
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung berlari ke kamar VIP. Cassie bahkan mengabaikan kakinya yang sakit dan perutnya yang mulai kram.
Yang ada di pikirannya sekarang hanya melihat kondisi Dimas dan berharap Daddy nya baik-baik Saja.
Siska langsung menyambut kedatangan kedua anaknya dengan perasaan lega. Sejak tadi, Siska hanya ditemani oleh Bibi. Sulit sekali menelepon kedua anaknya. Ponsel Cassie mati, dan Reno juga tidak mengangkat teleponnya. Untung saja bibi melihat jika Reno-Cassie pergi bersama dengan sopir, jadi Siska bisa menghubungi sopir Reno.
"Mom, Dad kenapa?" tanya Cassie panik.
"Asam lambung Dad naik, dan tadi Dad sesak nafas. Untung saja, Mom dan Bibi bawa Dad tepat waktu." Siska mencoba menenangkan anak-anaknya. Kondisi Dimas memang belum stabil, karena asam lambung nya kronis, tapi Dimas jauh lebih baik daripada saat dia di bawa ke rumah sakit tadi.
Cassie-Reno mendekati Dimas. Cassie duduk di ranjang, lalu dia memegang tangan Dimas. "Dad.. cepat sadar, Dad.." ucap Cassie dengan perasaan sedih. "Dad belum lihat cucu Dad ini kan?" lanjut Cassie.
"Dan belum lihat aku menikah." imbuh Reno.
"Ya,, Dad harus hidup dengan baik dan sehat."
"Mom,, lebih baik Mom dan Cassie pulang saja. Biar Reno yang jaga Dad di sini." Reno menengok ke arah Siska yang tampak pucat dan lelah.
"Ya Mom. Mom pulang saja dengan Bibi. Cassie akan menunggu di sini dengan Reno." Cassie malah ikut-ikutan untuk berjaga di rumah sakit.
"No, Cass. Kamu istirahat di rumah saja. Kamu sedang hamil dan.." Reno tidak Jadi bicara karena ingat jika di situ ada Siska yang sedang menatapnya.
"Mom, pergi dulu ke mobil.. Cassie akan menyusul Mom sebentar lagi. Ada yang perlu Cassie katakan pada Reno." Cassie akhirnya mengalah untuk menemani Siska di rumah.
Siska dan Bibi keluar dari kamar di ikuti sopir Reno. Kini tinggal Reno dan Cassie. Reno memilih berbicara di balkon, supaya Dimas tidak akan dengar percakapan mereka.
"Ren, kamu tau kan alasan kenapa aku tetap diam soal Romeo?" tanya Cassie to the point.
__ADS_1
Reno mengangguk lemah. Dia begitu sedih karena adiknya harus mengalami hal tragis seperti ini. Reno punya pilihan, sedangkan Cassie tidak.
"Sorry, Cass.. aku tidak mengerti posisi mu." Reno menarik Cassie untuk memeluk adiknya. Dia tidak menyangka ternyata selama ini Cassie yang begitu manja, sekarang malah berubah jadi sangat dewasa.
"Aku akan urus rumah tangga ku sendiri, Ren. Jadi, kamu hanya perlu mendukung aku." Cassie memandang Reno yang wajahnya kini tampak muram.
"Aku akan selalu bantu kamu, Cass. Sekarang, kemana pun kamu mau pergi, kamu bisa hubungi aku. Aku akan menggantikan peran dari Romeo."
"Thank you, Ren. Sekarang aku pergi dulu. Kamu baik-baik di sini. Tolong jaga Dad ya.." Cassie mengurai pelukan Reno.
Dia cukup lega sekarang karena Reno sudah tau masalahnya. Setidaknya Cassie tidak menyimpan sendiri masalah hidupnya. Ada Jo dan Reno yang bisa menemani Cassie pada masa kehamilan ini.
*
*
*
"Cass, kamu beritahu Romeo tentang kondisi Dad." ucap Siska memecah keheningan.
Cassie gelagapan. Dia tidak ingin menghubungi pria itu. Apa yang di pikirkan Romeo jika dia menghubungi Romeo lebih dulu?
"Cass.." panggil Siska lagi.
"Eh, iya mom.." Cassie mengambil ponselnya dan menekan tombol on.
Siska terus menatap Cassie sehingga membuat Cassie tidak dapat menghindari situasi ini. Sungguh sial sekali Cassie. Dia selalu tidak punya pilihan seperti saat ini.
__ADS_1
Telepon berdering cukup lama. Cassie berdoa semoga Romeo tidak mengangkatnya. Tapi, doa Cassie tidak terjawab karena ternyata Romeo menerima teleponnya.
"Halo" terdengar suara Romeo yang begitu lesu.
"Rom, kamu kenapa?" tanya Cassie tanpa sadar. Tidak biasanya Romeo terdengar lemah seperti itu.
"Tidak apa-apa. Kenapa Cass?"
"Aku di suruh Mom untuk menelepon mu. Dad masuk rumah sakit karena asam lambung nya naik."
"Bagaimana keadaan nya?"
"Belum tau karena masih menunggu hasil. Reno yang menjaga di sana. Kamu yakin, tidak apa-apa? " Cassie merasa tidak enak karena suara Romeo terdengar beda dari biasanya.
"Apa kamu benar-benar mengkhawatirkan ku?"
"Baby nya mengkhawatirkan mu. Sudah ya.. minum obat kalau sakit.." Cassie ingin cepat-cepat mengakhiri percakapannya dengan Romeo sebelum pria itu besar kepala.
"Cass.. tunggu.." "Aku merindukan mu."
Deg. Kata-kata Romeo barusan membuat jantung Cassie berdetak lebih cepat. Kenapa Romeo terdengar begitu tulus?
"Apa kamu merindukan ku?" lanjut Romeo.
"Aku..." Cassie terdiam sejenak. Dia menengok ke arah Siska dan Bibi yang kompak memandangnya. Mereka tampaknya mengerti arah pembicaraan suami istri yang sudah berpisah selama satu bulan lebih itu.
"Baby ini merindukan mu." Cassie dengan cepat menekan tombol off setelah mengatakan itu.
__ADS_1
"Sayang, sabar ya.. Romeo sebentar lagi akan pulang." Siska mengelus rambut Cassie dengan prihatin. Kasihan sekali Cassie yang harus berpisah dengan suaminya ketika sedang hamil seperti ini.