Married With Romeo

Married With Romeo
Kejadian di Mall


__ADS_3

Cassie merasa tidak nyaman berada di dalam cafe bersama Cindy dan Robert. Dia yang biasa cerewet dan mendominasi percakapan, kini lebih banyak diam mendengarkan mereka berdua.


"Cass, aku ke toilet sebentar." Cindy pamit dengan tergesa-gesa. Sahabat Cassie itu memang memiliki problem 'Beser-an' alias selalu kebelet pipis terus-menerus.


Cassie mengaduk minumannya sambil melengos ke arah lain. Dia tidak suka dengan tatapan Robert yang begitu intens melihatnya.


"Cass, aku senang sekali bisa berkenalan dengan mu." Robert mulai memegang tangan Cassie yang berada di meja.


Cassie dengan cepat menarik tangannya.


"Rob, lebih baik aku menyusul Cindy dulu." Cassie berdiri dari bangkunya dan hendak pergi. Tapi lagi-lagi Robert memegang pergelangan tangannya.


"Di sini saja, Cass." "Apakah kamu takut dengan ku?"


"Rob, lepasin dong." Cassie mencoba melepaskan tangan Robert, tapi dia tidak bisa. Dia mulai panik karena takut Robert akan bertindak macam-macam.


"Singkirkan tangan kotor mu itu."


Cassie dan Robert menengok ke arah sumber suara. Jantung Cassie hampir copot mendapati Romeo berjalan ke arah mereka dengan pandangan membunuh.


"Cepat lepaskan." Kali ini Romeo berteriak dengan cukup keras sehingga membuat orang di sekeliling mereka menengok.


"Rob, lepas." Cassie memberontak dengan cukup kuat sehingga Robert mau tidak mau melepaskan Cassie secara tiba-tiba. Cassie yang limbung, akhirnya terjatuh ke belakang dan..


'duk' kepala Cassie sukses membentur pinggiran meja di belakangnya.


"Cassie." ucap Robert panik. Dia tidak berniat untuk membuat Cassie terjatuh. Dia hendak menolong Cassie, tapi Romeo memasang badan menghalangi Robert mendekati Cassie. Dia mencengkram kerah kaos Robert dan tanpa banyak berkata lagi, Romeo meninju pipi Robert dengan kuat.

__ADS_1


Keributan itu membuat panik seluruh pengunjung cafe. Cindy yang baru saja kembali langsung menghampiri Cassie yang masih terduduk di bawah sambil memegangi kepalanya.


"Cass, lo ga apa-apa?" Cindy membantu Cassie untuk berdiri.


Romeo kembali menghadapkan badan Robert ke arahnya.


"Aku hanya bicara ini satu kali. Aku tidak suka milik ku di sentuh orang lain. Jadi kalau kamu berbuat itu lagi, kamu akan tahu akibatnya." ancam Romeo dengan tatapan tajam.


"Milik mu?" tanya Robert bingung.


"Dia suami ku." ucap Cassie yang masih berdiri di belakang mereka.


Cindy melongo saking terkejutnya. Begitu juga dengan Robert. Dia bagaikan tikus yang tersiram air. Pantas saja Romeo bereaksi seperti ini. Robert tidak tau jika Cassie sudah menikah karena dia tidak melihat cincin pada jari Cassie.


Romeo menarik Cassie, lalu merangkul pinggangnya. "Ayo, pulang."


Apa sebenarnya yang Romeo inginkan? Cassie semakin bingung pada pria itu. Kenapa Romeo selalu berakting seolah dia peduli pada Cassie?


Romeo hanya diam saja sepanjang perjalanan. Begitu juga dengan Cassie. Dia tidak tertarik untuk bertanya bagaimana Romeo bisa tau jika dia berada di mall.


'Brak' Romeo membanting pintu mobilnya. Dia berputar untuk membuka pintu mobil Cassie. Cassie tampak diam saja di dalam mobil, sehingga membuat Romeo terpaksa menarik tangan Cassie dengan kasar untuk masuk ke dalam rumah.


"Bi, segera laporkan kalau wanita ini pergi keluar tanpa ijin." ucap Romeo setengah berteriak.


Bibi merasa kasihan pada Cassie yang sedang di tarik oleh Romeo. Wajahnya tampak pucat dan rambutnya acak-acakan.


'Kenapa Tuan Romeo seperti itu pada Nona Cassie?' batin Bibi bingung. Dia tidak dapat mengikuti majikannya itu karena Romeo membawa Cassie ke kamarnya.

__ADS_1


Romeo menghempaskan badan Cassie di ranjang. Baru saja dia bekerja sebentar, Cassie sudah pergi dan bertemu dengan pria lain.


"Jangan keluar lagi tanpa ijin." bentak Romeo.


"Apa peduli mu?"


"Cassie, kamu itu istri ku. Aku berhak untuk melarang mu pergi."


"Tapi kamu tidak peduli pada ku. Kita menikah hanya karena Dad. Jadi, terserah aku mau ke mana." ucap Cassie tak kalah keras.


"Cassie, kamu jangan memancing emosi ku!"


Cassie tidak menjawab karena dia sudah menangis. Dia menangis bukan karena Romeo membentaknya, tapi karena dia kesal dengan keadaannya sekarang. Kehidupan Cassie sekarang sangat buruk.


"Aku akan kembali ke kantor."


Cassie melengos tanda dia tidak peduli.


Romeo tidak memperpanjang urusannya dengan Cassie. Yang terpenting sekarang Cassie sudah di rumah dan Romeo harus kembali ke kantor karena masih banyak yang harus dia kerjakan.


"Bi, berikan salep untuk Cassie. Tadi kepalanya terbentur meja." pesan Romeo sebelum pergi.


Bibi memandang Romeo dengan curiga. Romeo adalah tersangka utama pelaku KDRT karena sepertinya dia tampak emosional pada Cassie sejak tadi pagi.


"Bukan aku yang melukai dia." Romeo sepertinya paham maksud dari arti pandangan pelayan Kesayangan Cassie itu. "Bawakan Cassie makan juga."


Romeo menghilang di balik pintu. Bibi bisa bernafas lega sekarang. Memang aura Romeo terlihat begitu dingin dan menyeramkan.

__ADS_1


__ADS_2