
"Ehem."
Jo terbangun tepat saat Cassie dan Romeo akan berciuman. Cassie menghela nafas kasar karena kemesraan mereka harus terganggu oleh Jo.
"Tolong berbelas kasihan lah sedikit pada orang jomblo." ucap Jo seraya mendekati Romeo dan Cassie.
"Salah sendiri kamu ga cari pasangan, Jo." ejek Cassie. Dia membenarkan posisi tidurnya sehingga bisa memandang wajah baper Jo.
"Kan aku sudah bilang, aku menunggu jandamu, Cass."
Cassie melolot. Dia memberi kode pada Jo supaya dia diam. Romeo bisa marah mendengarkan ucapan Jo tadi.
"Thanks, Jo. Kamu sudah menghibur istriku." sela Romeo sambil tersenyum. "Tapi, sepertinya kamu tidak perlu lakukan itu lagi. Sekarang aku akan selalu menemani Cassie." lanjutnya dengan tegas.
"Ya, kalau begitu aku akan cari mangsa yang lain." Jo menekankan kata-katanya sambil memandang Cassie. Dia ingat betul bagaimana awalnya Cassie mencari mangsa supaya bisa terbebas dari pernikahan dengan Romeo. Dia bahkan menggoda Jo dengan pakaian renang yang seksi.
Cassie tertawa cekikikan jika mengingat kejadian dulu dimana dia berusaha keras untuk tidak menikah dengan Romeo sampai memohon pada Jo.
"Kamu juga jangan mengganggu Jonathan. Bagaimana dia bisa dekat dengan wanita lain kalau kamu merecokinya terus?" omel Romeo.
"Itu karena kamu selalu membuat aku stress, Rom. Aku tidak punya teman lain selain Jo." curhat Cassie. "Dan juga, tidak ada wanita yang mau mendekati Jo selain aku."
"Kenapa?" tanya Romeo bingung. Jo bukan pria yang jelek. Meskipun dia hanya sekretaris yang merangkap jadi bodyguard Juna, tapi Jo memiliki wajah khas Asia yang menarik. Dia juga tampak easy going tidak seperti Romeo yang kaku.
"Kalau mereka mendekati Jo, mereka akan beralih pada Juna, karena Juna lebih tampan." kali ini Cassie tertawa lebar.
Romeo mengangguk setuju. Juna dan Jo memang kerap bersama. Sudah pasti para wanita akan memilih Juna daripada Jo.
"Ternyata istriku pintar juga." puji Romeo sambil membelai rambut Cassie.
"Sialan, lo Cass."
"Jangan membentak istriku, Jo." Romeo memberikan peringatan pada Jo.
__ADS_1
"Hadeh,,, mulai bucin deh.." "Sudah lah, aku kembali ke Indonesia saja." Jo memutuskan untuk mundur teratur dari pasangan suami istri yang sedang mesra-mesranya itu. Mereka bahkan tidur satu ranjang tanpa segan pada orang yang melihatnya.
*
*
*
Jo sudah pergi. Cassie menghadapkan kembali wajahnya pada Romeo. Meskipun masih pucat, tapi pesona Romeo tidak pernah pudar.
"Apakah kamu menyesal menikah denganku, Cassie Sebastian?" ucap Romeo lirih.
"Aku menyesal."
Romeo terperangah.
"Aku menyesal karena aku selalu meragukan suamiku." Aku Cassie. Dia mencurigai Romeo sejak awal pernikahan mereka, dan baru sadar ketika mereka hampir 2 taun menikah.
"Jadi, kamu siap menerima hukuman?" Romeo menyeringai pada Cassie.
Romeo memegang kedua bahu Cassie Dan berputar sehingga tubuhnya berada di atas tubuh Cassie.
Cassie tersenyum senang karena hukuman Romeo pasti tidak jauh-jauh dari hal yang membangkitkan semangat Cassie. Ini bukan seperti hukuman tapi lebih ke hiburan.
"Kalian tidak tau tempat sama sekali."
Lagi-lagi Romeo berhenti mencium Cassie karena suara Romano. Mereka berdua kompak menengok pada Romano yang sedang mengucek matanya.
"Rom, tidur lagi saja." ucap Cassie kesal.
"Hahahaha..Aku tidak akan membiarkan kalian bersenang-senang." ucap Romano seraya mendekati mereka.
Cassie baru pernah melihat Romeo dan Romano yang berdekatan. Pantas saja Cassie tidak sadar jika mereka bertukar posisi. Wajah mereka begitu mirip.
__ADS_1
"Suami mu yang ini." Romeo mengalihkan pandangan Cassie dari Romano dengan memutar wajah Cassie untuk menghadapnya.
"Iya, sayang.. aku tau.. Aku cuma ingin membandingkan dia denganmu." Cassie menyingkirkan tangan Romeo dari wajahnya dan kembali memandang Romano.
"Daebak.." "Romeo, aku jadi ragu apakah Sean itu anakmu atau Romano?" ucap Cassie sambil berdecak heran.
"Tentu saja, anak Romeo." "Aku tidak tertarik dengan kakak ipar.. karena.." Romano menghentikan ucapannya saat melihat badan Cassie yang kurang berisi.
"Romano.. awas kalau kamu berani bilang aku tidak seksi." teriak Cassie.
"Kenyataannya memang seperti itu kan?" Romano tertawa geli karena Cassie ternyata sadar diri juga.
"Itu karena kalian membuat aku stress."
Romeo kembali pada posisi tidur. Interaksi keduanya membuat kepala Romeo kembali berdenyut. Sudah pasti mereka akan berdebat lama. Romano sejenis dengan Cassie yang pandai sekali mengoceh.
"Romeo saja, aku tidak membuatmu stress." Romano mengelak.
"Cih.. apa kamu lupa kalau kamu selingkuh dengan Fani sampai membuatku salah paham dengan Romeo?"
"Sayang, kenapa kamu diam saja?" "Kamu tidak bela aku?" Rengek Cassie sambil mengguncangkan tubuh Romeo.
"Hey, sudah kubilang, pelan-pelan. Kamu menyakiti kakakku." Romano memegang tangan Cassie.
"Kalian berdua lanjutkan di luar saja. Aku ingin istirahat." usir Romeo.
Cassie berhenti berdebat dengan Romano karena dia baru sadar jika suara cemprengnya pasti membuat Romeo terganggu. "Sayang, aku mau tidur di sini denganmu." Dia memeluk tubuh Romeo seperti anak kecil yang tidak mau dipisah dengan ayahnya.
"Ya.. ya.. aku yang pergi." akhirnya Romano mengalah karena posisinya yang lemah.
"Oh iya, aku akan membereskan dulu persoalan dengan keluarga Wilson. Aku pastikan David akan masuk penjara untuk membayar kesalahannya." "Kalian kembali lah ke Indonesia." lanjut Romano.
"Aku masih punya tabungan pribadi. Kamu gunakan saja untuk membuat bisnis yang baru." ucap Romeo.
__ADS_1
Romano mengangguk. Dia sudah tidak berniat lagi untuk balas dendam pada keluarga Wilson. Dia hanya ingin orang yang menabrak ayahnya bisa mendapat hukuman yang setimpal. Setelah itu Romano akan berfokus untuk kembali membangun bisnisnya yang baru.