya Cassie mulai penasaran.


"Beberapa saja, yang simple. Nasi goreng, kwetiaw,ayam goreng.." Romeo menyebutkan sambil menghitung dengan jarinya.

__ADS_1


"Aku tidak percaya pria dingin seperti mu ternyata bisa masak."


Romeo meletakkan garpunya, lalu menatap Cassie intens. Ini saat yang tepat untuk mengambil hati Cassie.


__ADS_2