
Cassie baru saja terbangun dari tidurnya untuk menyusui Baby Sean. Jam sudah menunjukan pukul 1 pagi. Ini sudah 2 kali Cassie terbangun karena Baby Sean menangis ingin menyusu. Cassie baru tau jika menjadi ibu itu ternyata sangat melelahkan.
Cassie menengok keluar jendela untuk melihat mobil Romeo. Mobil itu sudah terparkir di luar. Itu berarti Romeo sudah kembali ke rumah. Tapi dimana Romeo sekarang?
Pintu kamar Cassie di ketuk dari luar. Cassie berjalan untuk membukanya dan tampak Romeo berdiri dengan wajah kusut. Kemejanya juga sudah berantakan.
"Apakah Sean sudah tidur?" tanya Romeo sambil menerobos masuk ke dalam.
"Apa kamu ingin lihat Baby Sean?" Cassie menahan Romeo yang akan membuka connecting door. Bisa gawat jika Baby Sean tiba-tiba terbangun dan menangis.
"Ya, karena tadi ada yang bilang kalau aku tidak peduli dengan anakku."
"Siapa yang bilang?" Cassie tampak gugup. Kenapa Romeo bisa tau kalau dia baru saja bicara begitu pada Jo?
"Sudah lah, Rom. Nanti kalau dia bangun, aku yang repot." keluh Cassie. "Lebih baik kita istirahat saja."
Cassie mengalihkan perhatian Romeo. Lagipula dia sudah sangat lelah dan mengantuk. Cassie meninggalkan Romeo, dan beranjak ke ranjang.
Tapi dia masih memperhatikan Romeo yang tengah membuka pakaiannya. Cassie sudah berulang kali melihat Romeo bertelanjang dada, tapi tetap saja dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tergoda dengan dada bidang suaminya itu.
Romeo berjalan ke sofa. Dia sudah tidak mempunyai kamar lagi sekarang akibat ulah Reno. Mungkin hanya Romeo yang seperti di usir dari rumah sendiri. Dia juga harus tidur di sofa malam ini.
"Rom.." panggil Cassie.
"Ada apa?"
"Tidur lah di sini." Cassie memberi kode pada Romeo untuk tidur di sebelahnya.
__ADS_1
Romeo menahan ekspresi bahagianya. Jadi, Cassie ternyata benar-benar merindukan kehadiran Romeo? Romeo kira tadi Cassie hanya bercanda dengan Jo.
Tanpa buang waktu, Romeo naik ke ranjang dan tidur menghadap Cassie. Cassie menatap manik mata Romeo yang tampak begitu tegas dan dingin. Entah kenapa, meskipun tampaknya menyeramkan, tapi tatapan ini yang begitu Cassie rindukan.
"Romeo Smith.. aku ijinkan kamu tidur di sini setiap malam, dengan syarat kamu tidak boleh macam-macam padaku." ucap Cassie lirih.
"Apa yang di maksud dengan macam-macam?" tanya Romeo yang pura-pura polos.
"Mencium atau melakukan itu."
Romeo tersenyum kecil. Dia menarik Cassie ke dalam pelukannya sebelum wanita itu juga melarang dia untuk memeluknya. "Baik, aku tidak akan macam-macam dan akan memeluk saja."
Cassie dapat merasakan hembusan nafas Romeo pada pucuk kepalanya. Rasanya nyaman sekali bisa memeluk Romeo seperti ini. Rasa lelah Cassie karena mengurus Sean segera hilang menguap.
"Aw.." Romeo melepaskan Cassie ketika Cassie menempelkan tangannya pada bekas operasi di dada kiri Romeo.
"Cassie, apa kamu tau jika sedang hamil, calon ibu itu suka berhalusinasi?" tanya Romeo dengan serius.
"Memangnya ada yang seperti itu?"
"Ya,, itu juga bawaan bayi." "Kamu jadi melihat hal yang tidak benar." jawab Romeo asal.
Dia heran kenapa Cassie bisa melihat luka bekas kecelakaan di dada Romano. Apakah Romano selalu bertelanjang dada seperti dirinya? Atau apakah mereka melakukan sesuatu?
"Entah lah.. aku juga tidak peduli. Kita kan akan segera bercerai." Cassie akhirnya memilih untuk mengabaikan apa yang dia lihat. Semakin Cassie mencoba memahami suaminya, dia jadi semakin ragu dengan Romeo.
"Cass, apa sebelum Reno mengusirku ke Jepang, aku bersikap mesra padamu?" Romeo bertanya hati-hati.
__ADS_1
"Emm.. kamu jadi lebih hangat, tapi kamu selalu menghindar ketika aku ingin melakukannya." "Pasti kamu lebih senang menyentuh perempuan gila itu." Cassie mengomel karena ingat tentang peristiwa Fani lagi.
Romeo cukup lega mendengar perkataan Cassie. Itu artinya Romano memang tidak macam-macam pada Cassie.
"Cass, tidak usah membahas Fani. Aku sudah selesai dengannya."
"Lalu, seharian ini kamu ke mana?" tanya Cassie curiga. Seharusnya dia tidak perlu kepo, tapi dasar perempuan. Cassie kembali ingin tahu apa yang dilakukan Romeo.
"Kamu ingin jawaban jujur atau..."
"Tentu saja yang jujur." jawab Cassie cepat.
"Kalau begitu tutup mata mu dulu."
"Kenapa pake tutup mata sih. Ribet amat." omel Cassie. Tapi meski begitu dia tetap menutup matanya sesuai instruksi Romeo.
Romeo mengambil kesempatan itu untuk mencium Cassie. Dia tidak tahan melihat bibir Cassie yang begitu manis dan yang selalu menjadi candu untuknya. Apalagi mereka baru bertemu setelah sekian lama berpisah.
Cassie seharusnya marah karena Romeo melanggar apa yang baru saja dia katakan, yaitu tidak boleh mencium. Tapi Cassie sudah tidak peduli lagi. Dia tidak akan bisa menolak Romeo. Sejak pertama pun dia tidak bisa menolak ketika pria itu menyentuhnya.
"Anggap ini sebagai sebuah hukuman." ucap Romeo setelah tautan bibir mereka terlepas. "Aku baru saja bertemu dengan Juna Liem."
"Ju.. na?" tanya Cassie bingung. "Itu berarti kamu.."
"Ya, aku Romeo yang tidak pernah memikirkan anak. Aku juga Romeo yang manly dan yang kamu rindukan."
"Romeo!" pekik Cassie. "Aku membencimu! Aku tidak akan peduli denganmu lagi." Cassie yang malu bercampur kesal, memilih tidur membelakangi Romeo.
__ADS_1
Romeo yang sudah lelah, tidak ingin memperpanjang masalah dengan Cassie lagi. Dia harus beristirahat karena besok dia akan kembali bertemu dengan Juna Liem.