
Proses operasi Caesar berjalan lancar. Cassie dapat mendengar suara tangisan bayinya yang begitu kencang. Benar kata Siska, Cassie tidak merasakan sakit apapun. Hanya hatinya yang sakit. Terlebih ketika Dokter Mega membawa bayi laki-laki yang masih merah itu untuk diperlihatkan kepada Cassie.
"Selamat Nona, Anak anda lahir sehat dan lengkap."
Cassie menangis sesenggukan. Emosinya yang tersimpan selama beberapa bulan ini terluap pada ruang operasi.
Dokter Mega bingung dengan reaksi Cassie. Tangisan Cassie bagaikan orang yang sedih, bukan orang yang senang karena baru mendapatkan anak.
"Nona, saya akan bersihkan dulu babynya."
Dokter Mega menyerahkan baby Cassie pada perawat.
"Dokter, apa di luar ada suami ku?" tanya Cassie dengan masih terisak. Ini pertanyaan konyol, tapi Cassie berharap Romeo akan datang.
Dokter Mega sepertinya tau apa yang Cassie khawatirkan. Dia pasti sedih karena Romeo tidak muncul. Entah ada apa dengan pasangan muda ini. Beberapa waktu lalu Romeo menanyakan keadaan Cassie padanya. Dia bertanya tentang bayi mereka juga kapan perkiraan anak mereka lahir. Seharusnya Romeo bertanya hal itu pada Cassie, bukan dirinya.
"Nona, saya dengar Tuan Romeo berada di Jepang. Jadi, pasti dia sedang dalam perjalanan." hibur Dokter Mega.
"Dok, apakah hanya aku yang melahirkan tanpa suami di samping ku?"
"Tidak, nona. Ada banyak yang seperti anda." "Saya tau ini pasti sulit, tapi anda harus percaya pada suami anda, jika sebenarnya dia peduli pada anda." Dokter Mega memberanikan diri untuk menasehati Cassie. Meskipun tidak kenal dengan Romeo, tapi Dokter Mega bisa merasakan perhatian Romeo pada Cassie. Karena itu dia bingung ada masalah apa dengan mereka berdua. Mereka tampak saling mencintai, tapi seperti ada tembok besar di tengah Cassie-Romeo yang selalu menghalangi mereka. Apa ini kisah cerita cinta baru? Bukan kisah cinta Romeo-Juliet, tapi Romeo-Cassie.
"Maaf Dokter, kasurnya jadi basah karena ingus saya." ucap Cassie terbata.
Dokter Mega yang sedang prihatin pada Cassie, tentu saja tertawa mendengar ucapan polos wanita yang baru saja menjalani operasi itu.
"Nona, maaf,, saya bantu anda bersihkan ini." Dokter itu mengambil tissue, lalu membantu Cassie mengelap air mata sekaligus ingusnya.
"Sabarlah, nona..Saya lihat anda orang yang kuat. Apalagi sekarang ada si kecil. Itu akan jadi kekuatan terbesar untuk anda."
"Terima kasih, Dok karena sudah membantu selama 9 bulan ini. Saya akan minta Reno untuk kirimkan dokter hadiah."
__ADS_1
Cassie jauh lebih tenang setelah mendengar Dokter Mega. Cassie lupa jika di depan ada keluarga yang lain sudah menunggunya.
*
*
*
"Selamat sayang.." Siska memeluk Cassie yang saat ini sudah berada di rawat inap.
"Makasi Cassie karena sudah memberikan cucu untuk Daddy." Dimas juga memeluk Cassie bersamaan dengan Siska.
"Sudah, jangan seperti teletubies." protes Reno. "Kalian bisa membuat luka Cassie makin lama sembuh." lanjut nya.
Dimas-Siska melepaskan Cassie. Mereka lupa kalau Cassie baru saja operasi dan pasti masih sakit. Mereka terlalu senang menyambut kehadiran cucu pertama mereka.
"Selamat ya anak manja.. Sekarang kamu sudah punya anak." giliran Reno memberi semangat untuk Cassie.
Dimas dan Siska saling berangkulan. Mereka menangis terharu karena melihat Cassie yang sedang menyusui anaknya. Mereka tidak menyangka jika waktu berjalan begitu cepat. Cassie yang mereka manja kan, sekarang sudah menjadi seorang Ibu.
"Kalian lebay sekali." komplain Reno dengan lirih.
"Dad juga akan menangis jika melihat istri mu melahirkan." "Jadi, kapan kamu akan menikah?" sindir Dimas.
"Dad, tidak usah balas dendam." ucap Reno lagi.
Dimas memang tidak mau kalah.
"Sayang, ngomong-ngomong.. siapa nama anak mu?" tanya Siska penasaran.
"Namanya Sean Alexander Sebastian." jawab Cassie sambil menatap Baby nya yang sedang kesulitan menyusu.
__ADS_1
"Nama yang bagus." "Baby Sean.." ucap Dimas bahagia. "Welcome Baby Sean.."
"Jadi, dua bulan ini, kamu merenung hanya untuk memikirkan nama anak mu saja?" ejek Reno.
"Jangan menghina Ren. Kamu tidak mengerti ya perasaan ibu hamil?" omel Cassie.
Entah kenapa mood Cassie juga mulai membaik setelah Baby Sean mulai mau menyusu. Untung saja bibi selalu memberikan sayur daun katuk sehingga ASI Cassie juga lancar.
"Untuk urusan souvenir aku sudah minta sekretaris ku untuk menyiapkannya. Dan soal kamar Baby Sean, kamu tidak perlu khawatir. Kamar kalian sudah aku rombak." kata Reno sambil tersenyum pada Cassie.
"Kamu memang bisa diandalkan, Ren." Cassie meraih tangan Reno dengan satu tangannya yang bebas.
"Ya, kamu tidak akan kekurangan kasih sayang, walaupun tanpa Romeo."
"Maksud kamu apa Ren?" Dimas terperangah mendengar ucapan Reno.
Reno menyadari kebodohannya. Dia keceplosan mengucapkan itu.
"Maksudnya, selama Romeo belum kembali." imbuh Cassie yang juga mulai dag dig dug.
Tapi untungnya Dimas percaya. Dimas sedang berfokus pada Baby Sean, jadi dia tidak terlalu memikirkan lagi ucapan Reno dan Cassie.
Cassie menatap kakaknya dengan kesal. Kalau tadi Dimas sampai tau kebenaran yang Cassie tutupi selama ini, Cassie yakin Daddy nya itu bisa langsung terkena serangan jantung.
"Aku akan menunggu mu di sini." Reno berinisiatif untuk menemani Cassie di rumah sakit.
"Tidak usah, Ren. Kamu istirahat saja. Bibi akan ke sini." jawab Cassie.
"Wah, dia langsung jadi dewasa, Dad." Reno merasa takjub dengan perubahan Cassie. Biasanya Cassie yang akan memaksa seseorang untuk menemaninya, tapi kini dia malah mengusir orang yang berbaik hati untuk menemaninya.
"Karena aku butuh ketenangan, Reno. Jangan Ge er."
__ADS_1
Dimas dan Siska geleng-geleng kepala melihat kedua anaknya yang terus berdebat. Tapi, mereka senang karena Cassie sudah terlihat lebih ceria sekarang. Mungkin benar kata Reno, Cassie hanya takut melewati persalinan ini.