
Setelah Dimas dan Siska pergi, Cassie kembali ke kamar. Dia harus membuat surat perjanjian untuk Romeo. Cassie menekan password kamarnya. Jika Romeo menggunakan sidik jari, maka Cassie juga menambah keamanan di kamarnya dengan memasang sistem RFID alias menggunakan card. Sekarang, Romeo tidak bisa lagi masuk ke kamar Cassie.
Ruangan Cassie gelap. Dia melepaskan kaosnya yang basah, dan melemparkan sembarangan ke arah ranjang. Cassie tidak tahu kenapa sekarang Cassie mudah sekali berkeringat.
Cassie menekan saklar lampu. Dia hendak berjalan ke walk in closet, tapi dia mundur lagi ketika melihat ada orang yang sedang duduk di pinggir ranjang sambil memegang kaos nya yang basah dengan tangannya. Rupanya, tadi Kaos Cassie mengenai wajah Romeo.
"Romeo! Sedang apa kamu di sini." teriak Cassie.
Dia segera menutup tubuhnya dengan menggunakan kedua tangannya, meskipun itu tampak tidak berguna karena tubuhnya tetap terlihat.
Romeo melengos.
Ini kesempatan Cassie untuk segera mencari piyamanya. Dalam hitungan detik, Cassie sudah berganti pakaian.
Dia masih terkejut dengan kehadiran Romeo di kamarnya. Apa Romeo punya ilmu menghilang atau menembus tembok? Atau dia bisa membuat kartu cadangan kamarnya? Dia seperti hantu. Bisa tiba-tiba hilang dan muncul.
"Cassie, ada yang ingin aku bicarakan." Romeo membuka mulutnya lebih dulu.
"Ya, aku juga ingin bicara pada mu."
"Besok aku akan pergi ke Jepang."
"Ya, aku sudah dengar dari Dad. Bagus lah, jadi aku tidak perlu melihat wajah mu lagi." ucap Cassie sinis.
Cassie mengambil kertas dan pulpen di laci. Dia duduk di meja rias, lalu mulai menuliskan sesuatu di sana.
"Done." Cassie bangun dengan membawa kertas di tangannya. Dia berbalik, lalu menyodorkan itu pada Romeo.
Romeo menerima kertas itu dan membacanya pelan-pelan dalam hati.
Surat perjanjian
Saya, Cassie Sebastian dan suami saya, Romeo Smith membuat surat ini dalam keadaan sadar.
__ADS_1
Adapun yang saya inginkan:
1.Romeo tidak berhak melarang apapun yang Cassie lalukan.
2.Romeo tidak boleh ikut campur urusan Cassie, begitu juga sebaliknya.
3.Cassie dan Romeo akan bercerai 2 tahun setelah anak mereka lahir.
Setelah membaca, Romeo menatap Cassie cukup lama. Cassie yang tadinya percaya diri langsung menciut ketika Romeo menatapnya tanpa berkedip.
"Kamu ingin bercerai?"
"Ya,, bagus bukan?" Cassie merebut kembali kertas yang di pegang Romeo. "Kamu bisa menikah 2 tahun lagi bersama kekasih mu itu." ucap Cassie sambil menekankan kata kekasih.
"Lalu, bagaimana dengan anak kita?" tanya Romeo dengan wajah datar.
"Itu anak ku." protes Cassie. "Aku akan tetap melahirkan dia dan akan menjaga dia dengan segenap kekuatan ku." Cassie menempelkan materai. Dia lalu, menandatangi surat dadakan yang dia buat itu tanpa ragu.
"Silahkan tanda tangan, Romeo Smith."
"Aku akan menuruti kemauan mu, Nona."
Cassie tersenyum. Dia mengulurkan tangan sebagai tanda kesepakatan. Tapi, Romeo malah menarik pinggang Cassie, lalu memeluk wanita itu.
"Rom.. apa-apa an sih." teriak Cassie. Dia mencoba memberontak, tapi tenaga Romeo lebih kuat.
"Sebentar saja. Anak mu juga harus merasakan kasih sayang Daddy nya, bukan?"
Akhirnya Cassie membiarkan Romeo. Entah kenapa jantungnya berdebar dengan cepat. Mungkin memang anak mereka senang jika di peluk seperti ini oleh Daddy nya.
Ya, Cassie memutuskan untuk tidak langsung bercerai dengan Romeo karena anak yang di dalam perutnya itu. Dia pasti butuh kasih sayang orang tuanya. Setidaknya Baby Cassie perlu mengenal Romeo sebagai Daddy nya. Lagipula, sesuai pembicaraan dengan Dimas tadi, Semua warisan akan di berikan pada Romeo ketika pernikahan mereka di tahun kelima. Jadi, setidaknya Romeo tidak bisa melakukan apapun.
Setelah cukup lama berpelukan mesra, Romeo melepaskan Cassie. Dia lalu berjalan ke arah dinding dan menekan tombol di belakang lemari. Seketika pintu connecting door terbuka.
__ADS_1
Cassie melotot melihat ada pintu di situ. Berarti selama ini....
"Romeo Smith! Kamu benar-benar manusia licik." ucap Cassie masih dengan pandangan tidak percaya. Jadi ini jawaban bagaimana Romeo bisa masuk ke kamarnya.
"Cassie, jika Baby mu itu ingin bertemu Daddy nya, kamu bisa masuk lewat sini." pesan Romeo.
"Kamu..." Cassie mulai kesal dengan Romeo. "Baby ini tidak ingin bertemu dengan Daddy nya. Cepat pergi." Cassie melemparkan bantal ke arah Romeo. Tapi bantal itu hanya mengenai pintu karena Romeo sudah menghilang.
'Romeo, mahkluk macam apa kamu ini?'
*
*
*
Malam itu, Cassie tidak bisa tidur. Dia harus menelan ludahnya sendiri karena ternyata pikirannya hanya tertuju pada sosok Romeo. Dia yakin pasti ini bawaan dari bayinya. Kenapa bayi nya ini ingin terus berdekatan dengan Romeo?
'Ayo Baby, kita tidur saja. Daddy mu itu sudah sangat mengecewakan Mommy.'
Cassie mencoba memejamkan matanya, tapi sedetik kemudian dia bangun untuk melihat connecting door di kamarnya.
'Besok dia akan pergi lama. Hari ini, Mom akan ijinkan kamu untuk melihatnya.'
Cassie berdoa terlebih dahulu, berharap Romeo sudah tertidur. Dia lalu menekan tombol tersembunyi di balik lemari dan pintu terbuka.
Sesuai dengan doanya, Romeo sudah tertidur. Dia berjalan perlahan supaya tidak menimbulkan suara dan akhirnya malah membuat Romeo terbangun.
"Jangan lama-lama, Baby." ucap Cassie pada Baby Nya.
Dia memandang wajah Romeo yang begitu tenang ketika tidur. Wajahnya yang tampan membuat Cassie selalu terpesona. Tapi, ketika ingat rencana jahat Romeo serta kejadian di cafe, rasanya dada Cassie sesak dan dia sangat marah sekaligus kecewa pada Romeo.
Selama 2 jam Cassie hanya memandang Romeo. Dia sudah mulai mengantuk sekarang. Dia berjalan ke Connecting door untuk kembali ke kamarnya. Tapi, dia tidak menemukan tombol di sana. Bagaimana cara Romeo membuka pintu nya? Cassie mulai panik. Dia mencari ke belakang lemari, ke bawah meja, dan segala tempat yang ada di sekitar pintu.
__ADS_1
"Aduh, Cassie.. kamu begitu bodoh. Kenapa harus ke sini? Sekarang bagaimana?" Cassie terduduk lemas di kursi kerja Romeo. Dia seperti tikus yang terjebak dalam kurungan. Cassie tidak mungkin membangunkan Romeo. Mau di taruh mana wajahnya jika Romeo tahu kalau Cassie diam-diam masuk ke kamarnya?
Cassie kembali menguap. Matanya benar-benar sudah tinggal 5 watt saja. Akhirnya Cassie pasrah. Dia tidur di sofa panjang tepat di samping ranjang Romeo.