
"CASSIE SEBASTIAN!" suara Romeo menggema ke seluruh ruangan. Romeo berjalan ke belakang, tepatnya ke arah kolam renang, di mana Cassie sedang memamerkan Bodynya.
Cassie melepaskan kacamata hitamnya. Dia sudah siap menyambut kedatangan Romeo. Benar kata Jo. Romeo selalu memantau nya dari CCTV. Terbukti saat ini, Romeo kembali ke rumah di jam kerja. Romeo pasti melihat dari CCTV bagaimana penampilan Cassie yang mengenakan bikini.
"Honey, kenapa teriak-teriak?" Cassie berdiri di depan Romeo.
"Apa yang kamu lakukan??" tanya Romeo dengan nada yang cukup tinggi.
"Aku ingin berenang, Hon.. Aku bosan berada di rumah." ucap Cassie santai.
"Maksud ku, apa yang sedang kamu rencanakan?" Romeo mengganti pertanyaan yang lebih mudah di pahami oleh Cassie.
"Rencana?"
"Jangan pura-pura bodoh, Cassie."
Cassie menghela nafas panjang. "Ya, aku berencana untuk menjadi istri yang baik. Apakah aku salah?"
Romeo memicingkan matanya. Dia tidak percaya dengan ucapan Cassie. Romeo tau, tindakan Cassie sejak tadi hanya ingin menggodanya saja.
"Rom, Dad bilang kalau aku harus belajar untuk mencintai mu. Terlepas dari apa rencana mu, tapi aku serius ingin belajar mencintai kamu." ucap Cassie sambil menunduk.
"Kamu tidak perlu melakukan ini." Romeo sekali lagi memandang Cassie dengan frustasi. Tidak bisa di pungkiri jika tubuh Cassie memang sangat menarik. Apalagi Romeo sudah pernah menyentuh seluruh tubuh Cassie yang sempurna itu.
"Aku harus bagaimana, Rom?" Cassie mendekat ke arah Romeo dan menatapnya dengan pandangan memelas.
"Berhenti menggoda ku, karena aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuh mu itu." suara Romeo sedikit menurun, bahkan dia mengucapkannya dengan lirih.
__ADS_1
"Baik lah, aku akan menuruti perkataan mu." Cassie berbalik.
Tapi baru 3 langkah berjalan, Cassie merasakan tubuhnya melayang. Romeo kini tengah menggendongnya! Cassie segera melingkarkan tangan pada leher Romeo supaya tidak jatuh. Dia bahkan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Romeo.
Romeo tidak mengatakan apapun lagi. Dia hanya membawa Cassie secepat mungkin ke atas. Sesampai nya di kamar, Romeo langsung merebahkan Cassie di ranjang. Jantung Cassie berdebar kencang karena saat ini Romeo sudah menindih badannya.
"Cassie, kamu tau. Aku tidak suka bermain-main." Romeo membelai rambut Cassie. Dia juga menyentuh wajah Cassie dengan lembut. Seorang Romeo bisa bersikap lembut, ini sungguh suatu keajaiban.
"Siapa yang bermain-main? Aku serius." Cassie berkata dengan yakin. Padahal, batinnya meronta-ronta ingin segera pergi dari situasi ini. Apalagi Romeo memandangnya seperti binatang buas yang siap melahap nya.
"Katakan, apa rencana mu?" ulang Romeo.
"Aku tidak memiliki rencana. Aku sudah bilang, jika aku ingin mencoba untuk mencintai mu, Rom." "Dan, apa kamu tidak merindukan aku?" Cassie memberanikan diri untuk menyentuh wajah Romeo.
Dan karena tindakannya itu, Romeo jadi lupa diri. Dia tidak akan melepaskan Cassie begitu saja. Ibarat mobil yang berjalan cepat, Romeo tidak bisa mengerem meskipun dia tau di depan ada jurang. Cassie pun terbawa suasana dengan membalas setiap perlakuan Romeo.
*
*
*
Apakah ini bentuk balas dendam Romeo? Di saat Cassie menginginkan Romeo, dia malah pergi begitu saja. Rasanya Cassie seperti bara api yang di siram air es.
"Bagaimana lagi aku harus menghadapi dia?" ucap Cassie putus asa. Dia malu sendiri dengan perbuatannya menggoda Romeo. Harga dirinya hancur berkeping-keping menyisakan sebuah aib yang harus dia ingat seumur hidup. Seperti halnya yang pertama, Cassie tidak dapat mendapatkan informasi apapun dari Romeo, malah dia mengorbankan dirinya sendiri. Cassie menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya, dan dia mulai menangis lagi.
*
__ADS_1
*
*
Romeo mengambil air di kulkas, dan langsung meminumnya sampai habis. Dia butuh sesuatu untuk mendinginkan otak dan badannya yang masih panas karena perbuatan Cassie.
"Tuan, anda kenapa?" Bibi muncul di belakang Romeo. Dia heran melihat Romeo turun dengan kemeja acak-acakan dan tubuh berkeringat. "Apa Tuan memarahi Non Cassie lagi?" Bibi memberanikan diri untuk bertanya.
"Bibi tidak perlu ikut campur." Romeo kini mengambil beberapa lembar tisu, lalu dia mengelap wajah dan tenguk nya yang basah.
Saat itu, bibi melihat bekas merah di leher Romeo. "Ooo.. ternyata habis olahraga.. pantas saja keringatan."
"Bi, jangan biarkan Jo masuk ke rumah ini lagi." Romeo memilih mengabaikan Bibi dan mengganti topik pembicaraan mereka. Romeo tentu harus mencegah Cassie supaya tidak berkomunikasi dengan Jo. Pria itu pasti mengajari Cassie untuk melakukan hal ini.
"Lho, kenapa? Bukannya dia teman Non Cassie?"
"Jangan membantah Bi."
"Okay tuan..." Bibi menunduk karena saat ini tatapan Romeo terlalu tajam hingga membuat Bibi takut.
"Satu lagi, buang semua baju Cassie yang kurang bahan."
Apalagi ini? Bibi bertanya dalam hati. Permintaan Romeo aneh-aneh saja. Apa sebenarnya yang terjadi pada mereka? Sebentar mereka begitu mesra, sebentar mereka seperti musuh bebuyutan.
"Apa Tuan sedang cemburu?" ucap Bibi lirih.
"Apa Bi?"
__ADS_1
"Enggak, Enggak Tuan. Baik, Bibi akan laksanakan perintah Tuan Romeo." Bibi mengambil langkah seribu sebelum Romeo kembali menyuruhnya macam-macam lagi.
'Romeo, kami harus fokus dengan tujuanmu menikah dengan Dia. Untung saja tadi aku bisa sadar pada waktu yang tepat.'