Married With Romeo

Married With Romeo
Romano-Sunny


__ADS_3

Sunny dan Romano masih saling bertatapan. Dia tidak bisa menghindar karena tangan Romano sudah mengunci pinggangnya.


"Kenapa kamu memilih pria itu?" Romano mengira wanita yang di hadapannya adalah Ana Wilson.


"Tuan, jangan seperti ini. Nanti saya di pecat." "Saya ini Sunny, bukan Ana." "Saya baby sitter Se.."


'Cup' Romano tanpa sadar mencium Sunny sambil menatap matanya.


Sunny langsung memberontak. Dia langsung menjauh beberapa langkah begitu tangan Romano terlepas.


"Apa yang anda lakukan, Tuan?" teriak Sunny. Dia berlari ke kamar mandi untuk membasuh mulutnya yang terkena bibir Romeo.


"Dasar, buaya darat. Bisa-bisanya dia mencium pembantunya sendiri." "Bagaimana kalau sampai Nona Cassie tau?" Sunny hampir menangis karena dia memang membutuhkan pekerjaannya ini. "Tenang, Sunny. Dia tidak sadar.. jadi ini hanya kebetulan saja." Sunny menarik nafas panjang sambil memandang dirinya di cermin. Pipi Sunny terlihat masih bersemu merah. "Sadar, Sunny.."


Setelah 15 menit meredakan emosinya, Sunny kembali ke depan. Romano sudah bersandar pada ranjang.


"Siapa kamu?" tanya Romano yang kini sudah sadar. Dia sadar jika dia baru saja mencium wanita asing, bukannya Ana. Ya, tidak mungkin Ana ada di sini sekarang, karena dia sudah meninggal.


"Tuan, saya Sunny. Babysitter Sean,Tuan." jawab Sunny tanpa berani memandang Romano. Tatapan Romano yang begitu tajam membuat Sunny takut.


"Kenapa kamu di sini dan bukannya menjaga anak saya?" komplain Romano.


"Nyonya Cassie yang menyuruh saya untuk mengurus Tuan."


"Cassie? Kenapa dia harus menyuruh orang lain?" tanya Romano bingung.


"Tuan sejak tadi memanggil Ana. Jelas saja nyonya marah." jawab Sunny yang mulai kesal karena Romano sebagai laki-laki begitu tidak peka.


"Jadi, dia marah karena itu?" Romano bangun dari ranjangnya. Dia bahkan mencabut infus yang masih menancap di tangan kirinya.

__ADS_1


"Lho, mau kemana Tuan? Nyonya Cassie sudah pulang ke rumah." Sunny bergerak untuk mendampingi Romano. Tapi, karena terburu-buru dia malah tersandung kakinya sendiri dan berakhir dalam pelukan Romano. Dada Romano yang lebar terasa begitu nyaman dan hangat.


Romano pun tampak diam saja. Dia ingin melihat apa yang dilakukan Sunny. Ternyata Sunny justru tidak menjauhkan badannya dari Romano.


"Maaf, Tuan. Saya khilaf." Sunny menyadari kebodohannya. Dia mundur satu langkah sambil menunduk.


"Jangan bicara soal ini pada Cassie. Ini cukup jadi rahasia kita berdua saja." tegas Romano.


"Ya, baik Tuan." "Apakah Tuan ingin menemui Nyonya?"


"Saya mau ke toilet."


"Oo.. kalau begitu silahkan." kata Sunny yang sudah mulai tenang.


"Bagaimana saya mau ke sana kalau kamu masih menghalangi saya seperti ini?"


Sunny tersadar. Dia menggeser badannya yang memang menghalangi jalan Romano.


Romano menggelengkan kepala. Bisa-bisanya Cassie menerima pegawai seperti Sunny yang bodoh dan polos seperti itu?


Romano membereskan pakaiannya. Dia sudah sangat muak dengan Rumah Sakit. Sejak Romeo sakit, dia menunggui Romeo 24 jam. Jika Romano tidak kabur, dia masih akan terus berada di sana. Ya, Romano memutuskan sendiri untuk pergi menggantikan Romeo karena dia tidak tega melihat Cassie yang menangis setiap malam.Tentu saja, Romano bisa tau semua pergerakan Cassie dari CCTV. Cassie sering melamun, terbangun saat malam dan menangisi Romeo. Jadi, pilihan terbaik adalah Romano kembali menggantikan Romeo, meskipun kakaknya tidak setuju.


"Tuan, tunggu saya. Kenapa anda tiba-tiba pulang?" "Memangnya anda sudah sembuh?" Sunny mengejar Romano karena pria itu pergi begitu saja meninggalkan Sunny sendirian di ruangan VIP.


"Tentu saja ingin bertemu anak dan istriku." kata Romano tanpa menengok.


'BRUK.' Karena terburu-buru, Sunny kembali tersandung, dan kali ini dia menabrak orang yang lewat di depannya.


Seorang pria yang tinggi tegap dengan wajah yang tidak asing. Pria itu menatap Sunny dengan pandangan yang sulit dijelaskan.

__ADS_1


"Sunny.. kamu kemana saja?" pria itu memegang tangan Sunny.


"Lepas, Pak. Di sini banyak orang, apa anda tidak takut jika nanti ada yang melihat?" Sunny yang tentu saja kenal dengan pria yang di tabrak nya itu, mencoba meronta melepaskan diri.


Romano berhenti mendengar percakapan Sunny. Dia berbalik dan membantunya melepaskan diri dari pria itu.


"Anda jangan macam-macam. Dia datang bersama saya." ancam Romano pada pria dihadapannya itu.


"Dia siapa, Sun?" tanya pria itu penasaran. Ada sedikit rasa cemburu ketika Romano menyembunyikan Sunny yang mungil di belakangnya.


"Dia itu.."


"Saya kekasihnya. Jadi, jangan ganggu dia lagi. Atau anda akan berhadapan dengan saya." potong Romano sebelum Sunny menyelesaikan kalimatnya.


Romano melemparkan tatapan tajamnya. Dia lalu merangkul Sunny untuk pergi.


Sesampainya di parkiran, Romano melepaskan Sunny. Dia lupa jika sopir Cassie melihat mereka. Romano memilih duduk di depan bersama sopir, sedangkan Sunny duduk di bangku belakang. Ini untuk menghindari sopir mereka bergosip.


"Tuan, terimakasih. Ternyata cuma casingnya saja yang seram, tapi hati tuan lembut sekali." ucap Sunny jujur. "Untung saja ada Tuan Romeo, kalau tidak, saya pasti akan menangis."


"Memangnya dia siapa?"


"Mantan suami saya, Tuan." jawab Sunny terbata.


"Kamu sudah menikah?" teriak Romano terkejut. Dia sampai menengok ke belakang.


"Iya, saya janda." Sunny meringis dengan malu-malu.


Sopir Cassie hanya diam melihat interaksi mereka. Kenapa Romeo bisa bicara dengan akrab dengan Baby sitter Sean? Apa mereka ada hubungan spesial?

__ADS_1


Sedangkan setelah mendengarkan jika Sunny adalah janda, dia langsung diam dan tidak banyak bicara lagi.


__ADS_2