Married With Romeo

Married With Romeo
Stefani


__ADS_3

Romano menatap keluar balkon dengan takjub. Dari balkon kamarnya, Romano bisa melihat istana Sebastian dan juga deretan mobil mereka. Saudara kembarnya memang beruntung mendapat mertua seperti Dimas Sebastian. Setelah 3 bulan menyamar, Romano sedikit iri dengan kebersamaan keluarga itu. Rasanya dia juga ingin mendapat perhatian keluarga yang utuh seperti keluarga Cassie. Tapi, jika melihat istri Romeo yang ceroboh,berisik, dan manja Romano tidak jadi iri pada Romeo.


Ya, semakin besar kandungan Cassie, dia semakin manja. Romano bahkan harus memijit kaki Cassie setiap malam yang sudah mulai bengkak.


"Sayang..kamu ngapain sih?" Cassie berjalan dengan kesusahan menghampiri Romano. Dia memeluk Romano dan berjinjit untuk menciumnya, tapi Romano menahan Cassie dengan lebih dulu mencium keningnya.


Ini tantangan terbesar selama 3 bulan ini. Cassie begitu bucin pada Romano. Tapi, dia tidak mungkin melakukan lebih dari sekedar memeluk, memijit dan mencium kening. Romano menganggap ini sebagai jasa untuk menghibur iparnya itu.


"Cassie, bukannya kamu akan belanja perlengkapan bayi dengan Mom?"


"Oh iya..aku lupa." Cassie menepuk jidatnya.


"Aku antar kamu ke rumah Mom." Romano memapah Cassie untuk pergi ke rumah Siska di sebelah.


"Rom.. kamu yakin tidak mau ikut?" tanya Cassie sebelum Romano kembali ke rumah.


"Hari ini aku ada meeting lewat zoom.."


Sebenarnya Romano hari ini ingin berdua saja dengan Fani. Dia sudah lama sekali tidak bertemu dengan kekasihnya itu.


"Aku akan belikan kamu es krim nanti." janji Cassie.


Romano tersenyum. Dia mengelus punggung Cassie, lalu segera pergi dari situ. Ada banyak yang harus dia siapkan untuk menyambut kedatangan Fani.

__ADS_1


*


*


*


Fani memasuki gerbang dengan wajah takjub. Dia tidak menyangka jika kekasihnya merupakan orang yang sangat kaya. Dia menekan bel rumah dan menunggu beberapa saat.


"Halo baby..." Romano segera memeluk Fani yang tampil begitu cantik dan seksi. Wanita itu juga sengaja menggoda Romano dengan menggunakan pakaian mini dan parfum yang memikat sehingga Romano kini tidak ingin melepaskan pelukannya.


"Rom.. kamu kemana saja?" Fani melepaskan Romano dengan sedikit paksaan karena Romano tampak senang sekali menjelajahi leher jenjang Fani.


"Oke.. Oke.. ayo kita masuk.. aku sudah siapkan makan yang spesial untuk mu." Romano menggandeng Fani ke meja makan. Di sana dia sudah menyiapkan steak premium dan juga sebotol wine.


"Silakan menikmati, tuan putri." Romano membungkukkan badannya seperti pelayan restoran, lalu memasangkan napkin pada pangkuan Fani.


Setelah itu, dia sendiri juga duduk di samping Fani.


Fani mulai makan dengan gaya nya yang anggun. Dia sesekali menatap Romano sambil tersenyum.


"Sayang, itu apa?" Mata Fani tidak sengaja menangkap sebuah foto pernikahan di ruang tengah. Dia melihat wanita yang menjambaknya di mall bersanding bersama dengan kekasihnya. Jadi, apa yang di katakan Cassie benar?


Romano menelan ludahnya. Dia sudah prepare kedatangan Fani dengan baik, dengan menyingkirkan ancaman terbesar, yaitu pembantu kesayangan Cassie. Tapi dia justru lupa untuk menyingkirkan hal kecil seperti foto pernikahan kakaknya itu.

__ADS_1


"Eh, itu.."


"Istri kamu? Jadi kamu benar sudah menikah dengan dia?" tanya Fani yang mulai kesal.


"Ya, itu.. aku tidak bisa jelaskan sekarang. Tapi, kamu satu-satu nya yang aku cintai, Stefani.." Kata Romano terbata.


Romano sudah siap dengan konsekuensi yang akan dia dapatkan. Dia bahkan mengambil pisau di piring Fani, dan menyingkirkannya jauh-jauh, supaya Fani tidak anarki. Tapi, di luar dugaannya, Fani malah tersenyum.


"Kamu tidak marah?" tanya Romano bingung.


Fani menggeleng. Dia membuka wine yang ada di meja, lalu menuangkan pada gelas Romano dan pada gelasnya sendiri.


"Romano Smith, kenapa aku harus marah? Jika kamu mencintai ku, bukannya kamu akan dengan mudah menceraikannya?" Kini Fani memberikan gelas itu pada Romano.


Romano menerima gelas yang diberikan Fani. Dia langsung meminumnya sambil memandang lekat Fani. Dia heran kenapa begitu mudahnya Fani menerima semua ini? Romano tentu ingat bagaimana marahnya Cassie yang mengira Romeo selingkuh.


Fani sadar jika Romano sejak tadi menatapnya. Dia bergerak ke arah Romano, dan duduk di pangkuannya. Tidak hanya itu, Fani mengambil botol wine, lalu menuangkan pada gelas Romano yang sudah kosong. Gerakan Fani yang begitu dekat membuat Romano menegang. Baju Fani yang kurang bahan juga sedikit mengekspos bagian dalam tubuhnya sehingga membuat Romano harus menegak wine nya untuk mengatasi rasa gugupnya.


Fani tersenyum. Dia memang tidak marah pada Romano, tapi dia ingin membuat pria itu mabuk sehingga Fani bisa memiliki Romano sepenuhnya.


"Aku tau kamu sangat mencintai ku." Fani memegang pipi Romano dan mengusapnya dengan lembut.


"Tapi aku belum tentu akan menceraikan Cassie, karena dia sangat menarik." Romano melirik ke arah Fani.

__ADS_1


Mendengar pengakuan Romano, itu membuat Fani emosi. Dia lalu mengambil gelasnya dan meminumnya dengan sekali tegak.


__ADS_2