
Jo memarkirkan mobil di halaman depan rumah Cassie. Mobil Romeo sudah tidak ada di rumah, jadi Jo bisa sedikit lebih tenang untuk bicara pada Cassie. Pagi ini dia datang ke rumah Romeo, untuk menghibur Cassie karena wanita itu menangis semalaman karena perlakuan suaminya.
'Ting tong'
"Bi, biar aku saja." Cassie menuruni tangga dengan terburu-buru.
Cassie begitu senang karena Jo berkunjung ke rumahnya, karena saat ini hanya Jo yang bisa di ajak curhat. Lagipula, Cassie tidak diijinkan oleh Romeo untuk pergi, jadi Jo yang berkunjung ke sini. Dan tadi Cassie sudah melihat dari balkon kamarnya, mobil Jo masuk ke halaman.
"Surprise.... " Jo membawa kotak sebesar dus air mineral, lalu memberikan nya pada Cassie yang baru saja membuka pintu untuknya.
"Apa ini, Jo?" Cassie menerima kotak dari Jo yang terlihat bergerak-gerak.
"Anggap saja ini hadiah pernikahan." Jo masuk ke dalam, lebih tepatnya ke ruang keluarga.
"Halo Bi, Bibi di sini?" sapa Jo ramah pada Pelayanan Cassie. Dia sudah tidak asing pada Bibi karena Jo sering menemani Juna ke rumah Dimas Sebastian di sebelah.
"Iya, Pak Jo. Bapak ada apa ke sini?"
"Memberi hadiah untuk Cassie, Bi."
"Ya sudah, Bibi buatkan minum yang spesial ya, Pak." Bibi berlalu dari hadapan mereka.
Cassie tampak takut membuka kotak dari Jo. Jo adalah orang yang cukup jahil, jadi dia takut Jo akan memberikan hadiah yang aneh-aneh.
"Takut amat sih. Memangnya aku Romeo." sindir Jo. Dia membuka kotak itu, dan.. Cassie berteriak ketika melihat anjing mini pom bewarna putih muncul dari balik kardus.
"Joooo.. ini cutee bangeeet." Cassie langsung menggendong anjing kecil itu dengan wajah sumringah.
"Kamu bisa bermain dengan Nun kalau kamu kesepian." Jo tersenyum senang karena hadiah nya di terima dengan baik oleh Cassie.
"Namanya, Nun?"
"Ya, di sertifikatnya tertulis seperti itu."
"Thanks Jo.. aku tidak akan kesepian lagi."
__ADS_1
Jo tersenyum. Dia menengok ke sudut-sudut ruangan. Romeo memasang banyak sekali CCTV. Tapi ini bagus, karena artinya Jo bisa menjalankan rencananya untuk mengetes apakah Romeo mengawasi Cassie.
"Cass, sebentar. Ada bulu mata di situ." Jo menunjuk ke arah pipi Cassie. Dia mendekatkan wajahnya, lalu mengambil Bulu mata yang menempel di pipi kanan Cassie.
"Mata mu seperti elang saja, Jo." Cassie kembali mengelus Nun dengan gemas.
"Ini karena aku kerja dengan Juna. Mata ku sebentar lagi bisa menembus dinding." ucap Jo asal.
Cassie tertawa mendengar Jo. Sebenarnya tidak ada yang lucu, hanya cara bicara Jo yang menggelikan.
"Non, ada telepon dari Tuan Romeo." Bibi terburu-buru datang membawa telepon wireless dari dalam.
"Bilang saja, ada tamu." tolak Cassie.
Bibi dengan wajah panik hanya mampu menyodorkan telepon, tanpa mempedulikan Cassie.
"Cassie Sebastian. Siapa yang mengijinkan dia masuk?" tanya Romeo setelah Cassie menjawab teleponnya.
"Maksud mu?"
"Gimana kamu bisa tau?" "Tapi, aku hanya bertemu dengan Jo saja." ucap Cassie terbata. Romeo bagaikan hantu yang mengerti gerak gerik Cassie.
"Masuk ke kamar, atau kamu mau aku hukum?"
"Keluar tidak boleh, menerima tamu tidak boleh. Sekalian saja kurung aku di penjara." Cassie menekan tombol Off, lalu melemparkan teleponnya ke sofa.
"Lihat Jo. Dia mengatur segalanya. Aku tidak tahan lagi." keluh Cassie. Air mata Cassie sudah nyaris jatuh karena tidak dapat menahan emosinya.
Dugaan Jo benar. Romeo mengawasi Cassie dari kantor. Jo harus berhati-hati sekarang.
"Cas,, ikut aku sebentar." Jo menarik Cassie ke dekat taman. Supaya Romeo tidak curiga, dia membawa Nun beserta kandangnya. Spot di taman samping tidak tersorot CCTV, jadi Jo bisa bicara pada Cassie dengan aman.
"Cas, Romeo selalu memantau CCTV, karena itu dia tahu apa yang kamu lakukan."
"Untuk apa dia memantau? Memang apa untung nya?"
__ADS_1
"Mungkin sebenarnya dia suka pada mu. Atau dia takut kamu minum racun."
"Jo, memangnya aku gila." Cassie memukul punggung Jo dengan cukup keras.
"Sakit, Cas.. kan aku cuma bercanda saja." protes Jo.
"Terus gimana nasib ku sekarang?"
Jo memutar bola matanya. Sebenarnya dia sudah memikirkan sebuah rencana. Tapi, untuk itu Cassie harus berusaha cukup keras.
"Kalau Romeo merencanakan sesuatu, kamu juga perlu perencanaan. Jangan mau kalah. Kamu harus cari bukti supaya Dad percaya."
"Mana bisa? Kamu bilang sendiri aku itu di pantau." Cassie menekankan kata di pantau pada ucapannya. "Dan, asal kamu tau, kamarnya pakai sidik jari. Aku tidak bisa masuk ke sana."
"Ya, jadi kamu perlu mengambil hati Romeo. Kalau perlu, bikin dia jatuh cinta pada mu." saran Jo.
"Bagaimana caranya?"
"Cassie yang pintar...Masa harus aku jelaskan sih?" Jo men toyor kepala Cassie. Pandangannya pada Cassie berubah setelah dia mengenal Cassie lebih dekat. Cassie memang salah satu lulusan terbaik di kampusnya, tapi urusan cinta-cintaan, Cassie begitu polos.
"Jo, kamu makin kurang ajar."
"Kamu kan sudah suami istri. Goda saja suami mu. Itu satu-satu nya cara masuk ke kamar Romeo."
Cassie terdiam sebentar. Pikirannya kembali pada saat dia melakukan hubungan suami istri pada malam pertama mereka dan juga saat berada di kamar tamu. Mencoba menggoda Romeo? Jadi Cassie harus melakukannya lagi?
"Katanya ga tau, kenapa wajah mu memerah? Kamu pasti berpikiran mesum." tebak Jo saat melihat pipi Cassie bersemu merah.
Cassie memegangi kedua pipinya dengan tangan. "Ya sudah, nanti aku pikirkan. Kamu pergi saja, sebelum kena bogem mentah dari Romeo."
"Iya, aku akan pergi. Jalankan yang benar, nanti beritahu aku ya kalau kamu tahu sesuatu."
"Oke, nanti aku beritahu kamu hasilnya." "Thanks ya Jo..atas semua nya.. dan karena kamu sudah membawa Nun."
"Bukan kah teman harus saling mendukung?" Jo tersenyum pada Cassie dengan penuh arti.
__ADS_1